Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Khofifah Ungkap Titik Rawan Dugaan Keracunan MBG Sidoarjo
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa saat kunjungi pasien korban keracunan MBG di RS Siti Hajar Sidoarjo. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Gubernur Jatim Khofifah menyoroti keterlambatan pengiriman makanan sebagai faktor yang perlu didalami dalam dugaan keracunan MBG di Sidoarjo.
  • SPPG yang sama melayani 18 titik; makanan yang dikirim pagi dan dikonsumsi sekitar pukul 10.00 WIB relatif aman, sedangkan pengiriman lebih siang ditemukan masalah.
  • Dinas Kesehatan Sidoarjo mencatat 666 pasien hingga 3 September 2026 pagi; pemerintah mendorong pembenahan memasak, distribusi, konsumsi, monitoring, dan pengawasan MBG.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
sekitar pukul 05.00 WIB

Makanan MBG selesai dimasak di SPPG.

pukul 06.00 WIB

Dinas Kesehatan Sidoarjo mencatat total pasien dugaan keracunan MBG mencapai 666 orang.

sekitar pukul 07.00 WIB

Makanan dikirim ke sejumlah titik penerima manfaat yang kemudian tidak mengalami persoalan serupa.

sekitar pukul 10.00 WIB

Penerima manfaat di titik pengiriman awal mengonsumsi makanan dan dilaporkan relatif aman.

sekitar pukul 11.00 WIB atau lebih

Makanan dikirim lebih terlambat ke titik penerima manfaat yang kemudian ditemukan bermasalah.

sekitar pukul 12.30 hingga 13.00 WIB

Makanan dari pengiriman terlambat dikonsumsi oleh penerima manfaat.

Kamis (3/9/2026)

Khofifah mengungkap perbedaan waktu pengiriman dan konsumsi sebagai faktor yang perlu didalami dalam evaluasi dugaan keracunan MBG di Sidoarjo.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Ratusan penerima Makan Bergizi Gratis di Sidoarjo mengalami dugaan keracunan. Perbedaan waktu pengiriman dan konsumsi makanan dari SPPG menjadi salah satu faktor yang sedang didalami.
  • Who?
    666 pasien tercatat mendapat penanganan medis; di antaranya santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Dinas Kesehatan Sidoarjo, SPPG, rumah sakit, dan tenaga kesehatan terlibat dalam penanganan.
  • Where?
    Kejadian berlangsung di sejumlah titik penerima manfaat MBG di Sidoarjo, Jawa Timur. Khofifah menyampaikan temuan saat berada di RS Siti Hajar Sidoarjo.
  • When?
    Data 666 pasien dicatat hingga Kamis, 3 September 2026 pukul 06.00 WIB. Khofifah menyampaikan keterangan pada Kamis, 3 September 2026.
  • Why?
    Penyebab pasti dugaan keracunan per saat ini masih belum diketahui. Makanan yang dikirim sekitar pukul 11.00 WIB atau lebih dan dikonsumsi pukul 12.30–13.00 WIB ditemukan bermasalah, berbeda dari pengiriman lebih awal.
  • How?
    Makanan dari SPPG yang sama dimasak sekitar pukul 05.00 WIB. Pengiriman sekitar pukul 07.00 WIB dan konsumsi pukul 10.00 WIB relatif aman; pemerintah melakukan evaluasi pada memasak, distribusi, konsumsi, monitoring, dan pengawasan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Ratusan santri di Sidoarjo diduga sakit setelah makan Makan Bergizi Gratis. Bu Khofifah melihat makanan yang dikirim pagi dan dimakan jam 10 aman. Makanan yang datang lebih siang lalu dimakan siang ditemukan masalah. Sekarang 666 orang sudah ditangani dokter. Pemerintah masih mencari penyebabnya dan memantau anak-anak yang dirawat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Temuan mengenai perbedaan waktu distribusi dan konsumsi memberi dasar yang lebih jelas bagi evaluasi pelaksanaan MBG secara menyeluruh. Fakta bahwa mayoritas titik penerima dari SPPG yang sama berjalan relatif baik turut membantu mempersempit fokus pemeriksaan, sementara pemantauan pemerintah serta penanganan rumah sakit menunjukkan perhatian berkelanjutan terhadap para pasien.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sidoarjo, IDN Times - Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa mengungkap temuan penting terkait dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami ratusan santri, termasuk santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah keterlambatan pengiriman makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ke titik penerima manfaat.

Khofifah mengatakan, SPPG yang sama melayani sedikitnya 18 unit penerima manfaat. Dari 18 titik tersebut, mayoritas berjalan relatif aman. Perbedaan mencolok ditemukan pada waktu makanan dikirim dan dikonsumsi.

“Tadi saya tanya, ini ada Kadinkes, ada Kakan Kemenag. Yang mendapatkan manfaat dari SPPG yang sama itu ada 18 unit. Dari 18 unit, yang lain relatif semua berjalan baik,” ujarnya saat ditemui di RS Siti Hajar Sidoarjo, Kamis (3/9/2026).

Khofifah membeberkan, makanan yang selesai dimasak sekitar pukul 05.00 WIB kemudian segera dikirim sekitar pukul 07.00 WIB dan dikonsumsi penerima manfaat sekitar pukul 10.00 WIB. Pada titik-titik tersebut, tidak ditemukan persoalan serupa.

Namun, kondisi berbeda terjadi pada titik penerima manfaat yang mendapatkan makanan lebih terlambat. Makanan yang baru dikirim sekitar pukul 11.00 WIB atau lebih kemudian dikonsumsi sekitar pukul 12.30 hingga 13.00 WIB.

“Inilah yang kemudian ditemukan ada masalah,” kata Khofifah.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena makanan yang disiapkan berasal dari SPPG yang sama dan menggunakan proses serta format menu yang sama. Perbedaan yang terlihat, kata Khofifah, terdapat pada rentang waktu antara makanan selesai dimasak, dikirim, hingga dikonsumsi oleh penerima manfaat.

“Dimasak yang sama, dengan format yang sama, tapi ada yang pengirimannya itu relatif lebih awal dan itu aman. Tapi ketika kemudian pengirimannya terlambat, ini yang kemudian menjadikan masalah,” jelasnya.

Meski demikian, Khofifah tidak menyebut keterlambatan pengiriman sebagai satu-satunya penyebab pasti dugaan keracunan. Temuan tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu didalami dalam proses evaluasi dan pemeriksaan untuk memastikan secara menyeluruh sumber masalah dalam kasus ini.

Khofifah menegaskan, seluruh pihak harus melakukan pembenahan di setiap lini pelaksanaan program MBG. Tidak hanya proses memasak, tetapi juga pengiriman, waktu konsumsi, monitoring hingga pengawasan di titik penerima manfaat harus dipastikan berjalan sesuai standar.

“Jadi memang kita harus terus berbenah. Semua lini melakukan monitoring, pengawasan dan sekaligus merekomendasikan tidak hanya kepada BGN, tetapi kepada SPPG setempat,” tegasnya.

Kasus dugaan keracunan MBG di Sidoarjo menjadi perhatian serius setelah ratusan penerima manfaat mendapatkan penanganan medis. Dinas Kesehatan Sidoarjo mencatat total pasien mencapai 666 orang hingga Kamis (3/9/2026) pukul 06.00 WIB.

Khofifah juga memastikan pemerintah terus memantau kondisi para pasien yang masih menjalani perawatan. Ia menyampaikan apresiasi kepada rumah sakit dan seluruh tenaga kesehatan yang menangani para korban. “Anak-anak yang dirawat juga mudah-mudahan terus sehat. Semua rumah sakit yang memberikan penanganan, kami menyampaikan terima kasih,” pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article

Seompreng MBG, 592 Pasien02 Sep 2026, 22:44 WIB