Jombang, IDN Times - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terpilih, KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin mengungkap sejumlah angka yang menurutnya memiliki kecocokan unik dengan perjalanan hidupnya saat menyampaikan sambutan penutupan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Senin (31/8/2026).
Gus Kikin secara khusus menyinggung angka delapan yang muncul dalam sejumlah bagian penting dalam kehidupannya. Mulai dari bulan kelahiran, tahun kelahiran, hingga amanah sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.
Ia mengatakan dirinya lahir pada tanggal 17, yang jika dijumlahkan menjadi angka delapan. Ia juga lahir pada bulan Agustus atau bulan kedelapan dan tahun 1958. Tak hanya itu, Gus Kikin menyebut dirinya merupakan pengasuh Tebuireng ke-8. "Saya tanggal lahir saya 17, Pak, jumlahnya 8. Bulannya juga 8. Tahunnya juga '58. Dan saya kebetulan diamanahi menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng yang ke-8," ujar Gus Kikin di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan para peserta Muktamar ke-35 NU.
Gus Kikin kemudian mengaitkan deretan angka tersebut dengan Presiden Prabowo yang hadir dalam pembukaan sekaligus penutupan Muktamar ke-35 NU. Menurutnya, terdapat sejumlah "kecocokan" yang membuatnya merasa memiliki hubungan unik dengan momentum tersebut.
"Jadi rasanya enggak berlebihan saya cocok-cocokkan ini cocok dengan beliau. Semuanya cocok, mungkin tinggal nasibnya yang agak beda," kelakarnya.
Di luar angka tersebut, Gus Kikin juga menyoroti sejumlah catatan khusus dalam Muktamar ke-35 NU. Salah satunya adalah kehadiran Presiden Prabowo yang tercatat dua kali dalam satu rangkaian Muktamar, yakni saat pembukaan pada 27 Agustus dan penutupan pada 31 Agustus 2026.
Menurut Gus Kikin, momentum tersebut menjadi sesuatu yang spesial dalam sejarah pelaksanaan Muktamar NU. "Ini sangat spesial, tadi sudah disampaikan Gus Ipul, dua kali Presiden Republik Indonesia menghadiri acara ini. Pembukaan hadir dan penutupan hadir, baru kali ini ini terjadi," katanya.
Gus Kikin juga mengungkap sisi lain dari padatnya agenda Muktamar. Ia mengaku para peserta harus mengikuti rangkaian pembahasan hingga larut malam bahkan berlanjut sampai pagi. "Jadi kita akhirnya break hanya shalat subuh, habis itu kita lanjut lagi dan berakhir tadi kurang lebih menjelang jam 8 pagi," ujarnya.
Ia bahkan menyebut dirinya baru sekitar dua jam menyandang amanah sebagai Ketua Umum PBNU ketika harus menyampaikan sambutan penutupan Muktamar. "Makanya kemudian saya sampaikan ini ketua umum yang baru dan barunya baru 2 jam saja," kata Gus Kikin disambut suasana hangat peserta.
Meski mengaku belum banyak hal yang dapat disampaikan karena baru menerima amanah, Gus Kikin menilai Muktamar ke-35 NU memiliki catatan penting, terutama dari sisi kebersamaan para muktamirin. Ia mengaku heran melihat peserta tetap bertahan mengikuti persidangan hingga pagi hari.
"Kita kalau sampai pagi, Pak, itu tempat duduk itu hampir masih penuh juga. Nah ini yang mengherankan saya, ini kok betah ini yang enggak punya program ikut juga duduk mendengarkan," tuturnya. Menurut Gus Kikin, antusiasme tersebut menjadi gambaran kuatnya semangat kebersamaan dalam Muktamar ke-35 NU.
Dalam kesempatan itu, Gus Kikin juga mengungkap rencana untuk kembali menghidupkan pemikiran Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari melalui Qanun Asasi NU. Ia menyebut naskah tersebut ditulis pada 1926 dan diselesaikan pada 1928.
Menurutnya, Qanun Asasi dapat menjadi pedoman atau roadmap bagi perjalanan NU, baik dalam aspek manhaj, fikrah, maupun harakah. "Kalau diimplementasikan di dalam kegiatan NU, itu merupakan roadmap, itu merupakan pedoman, manhaj, fikrah, maupun harakah NU," pungkasnya.
