Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kesaksian Ibu Korban Pemerkosaan oleh Ayah, Paman, dan Kakek di Madiun
W (44) ibu korban pemerkosaan ayah, paman dan kakek saat datangi Unit PPA Polres Madiun/ IDN Times/ Istimewa

Madiun, IDN Times - Ibu Kandung AP korban pemerkosaan ayah, paman, dan kakek, berinisial W, mendatangi Mapolres Madiun pada Kamis (26/10/2023) untuk memberikan keterangan kepada penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).

1. Ibu korban ungkap perilaku mantan suaminya yang tempramental

Ilustrasi (Unsplash.com/Sydney Sims)

Usai berjam jam berikan keterangan kepada penyidik, perempuan 44 tahun tersebut mengaku tidak menyangka jika anak perempuanya AP (17) diperlakukan tidak senonoh oleh keluarganya sendiri yang semestinya melindunginya.

W mengakui, dirinya pernah menjadi istri dari R yang dikarunia seorang anak perempuam berinisial AP. Hingga kemudian bercerai dan menikah lagi dengan seorang pria baru dan tinggal di Tulungagung. W juga mengaku memilih pisah dari R karena tidak tahan dengan kelakuan mantan suaminya itu.

"Saya kerap mengalami kekerasan fisik selama dua tahun tanpa alasan, sampai anak saya lahir umur 1,5 tahun. Tak tahan kemudian saya pilih cerai, sedangkan anak saya tinggal bersama ayahnya di Madiun," kata W.

2. Ibu korban pernah diancam akan dibunuh

Ilustrasi pembunuhan (IDN Times/Arief Rahmat)

Selain menerima kekerasan fisik, W mengungkapkan juga mendapat ancaman pembunuhan dari R. Sembari menunjukkan bukti luka bekas kekerasan yang pernah dilakukan oleh mantan suaminya itu.

"Sampai sekarang, ada bekas luka pukulan di pelipis bagian kanan saya. Orangnya tempramental, sulit mengendalikan emosi," ungkapnya.

3. Korban kerap telepon ibunya dapat perlakuan kasar

ilustrasi kekerasan anak

Dia juga menceritakan, kalau sang anak kerap kali telepon dan mengeluhkan perilaku keluarganya di Madiun ini. "Setiap telepon, AP bercerita kalau habis dapat perlakuan kasar dari ayah, kakek dan paman. Saya sakit hati, prihatin, namun tidak bisa berbuat banyak, tidak punya cukup bukti," ungkapnya.

Meski anak kandung, R tega berlaku kasar kepada AP dan tidak pernah memberikan perhatian layaknya orang tua. Selain itu AP juga tidak disekolahkan ke jenjang lebih tinggi usai lulus SMP.

"Harapan saya, mereka dapat diberikan hukuman seberat beratnya," pungkasnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article