Kementerian PPPA Tawarkan Pendampingan Korban Keracunan MBG Sidoarjo

- Menteri PPPA Arifah Fauzi menjenguk korban keracunan MBG di RSUD Notopuro, Sidoarjo, bersama Wakil Kepala BGN dan Wakil Menteri Agama.
- Kementerian PPPA siap menyediakan pendampingan trauma bagi korban yang membutuhkan, melalui koordinasi dengan Pemkab Sidoarjo dan Pondok Pesantren Manbaul Hikam.
- Keracunan massal terjadi setelah siswa dan santri menyantap MBG pada 1 September 2026; ratusan korban dirujuk ke rumah sakit dan masih ditangani hingga 4 September.
Sidoarjo, IDN Times - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesi, Arifah Fauzi bersama Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Meyjen TNI (Purn) Trenggono dan Wakil Menteri Agama (Wamenag), Romo Muhammad Syafi’i menjenguk korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di RSUD Notopuro, Sidoarjo, Jumat (4/9/2026). Arifah memastikan Kementerian PPPA akan memberi pendamping kepada korban.
Arifah mengatakan, selama ini pihaknya telah memberi edukasi kepada penerima MBG tentang pentingnya makanan bergizi. Sebab, selama ini anak-anak hanya senang dengan makanan fast food.
"Jadi, selama ini kita memberikan edukasi tentang makanan bergizi untuk anak-anak. Kan biasanya anak-anak maunya makanan-makanan fast food. Kita memberikan informasi dan edukasi bahwa makanan yang dimakan adalah makanan yang bergizi," ujarnya di RSUD Notopuro.
Setelah insiden keracunan itu pihaknya khawatir, korban mengalami trauma. Untuk itu, ia memastikan bila ada korban yang membutuhkan pendampingan, pihaknya siap memberikan.
"Nah, dari kasus ini mungkin yang akan kita lakukan adalah pendampingan bila dibutuhkan. Karena ada anak-anak yang mengalami trauma, ada juga yang tidak," ucapnya.
Kementerian PPPA bakal berkordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dan Pondok Pesantren untuk memberi pendampingan pads korban. Terapi, bila lembaga pendidikan mampu memberi pendampingan sendiri, ia pun mempersilakan.
"Nanti, atas seizin kita, kita akan berkoordinasi dengan Pak Bupati dan juga dengan pondok pesantren. Kalau memang pihak pondok pesantren bisa melakukan pendekatan, seperti trauma healing untuk anak-anak, ya," ujarnya.
"Alhamdulillah. Tetapi seandainya masih membutuhkan, kami siap untuk berkolaborasi agar anak-anak ini siap kembali ke sekolah," pungkas dia.
Sekadar diketahui, petaka keracunan makanan massal para siswa dan santri Ponpes Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo ini terjadi usai menyantap menu MBG pada Selasa 1 September 2026, saat jam makan siang pukul 13.00 WIB. Kemudian para siswa mayoritas SMP dan SMA ini mengeluhkan muntah dan bertumbangan setelah Asar sekitar pukul 15.00 WIB.
Tim dari Dinkes kemudian merujuk ratusan siswa itu ke sejumlah rumah sakit mulai Selasa sore hingga Rabu 2 September 2026 dan berlanjut Kamis 3 September 2026. Penanganan masih dilakukan hingga hari ini, Jumat 4 September 2026.
















