Surabaya, IDN Times - Hardjo Mislan menjadi Calon Jemaah Haji (CJH) tertua di Embarkasi Surabaya pada pelaksanaan ibadah haji tahun 2024. Usianya kini sudah menginjak 109 tahun. Kakek kelahiran 2 Juli 1914 ini tergabung dengan kloter 19 asal Kabupaten Ponorogo. Ia dijadwalkan berangkat ke Arab Saudi pada Kamis (16/5/2024).
Uniknya, pria yang akrab disapa Mislan ini mendaftar haji pada usia yang terbilang sudah sangat lanjut yakni 104 tahun saat 2019 lalu. Ia baru tergerak hatinya untuk mendaftar haji ketika melaksanakan ibadah umrah tahun 2017.
“Saat itu 2017, saya pertama kali melihat Kabah ketika umrah ,” kenangnya.
Ketika umrah itu, Mbah Mislan begitu takjub dan hatinya bergetar melihat secara langsung rumah Allah di Kota Suci Makkah. Sepulang umrah, Mbah Mislan pun memantabkan hati untuk mendaftar haji.
“Ketika saya sampai di rumah sepulang umrah, saya mantapkan niat untuk mendaftar haji,” tuturnya.
Keinginan itu pun ia sampaikan kepada anaknya. Bersama anaknya, Mislan mendaftar haji di Kantor Kemenag Kabupaten Ponorogo. Mbah Mislan begitu bersyukur setelah 5 tahun mendaftar akhirnya mendapat panggilan untuk berangkat ke tanah suci tahun ini bersama anak, menantu, dan besannya.
Untuk mempersiapkan stamina fisiknya, setiap hari Mbah Mislan rajin berolahraga dan menjaga pola makan. Biasanya ia jalan kaki agar kondisi tubuh tetap bugar.
"Ya setiap pagi jalan kaki dari rumah sampai depan jalan kemudian balik lagi. Supaya sehat," imbuhnya.
Kakek yang memiliki 7 cucu ini mempunyai resep agar tetap sehat sampai dengan usia 1 abad lebih. Salah satunya rajin melakukan qiyamul lail atau salat tahajud.
“Kalau Allah SWT sedang memberikan ujian kehidupan yang pahit tidak mengenakkan, ya sudah dijalani aja. Pasrah terhadap semua ketetapan Gusti. Tidak usah dibuat susah sampai tidak enak maupun tidur,” jelasnya.
Mislan bersama sang anak, menantu dan besannya telah datang di Asrama Haji Embarkasi Surabaya, Rabu (15/5/2024) pukul 08.00 WIB. Ia dijadwalkan terbang ke Madinah Kamis (16/5/2024) pukul 06.30 WIB.
Sementara itu anak Mislan, Sirmad yang mendampingi berhaji menjelaskan jika bapaknya dulu adalah anggota pejuang dari kalangan sipil. Setelah perang usai, Mbah Mislan memilih bertani.
"Setelah perang usai, Bapak menjadi petani dan pamong desa tetapi sekarang sudah tidak lagi karena sudah sangat sepuh," ungkap Sirmad.
Sirmad juga menuturkan bapaknya bisa berjalan tanpa tongkat. Meskipun terkadang dibantu dengan tongkat dikarenakan faktor usia. "Ya karena sepuh pakai tongkat. Tapi juga bisa jalan tanpa tongkat," pungkasnya.
