Jatim Siaga Dampak Perang Iran vs AS-Israel, Kepala Daerah Dikumpulkan

- Gubernur Khofifah dan Wagub Emil mengumpulkan seluruh kepala daerah Jatim untuk membahas antisipasi dampak konflik Iran-AS-Israel terhadap ekonomi daerah.
- Forum menghadirkan narasumber dari pemerintah pusat, Bank Indonesia, dan akademisi yang menilai ekonomi Jatim relatif tahan, namun tetap rentan karena kontribusi ekspor tinggi.
- Pemprov Jatim memperkuat TPID, memantau pasokan LPG, serta mengimbau masyarakat tidak panic buying demi menjaga stabilitas harga dan inflasi tetap terkendali.
Surabaya, IDN Times - Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, bersama Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak mengumpulkan seluruh bupati dan wali kota se-Jawa Timur di Gedung Negara Grahadi, Rabu (25/3/2026). Pertemuan ini membahas langkah antisipasi dampak gejolak global akibat konflik Iran dengan AS-Israel terhadap perekonomian daerah.
Wagub Emil menyebut, forum tersebut merupakan inisiatif langsung Gubernur Khofifah untuk memanfaatkan momentum halal bihalal sebagai ajang konsolidasi menghadapi situasi global yang dinilai berpotensi memicu tekanan ekonomi.
“Ini inisiatif Ibu Gubernur agar momen berkumpulnya kepala daerah juga dimanfaatkan secara produktif untuk mengantisipasi kondisi global. Dampaknya nyata ke seluruh dunia, termasuk ekonomi dan jalur logistik,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).
Menurut Emil, gejolak di Timur Tengah mulai dirasakan pelaku usaha, terutama UMKM yang mengeluhkan kenaikan harga bahan baku seperti plastik hingga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Meski pemerintah pusat berupaya menahan lonjakan harga, daerah diminta tetap waspada.
Dalam pertemuan tersebut, Pemprov Jatim menghadirkan narasumber dari pemerintah pusat, Bank Indonesia, hingga akademisi untuk memberikan simulasi dampak ekonomi. Hasilnya, Jawa Timur dinilai relatif lebih tahan dibandingkan daerah lain.
“Simulasi menunjukkan dampaknya di Jawa Timur tidak seberat daerah lain. Tapi jangan terlena, karena perlambatan perdagangan global tetap akan berpengaruh,” tegasnya.
Emil menjelaskan, struktur ekonomi Jatim yang kuat di sektor domestik menjadi salah satu faktor penahan. Namun, kontribusi ekspor yang mendekati 20 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tetap membuat Jatim rentan terhadap gejolak global.
Karena itu, Emil meminta seluruh kepala daerah meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap potensi spekulan yang memanfaatkan situasi, seperti penimbunan barang dan panic buying di masyarakat.
“Ini yang harus dicegah. Jangan sampai ada pihak yang memanfaatkan isu kenaikan harga atau kelangkaan,” katanya.
Pemprov Jatim juga menginstruksikan penguatan peran Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di masing-masing kabupaten/kota untuk bergerak cepat mendeteksi gejolak harga.
Selain itu, pemerintah turut memantau isu kelangkaan LPG yang mulai beredar di masyarakat. Berdasarkan koordinasi dengan Hiswana Migas, Emil memastikan pasokan LPG masih dalam kondisi aman.
“Secara kuantitas tidak ada pengurangan stok. Tapi ini tetap kita cek di lapangan, termasuk distribusinya,” jelasnya.
Emil menambahkan, stabilitas pasokan sangat bergantung pada pola konsumsi masyarakat. Karena itu, pemerintah mengimbau masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan.
Di sisi lain, Emil mengapresiasi langkah pemerintah pusat yang menahan kenaikan harga BBM serta kebijakan efisiensi seperti sistem kerja fleksibel untuk menekan konsumsi energi.
Meski tekanan global diperkirakan akan meningkatkan inflasi dan menekan pertumbuhan ekonomi, Emil optimistis Jatim tetap mampu bertahan. “Jawa Timur punya ekonomi domestik yang kuat. Ini bukan berarti kita bebas dari dampak, tapi jangan pesimis. Yang penting kita antisipatif dan menjaga inflasi tetap terkendali,” pungkasnya.
















