Surabaya, IDN Times - BMKG Kelas I Juanda memprediksi kondisi cuaca di Jawa Timur (Jatim) pada periode 13 -19 April 2026 didominasi cuaca berawan dengan potensi hujan lokal yang disertai petir. Intensitas curah hujan diperkirakan mulai menurun seiring masa peralihan dari musim hujan ke kemarau.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Juanda Surabaya, Rendy Irawadi menjelaskan sejumlah indikator atmosfer global dan regional menunjukkan kondisi yang relatif netral terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Jatim.
Dari fenomena ENSO (El Niño-Southern Oscillation), anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur tercatat negatif dengan indeks NINO3.4 sebesar -0,35. Kondisi ini dinilai tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan pertumbuhan awan konvektif.
Sementara itu, fenomena IOD (Indian Ocean Dipole) juga menunjukkan nilai anomali negatif dengan indeks DMI -0,14. Kondisi tersebut tidak berpotensi meningkatkan aktivitas pembentukan awan hujan, khususnya di wilayah Indonesia bagian barat.
Rendy menambahkan, berdasarkan analisis Outgoing Longwave Radiation (OLR), nilai anomali diprediksi cenderung netral hingga positif dalam sepekan ke depan. Selain itu, tidak terdeteksi adanya gangguan gelombang atmosfer yang dapat memicu peningkatan curah hujan.
Adapun Madden-Julian Oscillation (MJO) diprakirakan aktif di fase 6 hingga 7. Fase ini dinilai kurang berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Jatim.
Meski demikian, anomali suhu muka laut di sekitar wilayah perairan Jawa Timur berkisar antara -2,0 hingga 1,0 derajat Celcius yang masih berpengaruh terhadap penambahan massa uap air. Ditambah lagi, pola angin di lapisan 3.000 kaki didominasi dari arah timur serta adanya konvergensi yang mendukung terbentuknya awan hujan lokal.
“Secara umum, cuaca di Jawa Timur didominasi berawan dengan potensi hujan lokal disertai petir, meskipun intensitasnya cenderung menurun,” ujar Rendy dikonfirmasi IDN Times, Selasa (14/4/2026).
BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi selama masa peralihan musim, seperti hujan lebat, banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga puting beliung.
Selain itu, masyarakat juga diminta menjaga kesehatan, menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan, serta bijak dalam penggunaan air bersih. BMKG juga mengingatkan pentingnya memantau informasi cuaca terkini sebelum beraktivitas demi keselamatan.
