Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Harga Ayam di Ngawi Tembus Rp43 Ribu, Pedagang: Jualan Makin Sepi
Aktivitas jual beli daging ayam di pasar Besar Ngawi. IDN Times/Riyanto.
  • Harga ayam potong di Pasar Besar Ngawi naik dari sekitar Rp40 ribu menjadi Rp43 ribu per kilogram, jauh di atas kisaran harga normal Rp27 ribu-Rp30 ribu.
  • Kenaikan harga menekan daya beli: penjualan pedagang ayam yang biasanya sekitar 20 ekor per hari kini turun menjadi kurang dari 10 ekor.
  • Pedagang ayam geprek mempertahankan harga Rp10 ribu per porsi dengan mengurangi ukuran daging, sementara pedagang berharap pemerintah menstabilkan harga ayam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ngawi, IDN Times – Harga daging ayam potong di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, melonjak dalam sepekan terakhir. Di Pasar Besar Ngawi, harga ayam potong kini mencapai Rp43 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya Rp40 ribu. Kenaikan ini membuat pedagang ayam potong dan pelaku usaha kuliner mulai kelimpungan. Bahkan, pedagang ayam mengaku penjualan mereka turun hingga lebih dari separuh.

1. Harga ayam tembus Rp43 ribu, pasar mulai sepi

Aktivitas jual beli daging ayam di pasar Besar Ngawi. IDN Times/Riyanto.

Harga daging ayam potong di Pasar Besar Ngawi mencapai Rp43 ribu per kilogram pada Selasa (18/8/2026). Harga tersebut naik dari sebelumnya sekitar Rp40 ribu per kilogram. Padahal, harga normal daging ayam potong biasanya berada di kisaran Rp27 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram.

Endang Lestari, salah seorang penjual daging ayam, mengatakan kenaikan harga mulai terasa sejak menjelang peringatan HUT ke-81 RI. "Harga naik menjadi Rp43 ribu sejak menjelang 17 Agustus kemarin. Pasar jadi sepi sebab harganya terlalu kemahalan," ujar Endang.

2. Penjualan pedagang ayam turun separuh

Aktivitas jual beli daging ayam di pasar Besar Ngawi. IDN Times/Riyanto.

Kenaikan harga membuat daya beli masyarakat ikut menurun. Pedagang yang biasanya mampu menjual sekitar 20 ekor ayam per hari, kini hanya mendapatkan penjualan kurang dari 10 ekor. Kondisi ini tentu membuat keuntungan pedagang semakin tertekan. Mereka berharap harga segera kembali stabil agar pembeli kembali ramai.

3. Porsi ayam geprek diperkecil

Pedangang ayam geprek seputar alun-alun Ngawi. IDN Times/Riyanto.

Dampak kenaikan harga ayam juga dirasakan pedagang kuliner. Salah satunya Deva Ardian Nugroho, pedagang ayam geprek di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kelurahan Ketanggi, Kecamatan Ngawi Kota. Deva memilih mengurangi ukuran daging ayam, terutama bagian tertentu seperti dada, agar tetap bisa memperoleh keuntungan.

Sementara harga satu porsi ayam geprek masih dipertahankan Rp10 ribu. Menurutnya, menaikkan harga bukan pilihan karena dikhawatirkan membuat pelanggan beralih. "Harga daging ayam kan naik, kita terpaksa mengurangi ukuran daging ayam agar dapat untung karena untuk menaikkan harga tidak mungkin," kata Deva.

Para pedagang berharap pemerintah segera turun tangan menstabilkan harga daging ayam potong. Jika kenaikan terus berlangsung, mereka khawatir usaha kecil dan daya beli masyarakat semakin tertekan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article