Surabaya, IDN Times - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya secara gencar terus melakukan tes swab PCR massal kepada para guru Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hingga saat ini telah ditemukan 393 guru yang dinyatakan positif COVID-19.
Gencar Tes Swab Massal, 393 Guru di Surabaya Positif COVID-19

1. 3.882 guru di Surabaya sudah tes swab massal
Wakil Sekretaris Gugus Tugas COVID-19 Surabaya Irvan Widyanto menjelaskan, hingga saat ini total telah ada 3.882 guru yang sudah melaksanakan tes swab massal gratis dari pemkot. Dari keseluruhan terebut, baru 3.082 spesimen yang sudah keluar hasilnya melalui uji PCR Labkesda Surabaya.
"Hingga saat ini tes swab massal ini masih terus berlangsung. Pemkot Surabaya berkomitmen untuk menuntaskan tes swab kepada seluruh guru SD dan SMP di Surabaya," ujar Irvan saat dihubungi IDN Times, Selasa (1/9/2020).
2. 393 guru yang positif COVID-19 langsung diisolasi
Dari 3.082 hasil yang keluar tersebut, diketahui 393 di antaranya positif COVID-19. Jumlah ini sama dengan 13 persen dari keseluruhan guru yang dites. Sementara sisanya, yaitu 2.675 atau 87 persen dinyatakan negatif COVID-19.
"Untuk guru yang positif langsung kami isolasi. Kalau yang sakit dibawa ke rumah sakit rujukan, sementara yang tanpa gejala dikarantina di Hotel Asrama Haji," tuturnya.
3. 606 guru dites swab hari ini
Irvan mengatakan, dalam sehari Pemkot Surabaya bisa melakukan tes swab terhadap ratusan orang guru. Pada Selasa (1/9/2020) saja, ada 606 guru yang mengikiti tes swab massal di Labkesda Gayungan. Mereka merupakan guru SD, baik negeri maupun swasta yang berasal dari wilayah Surabaya Barat.
"Hari ini tes swab massal dilaksanakan hingga pukul 11.00 WIB. Alhamdulillah kegiatan ini berjalan lancar," imbuhnya.
4. Rencana belajar tatap muka masih dievaluasi
Sementara itu, Irvan mengatakan bahwa tes swab ini tidak berkaitan dengan rencana pembukaan kegiatan pembelajaran tatap muka di sekolah. Hingga saat ini rencana tersebut masih dievaluasi untuk menemukan formula yang tepat agar bisa meminimalisir penularan COVID-19 di sekolah.
"Kami cari yang terbaik. Kami utamakan pencegahan, jangan sampai terjadi penularan. Tidak harus menunggu semua guru sembuh, karena ini hal yang tidak berkaitan," pungkasnya.