Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Fenomena Bediding Jatim, Ternyata Angin Australia Lagi Lewat, Permisi!

Fenomena Bediding Jatim, Ternyata Angin Australia Lagi Lewat, Permisi!
ilustrasi bediding (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Intinya Sih
  • Fenomena bediding di Jawa Timur terjadi akibat aliran angin dingin dan kering dari Australia yang membuat suhu malam hingga pagi terasa lebih rendah dari biasanya.
  • BMKG menjelaskan, udara kering saat musim kemarau mengurangi pembentukan awan sehingga panas cepat hilang pada malam hari, menyebabkan suhu turun signifikan di berbagai wilayah Jatim.
  • Masyarakat diimbau menjaga kesehatan dan kewaspadaan karena udara dingin serta kelembapan rendah dapat memicu gangguan pernapasan, dehidrasi, dan kabut yang mengganggu jarak pandang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Surabaya, IDN Times - Meski musim kemarau baru mulai berlangsung di Jawa Timur (Jatim), warga di sejumlah daerah justru merasakan suhu udara yang lebih dingin dari biasanya saat malam hingga pagi hari. Fenomena yang dikenal masyarakat sebagai bediding ini belakangan dirasakan di berbagai wilayah, mulai Malang Raya, Pasuruan Raya, Probolinggo, Surabaya Raya, Mojokerto Raya hingga Lamongan dan sekitarnya.

Udara dingin yang menusuk terutama menjelang dini hari membuat banyak warga mengeluhkan suhu yang terasa lebih rendah dibanding pekan-pekan sebelumnya. Kondisi tersebut ternyata merupakan fenomena yang lazim terjadi saat musim kemarau.

Prakirawan BMKG Kelas I Juanda, Rendy Irawadi menjelaskan, fenomena bediding dipicu oleh masuknya massa udara dingin dan kering yang berasal dari Benua Australia menuju wilayah Indonesia, termasuk Jatim.

"Fenomena bediding ini disebabkan oleh aliran angin dari Australia yang bersifat dingin dan kering," ujar Rendy, kepada IDN Times, Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, saat musim kemarau, Australia sedang mengalami musim dingin. Massa udara dari wilayah tersebut bergerak menuju Indonesia melalui angin timuran. Karakter udara yang kering membuat pembentukan awan berkurang sehingga panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih cepat terlepas ke atmosfer saat malam hari.

Akibatnya, suhu udara pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin dibandingkan kondisi normal. Fenomena ini umumnya lebih terasa di daerah dataran tinggi seperti Malang Raya, namun juga dapat dirasakan hingga wilayah pesisir dan dataran rendah seperti Surabaya, Mojokerto, Gresik hingga Lamongan.

Rendy menyebut fenomena bediding diperkirakan masih akan terus berlangsung selama periode musim kemarau tahun ini. "Bediding akan terjadi hingga akhir musim kemarau," katanya.

Selain menyebabkan suhu udara lebih rendah, kondisi udara kering juga berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan. BMKG pun mengimbau masyarakat menjaga kondisi tubuh selama periode suhu dingin berlangsung.

Anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan diminta meningkatkan kewaspadaan karena kelompok tersebut lebih rentan terdampak perubahan suhu yang cukup ekstrem antara siang dan malam hari.

BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuh dan mengonsumsi makanan bergizi guna menjaga daya tahan tubuh. Meski udara terasa dingin, risiko dehidrasi tetap dapat terjadi karena kelembapan udara cenderung menurun selama musim kemarau.

Selain aspek kesehatan, pengguna jalan juga diminta lebih berhati-hati saat beraktivitas pada pagi hari. Udara dingin dan kondisi atmosfer yang stabil berpotensi memunculkan kabut maupun udara kabur yang dapat mengurangi jarak pandang di sejumlah wilayah.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin

Latest News Jawa Timur

See More