Surabaya, IDN Times - Deretan gaun berkilau, riasan wajah artistik, hingga kreasi rambut avant-garde memenuhi sebuah studio di kawasan Tumapel, Surabaya. Bukan peragaan busana atau kompetisi kecantikan, melainkan presentasi karya akhir 10 siswa yang bersiap memasuki industri beauty profesional.
Melalui gelaran Live Artalase: Student's Live Portfolio Creation, para peserta menampilkan hasil eksplorasi mereka selama menempuh pendidikan di bidang tata rias dan desain rambut. Karya yang dipresentasikan tidak hanya menonjolkan kemampuan teknis, tetapi juga gagasan personal yang diterjemahkan ke dalam tampilan visual.
Dalam kategori Professional Make-up Artistry, lima peserta menghadirkan interpretasi berbeda tentang kecantikan modern. Mulai dari konsep riasan natural yang menonjolkan karakter wajah, tampilan glamor dengan sentuhan kilau, hingga eksplorasi warna-warna metalik yang memberi kesan futuristik.
Sementara itu, kategori Professional Hair Design menghadirkan karya yang lebih eksperimental. Beberapa peserta menggunakan rambut sebagai medium bercerita tentang transformasi diri, ketenangan, hingga proses bangkit dari keterpurukan. Bentuk-bentuk anyaman, struktur geometris, hingga siluet menyerupai elemen alam menjadi bagian dari eksplorasi yang ditampilkan.
Dari pantauan di lokasi, sejumlah karya tampil menonjol lewat penggunaan teknik hair art avant-garde yang memadukan potongan rambut, pewarnaan, serta ornamen artistik. Salah satu karya menghadirkan nuansa laut melalui dominasi warna biru dan bentuk menyerupai gelombang, sementara karya lain menampilkan mahkota anyaman rambut berukuran besar yang menciptakan kesan futuristik.
Art Director Rêver Academy, Marina Adia, menilai industri kecantikan masih akan sangat bergantung pada kreativitas manusia meski perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan berlangsung semakin cepat.
Menurutnya, kemampuan teknis dapat dipelajari, namun kreativitas, intuisi, dan sentuhan personal tetap menjadi elemen penting yang membedakan seorang pelaku industri kecantikan dengan teknologi.
"Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, kreativitas, intuisi, dan sentuhan personal seorang make-up artist maupun hair designer tetap menjadi sesuatu yang tidak bisa tergantikan," ujarnya, Jumat (5/6/2026).
Fenomena ini juga terlihat dalam karya para peserta yang banyak mengangkat tema personal. Beberapa karya berbicara tentang proses perubahan hidup, keberanian menghadapi tantangan, hingga pencarian identitas diri. Narasi tersebut kemudian diterjemahkan melalui warna, tekstur, bentuk rambut, hingga detail riasan wajah.
"Tren ini menunjukkan bahwa dunia kecantikan saat ini tidak lagi sekadar berfokus pada penampilan, tetapi juga menjadi medium ekspresi dan storytelling visual," pungkasnya.
