Cuaca Jatim Lagi Galau, Kemarau Datang Hujan Tak Pergi

- BMKG Juanda memprediksi cuaca Jatim sepekan ke depan masih diwarnai hujan ringan hingga petir meski sebagian wilayah mulai memasuki musim kemarau.
- Kondisi atmosfer menunjukkan tidak ada gangguan besar, namun suplai uap air dan faktor lokal masih memicu hujan di beberapa daerah.
- BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada karena potensi cuaca ekstrem lokal muncul di tengah status siaga kekeringan di delapan kabupaten Jatim.
Surabaya, IDN Times - Musim kemarau di Jawa Timur (Jatim) belum sepenuhnya menunjukkan dominasinya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda memprediksi cuaca di Jatim selama sepekan ke depan masih diwarnai hujan ringan hingga hujan disertai petir di sejumlah daerah, terutama menjelang akhir pekan.
Prakirawan BMKG Kelas I Juanda, Rendy Irawadi, mengatakan kondisi atmosfer saat ini menunjukkan peluang pembentukan awan hujan masih ada meski sebagian besar wilayah Jatim mulai memasuki periode kemarau.
Berdasarkan Prospek Cuaca Mingguan BMKG periode 8-14 Juni 2026, cuaca pada Senin hingga Selasa didominasi kondisi kabut atau asap. Memasuki Rabu dan Kamis, potensi hujan ringan mulai muncul di sejumlah wilayah. Sementara pada Sabtu hingga Minggu, masyarakat diminta mewaspadai hujan disertai petir.
"Secara umum kondisi atmosfer di Jatim saat ini tidak menunjukkan adanya gangguan cuaca skala besar yang signifikan. Namun masih terdapat potensi hujan lokal yang dipicu faktor atmosfer regional dan lokal," ujar Rendy kepada IDN Times, Senin (8/6/2026).
BMKG mencatat tidak ada gangguan gelombang atmosfer yang melintasi Jatim dalam sepekan ke depan. Hal itu terlihat dari prediksi anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang menunjukkan nilai positif, sehingga aktivitas pembentukan awan hujan tidak terlalu kuat.
Selain itu, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) saat ini berada pada fase 8 atau wilayah Belahan Bumi Barat dan Afrika. Posisi tersebut membuat MJO tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan awan hujan di Jatim.
Meski demikian, anomali suhu muka laut di sekitar Jatim masih berkisar minus 0,5 hingga positif 1,5 derajat Celsius. Kondisi ini dinilai masih mampu menyuplai tambahan uap air, terutama di wilayah Selat Madura dan sekitarnya.
"Suplai uap air masih tersedia meskipun tidak terlalu besar. Ini yang membuat peluang hujan lokal masih tetap muncul di beberapa daerah," jelas Rendy.
BMKG juga mencatat arah angin di Jatim saat ini didominasi dari timur-tenggara dengan kecepatan mencapai 20 knot. Pola angin tersebut relatif stabil dan menjadi salah satu indikator menguatnya karakteristik musim kemarau.
Namun, cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi secara lokal. Berdasarkan peringatan dini BMKG, wilayah Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Probolinggo, dan Sumenep berpotensi mengalami hujan intensitas sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang sesaat pada Jumat (12/6/2026).
Potensi serupa diperkirakan terjadi di Madiun dan Ponorogo pada Sabtu (13/6/2026). Sedangkan pada Minggu (14/6/2026), ancaman hujan petir meluas ke wilayah Malang, Madiun, dan Ponorogo.
Prediksi tersebut menjadi perhatian karena saat ini delapan kabupaten di Jatim telah menetapkan status siaga darurat kekeringan akibat berkurangnya curah hujan dan menurunnya ketersediaan air bersih.
Menurut Rendy, kondisi tersebut menunjukkan musim kemarau tahun ini tidak berlangsung secara seragam di seluruh wilayah Jatim. Di satu sisi, sebagian daerah mulai menghadapi ancaman kekeringan. Namun di sisi lain, hujan lokal masih berpotensi turun dan memicu cuaca ekstrem dalam waktu singkat.
BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang terjadi secara cepat, terutama bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan dan sektor pertanian.
"Kami mengimbau masyarakat terus memperbarui informasi cuaca dari BMKG, menggunakan air secara bijak, mewaspadai potensi kekeringan serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran lahan selama musim kemarau," pungkasnya.


















