Magetan, IDN Times – Musim kemarau biasanya menjadi masa yang paling dinanti para petani cengkeh di Desa Ngiliran, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan. Cuaca cerah membuat kualitas cengkeh lebih baik, sementara harga jual tahun ini juga tergolong menguntungkan. Namun, di balik tingginya harga, petani justru dihantui serangan virus yang telah mematikan sebagian besar tanaman cengkeh di desa ini.
Cengkeh Mahal, Petani Magetan Justru Merana Akibat Serangan Virus

1. Harga cengkeh menguntungkan, tetapi produksi terus menurun
Salah satu petani cengkeh asal Desa Ngiliran, Doni Widyanto, mengatakan panen raya cengkeh hanya berlangsung sekali dalam setahun dan musim kemarau menjadi waktu terbaik karena kualitas hasil panen lebih bagus. "Harga cengkeh basah sekarang sekitar Rp37 ribu per kilogram, sedangkan cengkeh kering berkisar Rp110 ribu hingga Rp115 ribu per kilogram," ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Meski harga cukup tinggi dan stabil dibanding tahun lalu, Doni memperkirakan hasil panennya justru menurun. Dari yang biasanya mencapai 3 hingga 3,5 kuintal, tahun ini diprediksi hanya sekitar 2,5 kuintal.
Ia menjelaskan proses panen cengkeh membutuhkan tenaga dan waktu karena petani harus memanjat pohon, memetik bunga satu per satu, lalu menjemurnya jika ingin dijual dalam kondisi kering. Meski demikian, pemasaran tidak menjadi persoalan karena banyak pengepul di sekitar Panekan hingga wilayah Ngawi.
2. Sebanyak 70 persen pohon cengkeh mati dalam dua tahun terakhir
Kepala Desa Ngiliran, Karmo, mengungkapkan ancaman terbesar yang dihadapi petani bukanlah harga ataupun pemasaran, melainkan serangan virus yang menyebabkan pohon cengkeh mati mengering.
Menurutnya, sekitar 70 persen tanaman cengkeh di Desa Ngiliran telah mati akibat serangan yang berlangsung selama dua tahun terakhir. Awalnya, serangan tersebut muncul dari wilayah desa tetangga sebelum akhirnya menyebar ke hampir seluruh kebun cengkeh di Ngiliran.
"Yang masih bertahan hidup tinggal sekitar 30 persen. Serangannya sangat cepat sehingga sulit dikendalikan," kata Karmo.
Ia menambahkan, sebelum serangan virus terjadi, luas tanaman cengkeh di Desa Ngiliran diperkirakan mencapai 20 hingga 25 hektare. Tanaman tersebut umumnya ditanam secara tumpang sari bersama komoditas lain di lahan milik warga.
3. Petani berharap bantuan bibit agar sentra cengkeh tetap bertahan
Karmo berharap pemerintah memberikan bantuan bibit cengkeh yang siap tanam dan memiliki daya tahan lebih baik agar petani bisa kembali membangun kebun yang rusak akibat serangan virus.
Menurutnya, usaha penyelamatan perlu segera dilakukan karena cengkeh merupakan salah satu sumber pendapatan masyarakat. Apalagi, komoditas ini memiliki nilai ekonomi tinggi karena dapat disimpan dalam waktu lama tanpa menurunkan kualitas, sehingga petani bisa menjualnya saat harga sedang bagus.
"Kalau tidak ada upaya penyelamatan, kami khawatir tanaman cengkeh di Desa Ngiliran akan semakin berkurang. Padahal, saat harga sedang tinggi seperti sekarang, seharusnya petani bisa menikmati hasil yang lebih baik," pungkasnya.