Cegah Masalah Mental, FK Unair Bekali Mahasiswa dengan ESQ

Surabaya, IDN Times - Hasil skrining Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terhadap 12.121 peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), 22,4 persen menunjukkan gejala depresi. Untuk mencegah masalah mental, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) pun mulai membekali mahasiswa dengan kecerdasan emosional dan spirital atau ESQ
Dekan FK Unair, Prof Budi Santoso mengatakan, pihaknya menargetkan FK Unair zero bullying, zero depresi, dan zero stress. Untuk mencapai itu, ia telah melakukan upaya pendekatan secara preventif.
"Kita dari FK Unair dan RSUD dr Soetomo sudah membuat bagaimana penanganan kalau ada bullying, depresi, dan kita sudah membuat unit konsultasi yang berkaitan dengan masalah stres dan depresi," ujar Budi Santoso, Minggu (6/10/2024).
Budi mengklaim, saat ini tingkat stress di FK Unair masih aman terkendali dan dalam batas wajar. "Hanya saja kita mengacu pada penelitian yang sempat dilakukan yaitu 22,4 persen (peserta PPDS alami stres), Insyaallah kita tidak segitu, aman-aman saja, kalau (stress, karen) salah jurusan kita bisa memfokuskan," ungkapnya.
Dalam upaya penanganan masalah kesehatan mental, FK Unair telah melakukan berbagai hal. Salah satunya menyediakan unit konsultasi.
"Kita juga sudah mempunyai alur pelaporan bullying, dan juga masalah stres dan depresi kita sudah mempunyai unit konsultasi untuk menangani masalah itu, alur pelaporannya sudah sangat jelas, sehingga apa yang terjadi tidak larut-larut dan mencari solusi," terang dia.
Selain itu, FK Unair merasa bahwa pihaknya perlu memberikan kecerdasan emosional dan spiritual kepada mahasiswanya. Dalam hal ini, FK Unair bekerjasama dengan ESQ 165.
"Kami menggandeng ESQ ini untuk tindakan preventif, selain yang sudah baku, yang kami miliki, sehingga nanti lulusan FK Unair, selain unggul di pengetahuan juga mempunyai keunggulan pengendalian di bidang emosional," pungkas dia.
Sementara itu, Founder ESQ 165, Ary Ginanjar Agustian mengatakan, ia telah memperkirakan sejak seperempat abad lalu bahwa masalah kesehatan mental bakal meningkat. Menurutnya, kecerdasan intelektual saja tak cukup untuk menjalankan profesi apapun, termasuk dokter, dalam hal ini dibutuhkan kecerdasan emosional dan spiritual.
"Kecerdasan intelektual adalah kemampuan untuk mengelolah logika, akademik, tetapi kecerdasan emosional mengelolah rasa ketika dia bergaul dan bersosialisasi. Sedangkan kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi arti atau memberi makna," ungkap dia.
Ary menyebut, berdasarkan riset yang ada, seseorang yang tidak punya kecerdasan spiritual maka, kemungkinan depresinya 4 kali lebih tinggi dibandingkan yang punya kecerdasan spiritual.
" Tapi yang punya kecerdasan spiritual, dia 3,8 kali lebih kuat, ketika dia menghadapi tekanan-tekanan mental atau dalam pekerjaan," jelasnya.
Untuk itu, Ary pun mengapresiasi FK Unair yang telah merespon dengan masalah kesehatan mental. FK Unair disebut sebagai fakultas pertama yang tanggap terhadap masalah ini.
"Yang saya ingin beri acungan jempol, FK Unair menjadi Universitas di Indonesia bahkan Fakultas pertama yang merespon dengan cepat memberi jawaban solutif untuk mengatasi masalah ini," kata dia.
Setidaknya ada empat strategi yang diusulkan ESQ 135 kepada FK Unair untuk mencegah tingkat stress. Pertama, peningkatan kecerdasan spiritual yang terbukti akan memberi kekuatan 3,8 kali lipat untuk menahan tekakan depresi.
"Kedua, memastikan mahasiswa atau calon dokter spesialis dia bisa menemukan tiga E, Easy, supaya dia bekerja dengan mudah, kemudian Enjoy, dan Excellent. Untuk mendapatkan tiga itu, maka kita harus mampu membaca talenta setiap dokter,"
Kemudian ketiga, culture fit, calon dokter harus fit atau merasa sehat dengan kultur kedokteran. Atas hal ini, dokter akan dibekali bimbingan untuk memastikan calon dokter memiliki job fit.
"Kalau jurus pertama, kedua dann ketiga masih belum cukup maka masih ada benteng ketiga yakni grounds mindset, yaitu kemampuan merespon dengan positif apapun yang terjadi dan tekanan seberat apapun," jelasnya.
Jika beberapa hal yang disebutkan Ary tersebut ternyata belum mampu menurunkan tingkat stres, maka pihaknya akan membentuk tim kuratif. Tim ini akan membimbing dosen atau pengajar untuk mengatasi masalah secara manusiawi.
"Kita bentuk tim kuratifnya, yaitu kemampuan dosen pembimbing untuk melakukan coaching untuk mampu mengatasi masalah dengan manusiawi, yaitu tidak dengan melakukan tekanan dan kemarahan, tapi dia mampu mengatasi masalah dengan mendengar dan bertanya," pungkas dia.



















