Surabaya, IDN Times - Ancaman gempa bumi menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim mengingatkan seluruh wilayah di Jatim memiliki kerentanan terhadap gempa karena berada di kawasan lempeng aktif dan jalur Ring of Fire.
Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto mengatakan, posisi geografis Jatim membuat ancaman gempa tidak bisa dipandang sebelah mata. Selain berada di kawasan lempeng aktif dunia, Jatim juga memiliki sejumlah gunung api aktif.
“Kalau terkait dengan gempa, kita tahu wilayah Jawa Timur ini berada di lempeng aktif dunia. Ada lempeng aktif, ada gunung berapi, Ring of Fire. Sehingga di Jawa Timur ini seluruh wilayahnya rentan terhadap gempa bumi,” ujarnya, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama untuk mengurangi risiko ketika gempa terjadi. BPBD Jatim pun terus memperkuat edukasi kebencanaan hingga tingkat masyarakat dan sekolah.
Salah satu upaya dilakukan melalui pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana). Program tersebut membekali masyarakat agar mampu melakukan evakuasi secara mandiri sekaligus mengambil langkah awal penanganan ketika bencana terjadi.
“Ini merupakan ikhtiar kami untuk memberikan penguatan kepada masyarakat agar apabila terjadi bencana mereka bisa melakukan evakuasi diri secara mandiri,” jelasnya.
Selain masyarakat, kesiapsiagaan juga diperkuat di lingkungan pendidikan melalui Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). BPBD Jatim bahkan menjalankan pelatihan Training of Trainers (TOT) bagi guru agar pengetahuan kebencanaan dapat diteruskan kepada para siswa.
“Untuk memasifkan SPAB tersebut maka kami membuat yang namanya TOT untuk para guru. Agar para guru tersebut bisa mengajarkan kepada siswanya terkait dengan penanganan bencana,” katanya.
BPBD Jatim juga menggandeng relawan dan pemerintah dalam memperluas edukasi kebencanaan. Masyarakat didorong tidak hanya mengetahui potensi ancaman bencana, tetapi juga memahami apa yang harus dilakukan pada menit-menit awal ketika bencana terjadi.
Gatot menyebut tingginya minat masyarakat dan pelajar mengunjungi tenda pendidikan bencana menjadi indikator meningkatnya kesadaran terhadap risiko bencana. Di lokasi, masyarakat mendapatkan edukasi mengenai potensi bencana di Jatim sekaligus simulasi penanganannya. Mulai dari evakuasi mandiri hingga langkah awal membangun posko siaga dan dapur umum.
“Di dalam tenda pendidikan bencana tersebut, kita memberikan edukasi dan pengetahuan terkait dengan potensi ancaman bencana di Jawa Timur serta penanganannya seperti apa,” ungkapnya.
Gatot menegaskan, kesiapsiagaan tidak boleh baru dibangun setelah bencana terjadi. Masyarakat harus memiliki kemampuan dasar untuk menyelamatkan diri dan membantu lingkungan sekitar sebelum bantuan dari petugas tiba.
