9.540 Hektare Hutan Jatim Ludes Terbakar

Sebanyak 150 kebakaran hutan dan lahan terjadi di 25 daerah Jawa Timur saat musim kemarau, dengan total area terdampak mencapai 9.540 hektare.
Kebakaran terbaru pada 6 Oktober 2026 menghanguskan 6,7 hektare Tahura Raden Soerjo di Mojokerto dan 1 hektare lahan Perhutani di Nganjuk; tanpa korban jiwa.
Vegetasi kering, angin kencang, medan ekstrem, serta dugaan aktivitas manusia memperbesar risiko api; BPBD memperketat patroli, pemantauan satelit, dan menyiapkan water bombing.
Take a Deeper Reads

Surabaya, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius di Jawa Timur (Jatim) selama musim kemarau. Sedikitnya 150 kejadian karhutla tercatat tersebar di 25 daerah dengan total area terdampak mencapai 9.540 hektare.
Terbaru, kebakaran kembali terjadi di kawasan hutan Mojokerto dan Nganjuk pada Selasa (6/10/2026). Dua lokasi tersebut bahkan berada di kawasan hutan yang memiliki fungsi penting, yakni Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo dan kawasan Perhutani.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno mengatakan, kondisi vegetasi yang kering akibat musim kemarau membuat api lebih mudah membesar dan merembet. Situasi diperparah embusan angin serta medan lokasi yang sulit dijangkau petugas.
Di Tahura Raden Soerjo, api dilaporkan muncul di dua lokasi, yakni Bukit Kemiri dan Bukit Watu Jengger, Desa Tawangrejo, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Kebakaran yang mulai terjadi pada Selasa sore itu menghanguskan sekitar 6,7 hektare kawasan Tahura Raden Soerjo.
"Setelah pengerjaan pemadaman secara manual oleh personel gabungan sejak sore hingga dini hari, api akhirnya berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 04.00," ujar Satriyo, Rabu (7/10/2026).
Kebakaran juga terjadi di Petak 26 RPH Gedang Klutuk, BKPH Pace, Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk. Sekitar 1 hektare lahan di wilayah KHDPK terbakar pada Selasa sore. Petugas berhasil mengendalikan api sebelum merembet lebih jauh ke permukiman maupun area perkebunan warga.
Meski dua kebakaran terbaru tersebut berhasil dipadamkan, BPBD Jatim masih menyelidiki penyebab pasti munculnya api. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam kedua kejadian tersebut.
"Penyebabnya belum bisa dipastikan. Namun, kami memastikan tidak ada korban jiwa dalam rangkaian peristiwa kebakaran hutan tersebut," katanya.
Satriyo menyebut musim kemarau menjadi salah satu kondisi yang memperbesar risiko kebakaran. Suhu panas membuat vegetasi mengering sehingga api lebih cepat membesar.
Namun, faktor cuaca bukan satu-satunya persoalan. Aktivitas manusia diduga menjadi pemicu munculnya sejumlah titik api, mulai dari pembakaran sampah hingga puntung rokok yang dibuang sembarangan.
"Ada api di lahan kering dan angin kencang. Lalu ditambah lagi dengan medan ekstrem yang membuat kami (petugas) sulit ke titik lokasi dengan dekat. Akibatnya api pun cepat membesar dan merembet ke titik lainnya," jelas Satriyo.
Dengan luas lahan terbakar yang telah mencapai ribuan hektare, BPBD Jatim terus memperketat pemantauan terhadap kawasan rawan karhutla. Patroli darat dilakukan bersamaan dengan pemantauan titik panas melalui satelit Sipongi.
Pemadaman melalui udara atau water bombing juga disiapkan sebagai salah satu langkah penanganan apabila kebakaran terjadi di lokasi yang sulit dijangkau petugas melalui jalur darat.
Selain itu, BPBD Jatim terus berkoordinasi dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan harapan hujan segera turun dan membantu menekan potensi kebakaran. "Pemantauan berkala, baik melalui patroli darat maupun pantauan satelit Sipongi, terus diperketat untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api susulan," pungkasnya.





















