Surabaya, IDN Times - Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada Minggu (6/9/2026) pagi. Meski aktivitas vulkanik terus terjadi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur (Jatim) memastikan belum ada instruksi evakuasi maupun pengungsian warga karena kondisi Semeru masih dalam pola aktivitas yang telah berlangsung selama ini.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim Gatot Soebroto mengatakan, Gunung Semeru merupakan gunung api aktif yang masih mengalami erupsi secara berkala. Statusnya juga masih berada pada Level III atau Siaga, yang telah diberlakukan sejak 9 November 2025.
“Kalau vulkanik sebagaimana hari-hari biasanya, Semeru memang selalu mengeluarkan erupsi. Tetapi kondisi tersebut sudah terjadi sejak tahun 2015 dan statusnya masih Siaga 3,” ujarnya di Surabaya, Senin (7/9/2026).
Gatot memastikan, kondisi tersebut tidak menunjukkan adanya perkembangan menonjol yang saat ini mengharuskan masyarakat di sekitar Semeru dievakuasi. Aktivitas warga juga telah terpantau berlangsung di wilayah-wilayah yang dinilai aman sesuai batasan yang ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
“Tidak ada (evakuasi), karena posisinya hal ini terjadi seperti kegiatan-kegiatan seperti biasanya dan tidak ada hal-hal yang menonjol,” tegasnya.
Gatot menambahkan, masyarakat tetap harus mematuhi rekomendasi PVMBG terkait zona bahaya. Menurutnya, penetapan Level III bukan berarti seluruh aktivitas masyarakat harus dihentikan, melainkan terdapat pembatasan pada wilayah tertentu yang memiliki potensi bahaya.
“Sudah disampaikan oleh teman-teman PVMBG batasan-batasan wilayah mana masyarakat boleh bertindak ataupun melakukan kegiatan. Dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan masyarakat sudah terpantau di posisi-posisi yang dirasa aman dan tidak mengalami apapun berdampak pada kegiatan hari-hari masyarakat,” katanya.
Aktivitas erupsi Semeru pada Minggu pagi terjadi sekitar pukul 07.51 WIB. Berdasarkan laporan petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, kolom letusan teramati mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak atau sekitar 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Lebih lanjut, kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah timur. Erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan durasi 102 detik.
Dalam status Level III, masyarakat dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Di luar radius tersebut, masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Kawasan tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak.
Selain itu, aktivitas masyarakat dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru juga dilarang karena kawasan tersebut rawan lontaran batu pijar.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru. Sejumlah aliran yang perlu diwaspadai antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk sungai-sungai kecil yang menjadi anak sungai Besuk Kobokan.
Gatot mengatakan, aktivitas erupsi yang berlangsung berulang merupakan karakter Semeru sebagai gunung api aktif. Karena itu, masyarakat tidak perlu panik, tetapi wajib mengikuti pembatasan wilayah dan arahan resmi pemerintah. “Kalau Gunung Semeru memang aktif, sehingga dengan adanya kegiatan-kegiatan erupsi ini justru baik untuk Semeru karena tidak menahan entah apa gejolak yang dari ada dalam bumi karena harus dikeluarkan setiap saat,” katanya.
BPBD Jatim terus memantau perkembangan aktivitas Semeru bersama instansi terkait. Jika terjadi perubahan kondisi yang berpotensi meningkatkan risiko terhadap masyarakat, langkah penanganan akan disesuaikan dengan rekomendasi dan perkembangan aktivitas vulkanik di lapangan.
