Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BPBD Bilang Erupsi Semeru Rutinitas, Status Siaga Sejak Tahun Lalu
Gunung Semeru erupsi bersamaan dengan Gunung Anak Krakatau (X.com/badangeologi_)
  • Gunung Semeru erupsi pada 6 September 2026 pukul 07.51 WIB, dengan kolom abu setinggi sekitar 1.000 meter di atas puncak yang bergerak ke arah timur.
  • BPBD Jatim menyatakan belum ada evakuasi atau pengungsian karena erupsi dinilai masih rutin; status Level III Siaga telah berlaku sejak 9 November 2025.
  • Warga wajib mematuhi zona bahaya PVMBG, termasuk larangan aktivitas di Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dan radius 5 kilometer dari kawah, serta mewaspadai awan panas dan lahar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
tahun 2015

Aktivitas erupsi Semeru yang berulang disebut telah berlangsung sejak tahun ini.

9 November 2025

Status Gunung Semeru ditetapkan pada Level III atau Siaga.

Minggu (6/9/2026)

Gunung Semeru kembali erupsi pada pagi hari sekitar pukul 07.51 WIB. Kolom letusan mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak dan bergerak ke arah timur.

Senin (7/9/2026)

BPBD Jatim menyatakan belum ada instruksi evakuasi atau pengungsian karena aktivitas Semeru masih dalam pola rutin. Masyarakat diminta mematuhi pembatasan zona bahaya dari PVMBG.

saat ini

Kondisi Semeru dinilai belum menunjukkan perkembangan menonjol yang mengharuskan evakuasi warga.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Gunung Semeru erupsi pada Minggu pagi dengan kolom abu setinggi sekitar 1.000 meter di atas puncak. Status gunung tetap Level III atau Siaga, tanpa instruksi evakuasi maupun pengungsian warga.
  • Who?
    BPBD Jawa Timur, dipimpin Kepala Pelaksana Gatot Soebroto, memantau kondisi bersama instansi terkait. PVMBG menetapkan batas zona bahaya, sementara warga sekitar Semeru diminta mematuhi pembatasan aktivitas.
  • Where?
    Erupsi terjadi di Gunung Semeru, Jawa Timur. Zona larangan mencakup sektor tenggara Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak, radius 5 kilometer dari kawah, serta sempadan sungai tertentu.
  • When?
    Erupsi teramati pada Minggu, 6 September 2026, sekitar pukul 07.51 WIB. BPBD Jawa Timur menyampaikan kondisi terkini di Surabaya pada Senin, 7 September 2026.
  • Why?
    Menurut BPBD Jawa Timur, erupsi berulang merupakan aktivitas rutin Gunung Semeru sebagai gunung api aktif. Belum ada perkembangan menonjol yang mengharuskan evakuasi, sedangkan status Siaga berlaku sejak 9 November 2025.
  • How?
    Kolom abu putih hingga kelabu bergerak ke timur, terekam seismograf beramplitudo maksimum 23 milimeter selama 102 detik. BPBD memantau aktivitas dan warga diminta menghindari zona bahaya serta mewaspadai awan panas, lava, dan lahar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Gunung Semeru meletus lagi pada Minggu pagi. Abu tebal naik tinggi dan bergerak ke timur. BPBD Jawa Timur bilang Semeru memang sering meletus dan statusnya masih Siaga. Warga belum perlu mengungsi, tetapi tidak boleh masuk tempat bahaya. Petugas terus melihat keadaan gunung. Warga diminta hati-hati dan ikut aturan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pemantauan berkelanjutan BPBD bersama instansi terkait, serta batas zona bahaya yang telah ditetapkan PVMBG, memberi kerangka jelas bagi warga untuk tetap menjalankan aktivitas di wilayah aman. Tidak adanya perkembangan menonjol yang memicu evakuasi menunjukkan penanganan dilakukan secara terukur, sambil menjaga kewaspadaan terhadap perubahan aktivitas Semeru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada Minggu (6/9/2026) pagi. Meski aktivitas vulkanik terus terjadi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur (Jatim) memastikan belum ada instruksi evakuasi maupun pengungsian warga karena kondisi Semeru masih dalam pola aktivitas yang telah berlangsung selama ini.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim Gatot Soebroto mengatakan, Gunung Semeru merupakan gunung api aktif yang masih mengalami erupsi secara berkala. Statusnya juga masih berada pada Level III atau Siaga, yang telah diberlakukan sejak 9 November 2025.

“Kalau vulkanik sebagaimana hari-hari biasanya, Semeru memang selalu mengeluarkan erupsi. Tetapi kondisi tersebut sudah terjadi sejak tahun 2015 dan statusnya masih Siaga 3,” ujarnya di Surabaya, Senin (7/9/2026).

Gatot memastikan, kondisi tersebut tidak menunjukkan adanya perkembangan menonjol yang saat ini mengharuskan masyarakat di sekitar Semeru dievakuasi. Aktivitas warga juga telah terpantau berlangsung di wilayah-wilayah yang dinilai aman sesuai batasan yang ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

“Tidak ada (evakuasi), karena posisinya hal ini terjadi seperti kegiatan-kegiatan seperti biasanya dan tidak ada hal-hal yang menonjol,” tegasnya.

Gatot menambahkan, masyarakat tetap harus mematuhi rekomendasi PVMBG terkait zona bahaya. Menurutnya, penetapan Level III bukan berarti seluruh aktivitas masyarakat harus dihentikan, melainkan terdapat pembatasan pada wilayah tertentu yang memiliki potensi bahaya.

“Sudah disampaikan oleh teman-teman PVMBG batasan-batasan wilayah mana masyarakat boleh bertindak ataupun melakukan kegiatan. Dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan masyarakat sudah terpantau di posisi-posisi yang dirasa aman dan tidak mengalami apapun berdampak pada kegiatan hari-hari masyarakat,” katanya.

Aktivitas erupsi Semeru pada Minggu pagi terjadi sekitar pukul 07.51 WIB. Berdasarkan laporan petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, kolom letusan teramati mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak atau sekitar 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Lebih lanjut, kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah timur. Erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan durasi 102 detik.

Dalam status Level III, masyarakat dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.

Di luar radius tersebut, masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Kawasan tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak.

Selain itu, aktivitas masyarakat dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru juga dilarang karena kawasan tersebut rawan lontaran batu pijar.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru. Sejumlah aliran yang perlu diwaspadai antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk sungai-sungai kecil yang menjadi anak sungai Besuk Kobokan.

Gatot mengatakan, aktivitas erupsi yang berlangsung berulang merupakan karakter Semeru sebagai gunung api aktif. Karena itu, masyarakat tidak perlu panik, tetapi wajib mengikuti pembatasan wilayah dan arahan resmi pemerintah. “Kalau Gunung Semeru memang aktif, sehingga dengan adanya kegiatan-kegiatan erupsi ini justru baik untuk Semeru karena tidak menahan entah apa gejolak yang dari ada dalam bumi karena harus dikeluarkan setiap saat,” katanya.

BPBD Jatim terus memantau perkembangan aktivitas Semeru bersama instansi terkait. Jika terjadi perubahan kondisi yang berpotensi meningkatkan risiko terhadap masyarakat, langkah penanganan akan disesuaikan dengan rekomendasi dan perkembangan aktivitas vulkanik di lapangan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article