Sidoarjo, IDN Times - Badan Gizi Nasional (BGN) minta maaf atas insiden keracunan yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo. Jumlah korban per Jumat (4/9/2026) mencapai 748 orang.
"Kami juga menyampaikan permohonan maaf atas kemungkinan adanya kelalaian ataupun ketidakpatuhan petugas dapur dalam mengoperasionalkan dapur sehingga terjadi kejadian ini," ujar Wakil Kepala BGN Meyjen TNI (Purn) Trenggono di Ponpes Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo.
Trenggono memastikan bahwa seluruh korban telah ditangani dengan baik. Sehingga, sejak hari pertama kejadian pada Selasa (1/9/2026) lalu, tak ada korban yang tak mendapat penanganan medis.
"Kemudian, kami juga mengucapkan terima kasih kepada Pak Bupati yang sudah bertindak cepat sehingga semuanya dapat tertangani dengan baik. Yang utama adalah bagaimana para korban atau masyarakat yang terdampak dapat tertangani dengan baik," ungkap dia.
Di samping menangani korban, BGN juga telah menindak dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin. Dapur tersebut telah dihentikan operasionalnya untuk sementara waktu dan Kepala SPPG juga telah dicopot.
"Suspend ini dalam artian kami melakukan evaluasi dan investigasi. Kemudian, kepala dapur juga kami copot dan diberhentikan. Nanti kami akan mengecek apakah ada unsur lain yang kira-kira menyebabkan kejadian fatal ini," ucapnya.
Atas insiden keracunan ini, Trenggono memastikan sampai saat ini belum ada pihak yang ditetapkan tersangka. Pihaknya fokus menangani korban.
"Sementara masih dalam tahap investigasi. Untuk tersangka, sementara belum ada. Kami lebih fokus pada penanganan korban atau masyarakat yang terdampak terlebih dahulu," jelasnya.
Meski begitu, proses investigasi terhadap penyebab keracunan terus berlangsung. Bila ditemukan unsur kesengajaan, pihaknya akan menindaklanjuti sesuai dengan ketentuan yang ada.
"Masih kami investigasi. Kalau nanti ditemukan unsur pelanggaran hukum, tentunya akan kami tindak lanjuti sesuai dengan ketentuan yang berlaku," ucapnya.
Trenggono menyebut, selama ini proses pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG dilakukan dengan ketat. Bahkan, setiap hari pihaknya selalu menggelar rapat secara daring untuk memastikan program berjalan baik dan tak ada unsur kelalaian.
"Kami membagi pejabat eselon II di BGN sebagai penanggungjawab di setiap provinsi untuk melakukan pengecekan secara langsung melalui zoom. Mulai dari penerimaan bahan mentah, pengecekan baik atau tidaknya bahan-bahan tersebut, hingga kegiatan di dapur. Bahkan sampai sekitar pukul 02.00 dini hari, ada kegiatan mulai dari pembersihan bahan, memasak, hingga pendistribusian," ungkap dia.
Trenggono juga memastikan bahwa seluruh SPPG telah dibekali standar operasional prosedur (SOP). Bila SOP diterapkan dengan baik, ia yakin kejadian keracunan bisa dihindari.
"Jadi, SOP sebenarnya sudah ada. Tinggal bagaimana SOP tersebut dilaksanakan di masing-masing dapur. Saya yakin dan percaya, kalau SOP dilaksanakan dengan baik, kejadian seperti ini tidak akan terjadi," terang dia.
Saat ini total dapur SPPG di Indonesia mencapai 27.485. Setiap hari dilakukan pemantauan dan pengawasan.
"Jumlah dapur kita ada 27.485. Semuanya kami lakukan pengecekan melalui Zoom dari pusat. Setiap kejadian keracunan mayoritas kami cek dan evaluasi karena kemungkinan disebabkan oleh kelalaian atau ketidakpatuhan terhadap SOP," jelasnya.
BGN akan secara tegas akan menghentikan secara permanen SPPG yang tidak mematuhi SOP. Hal ini agar kejadian keracunan tak terjadi lagi.
"Makanya kita lihat. Apabila nanti dapur tidak melaksanakan SOP dengan baik, ada unsur kesengajaan, dan tidak sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan BGN, maka bisa kami suspend secara permanen," pungkas dia.
