Surabaya, IDN Times - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur (Jatim) mengungkap faktor kenaikan harga beras pada awal tahun 2024. Diketahui, harga beras di Jatim saat ini sudah jauh melampui Harga Eceran Tertinggi (HET).
Berdasarkan data Siskaperbapo per Senin (26/2/2024), harga rata-rata beras medium Jatim sebesar Rp11.850. Harga rata-rata tertinggi di Kabupaten Sumenep Rp14.650 dan harga rata-rata terendah di Kabupaten Tulungagung Rp10.766.
Sementara untuk harga rata-rata beras premium di Jatim adalah Rp15.279. Harga rata-rata tertinggi di Kabupaten Nganjuk dan Kabupaten Magetan Rp16.666. Sedangkan harga rata-rata terendah di Kabupaten Tulungagung Rp13.400.
Jika merujuk pada Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 7 Tahun 2023 tentang Harga Eceran Tertinggi Beras, HET beras diatur berdasarkan zonasi. Zona 1 meliputi Jawa, Lampung, Sumsel, Bali, NTB, dan Sulawesi, HET beras medium senilai Rp10.900 per kg sedangkan beras premium Rp13.900 per kg.
Lebih lanjut, Zona 2 meliputi Sumatera selain Lampung dan Sumsel, NTT, dan Kalimantan, HET beras medium sebesar Rp11.500 per kg dan beras premium Rp14.400 per kg. Adapun zona 3 meliputi Maluku dan Papua, HET beras medium sebesar Rp11.800 per kg, dan untuk beras premium sebesar Rp14.800 per kg.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Dydik Rudy Prasetya mengatakan, naiknya harga beras ini karena musim hujan yang menyebabkan produksi beras turun pada Januari. Selain itu juga karena biaya produksi yang naik.
"Kesulitan yang dialami petani adalah untuk pupuk bersubsidi alokasinya berkurang. Dengan kondisi itu, petani harus membeli pupuk non subsidi dan harganya berkali lipat," ujarnya.
Tak hanya itu saja, Rudy menyebut bahwa ongkos tenaga kerja naik di sebagian wilayah tertentu juga mengalami kenaikan. Selain itu biaya transportasi juga naik. Bila diakumulasi biaya produksi mulai dari dari onfarm, benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja, transportasi, semua naik.
"Sehingga itu yang mendorong kenaikan harga beras. Ini analisa kami," ucap dia.
Kendati begitu, Rudy optimitis kenaikan harga beras tidak akan parah. Karena stok produksi beras di Jatim masih surplus. Ia menyebut stok beras tahun lalu masih 2.853.000 ton. Ditambah hasil panen Januari jika dikonversi, produksi padi sekitar 289.791 ton. Sedangkan konsumsi beras pada Januari itu 378.000 sekian ton.
"Stok akhir tahun itu ada 2.853.000 ton, kemudian total ketersediaan sampai Februari 389.000 ton beras, totalnya 3,242.000 juta ton. Kebutuhannya hanya 362.000 ton. Kita masih surplus 2.890.844 ton. Kalau kita hanya memperhatikan Januari, kurang memang. Tapi kita masih punya stok tahun lalu," katanya.
"Kalau Bulog bilang stok cukup dan kami juga bilang stok produksi juga cukup, maka yang harus dilihat adalah distribusinya. Bisa ditanyakan ke Disperindag Jatim. Kalau Disperindag bilang aman, berarti kenaikan harga beras sesuai analisa saya, karena biaya produksi naik," pungkasnya.
