Pasuruan, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Timur (Jatim) belum sepenuhnya terkendali. Sebanyak 92 titik panas atau hotspot masih terdeteksi di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo. Di tengah upaya pemadaman, Gubernur Khofifah Indar Parawansa mengingatkan agar keselamatan petugas dan relawan tidak dikorbankan demi mengejar api.
Peringatan itu disampaikan Khofifah saat meninjau langsung penanganan karhutla di posko Tahura Raden Soerjo, Hutan Cempaka, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Selasa (20/10/2026) malam. Dalam kunjungannya, Khofifah memimpin rapat koordinasi untuk memastikan penanganan kebakaran berjalan dengan memperhitungkan kondisi medan, perkembangan api, arah angin, serta keamanan personel.
"Tentu yang harus kita lakukan sekarang kewaspadaan dan kehati-hatian para relawan," ujar Khofifah seusai rapat koordinasi.
Peringatan tersebut bukan tanpa alasan. Penanganan karhutla di kawasan Gunung Bromo sebelumnya menelan korban enam orang relawan. Lima orang meninggal dunia, sedangkan satu orang lainnya masih menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Khofifah menyampaikan duka cita atas meninggalnya lima relawan. Ia menyebut Dinas Sosial dan BPBD Jatum telah mendatangi lima rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Sementara biaya perawatan korban yang masih dirawat ditanggung Pemprov Jatim. "Kita semua berduka. Ada enam relawan terdampak, lima meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Per hari ini Dinas Sosial dan BPBD Jatim sudah takziyah ke lima rumah duka," katanya.
Menurut Khofifah, kencangnya embusan angin menjadi salah satu faktor yang membuat penanganan kebakaran di kawasan Bromo berujung fatal. Api dapat menjalar atau berubah arah dengan cepat, bahkan ketika petugas berada di luar area kebakaran yang sebelumnya teridentifikasi.
"Yang di Bromo itu sesungguhnya mereka tidak di area karhutla. Ada karhutla yang anginnya kencang sehingga kecepatan angin itu tidak bisa dimitigasi secara lebih aman," ungkapnya.
Khofifah meminta seluruh unsur yang terlibat memperkuat koordinasi, mulai dari Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan, pemerintah desa, kecamatan, hingga jajaran TNI-Polri. Pemetaan medan, jalur evakuasi, komunikasi antartim, perlengkapan pelindung, dan pemantauan kondisi petugas harus menjadi bagian dari operasi pemadaman.
"Koordinasi dengan apakah Manggala Agni ataukah MPA, ataukah relawan yang lain dengan kepala desa, camat dan semua jajaran TNI-Polri yang sudah memiliki pemetaan dengan baik, maka bisa melakukan langkah-langkah pengamanan dan pemadaman maupun pembasahan," jelasnya.
Berdasarkan laporan Dinas Kehutanan Jatim, sebanyak 493 personel gabungan terlibat dalam operasi pemadaman selama periode 13–19 Oktober 2026. Mereka diterjunkan di wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Malang, dan Kota Batu.
Personel tersebut terdiri atas polisi kehutanan, Manggala Agni, BPBD, Polri, penyuluh kehutanan, Masyarakat Peduli Api, relawan, dan masyarakat setempat.
Di tengah pengerahan personel, Khofifah juga mendorong percepatan penanganan melalui dukungan udara. Pemprov Jatim telah mengomunikasikan permohonan bantuan helikopter untuk melakukan water bombing atau pengeboman air dari udara.
"Kita sudah mengomunikasikan agar mendapatkan perbantuan heli untuk melakukan water bombing. Saya rasa kalau ada water bombing kita bisa lebih efektif, dan tentu hujan," katanya.
Tak hanya mengancam kelestarian hutan, kebakaran di Tahura Raden Soerjo turut berdampak pada pasokan air bersih masyarakat di desa-desa penyangga. Laporan penanganan mencatat total 10.260 meter jaringan pipa air terdampak atau rusak di tiga desa di Kabupaten Pasuruan. Rinciannya, 4.000 meter pipa di Desa Tambaksari, 3.750 meter di Desa Jatiarjo, dan 2.510 meter di Desa Dayurejo.
Khofifah menyebut pemenuhan kebutuhan air bersih harus berjalan bersamaan dengan penanganan kebakaran. Untuk jangka pendek, distribusi air bersih perlu dilakukan. Sementara untuk jangka panjang, pemerintah menyiapkan upaya pemulihan pasokan melalui sumur bor atau penyaluran air dari sumber yang memungkinkan.
"Ada ikhtiar yang akan sama-sama kita lakukan. Kalau sumur bor nanti Pak Bupati, kalau Pemprov karena kita sudah melakukan di banyak tempat, itu kalau sumbernya ada kita tarik melalui pipa. Intinya pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat semaksimal mungkin kita ikhtiarkan untuk bisa terpenuhi," tuturnya.
Tahura Raden Soerjo memiliki luas 27.868,30 hektare, membentang di enam kabupaten/kota, serta memiliki 57 desa penyangga. Kawasan ini berperan penting dalam menjaga keanekaragaman hayati, menyimpan karbon, dan melindungi sumber air bagi masyarakat.
Khofifah meminta upaya pemadaman disertai perlindungan kawasan tangkapan air dan vegetasi di sekitar mata air. Masyarakat juga diimbau tidak melakukan pembakaran di dalam maupun sekitar kawasan hutan, mematuhi pembatasan akses, serta segera melaporkan kemunculan api atau asap kepada petugas.
"Yang kita perjuangkan adalah keselamatan manusia dan keberlanjutan kehidupan. Petugas harus terlindungi, warga harus aman, dan sumber air harus tetap terjaga. Inilah tanggung jawab bersama yang harus kita jalankan dengan gotong royong," pungkasnya.
