Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Asal-usul Gili Iyang Sumenep, Pulau Oksigen Dambaan Wisatawan

Asal-usul Gili Iyang Sumenep, Pulau Oksigen Dambaan Wisatawan
Wisata Gili Iyang Sumenep. Dinas Pariwisata Kabupaten Sumenep
Intinya Sih
  • Gili Iyang di Sumenep dikenal sebagai Pulau Oksigen karena kandungan oksigennya mencapai 20,9%, menarik wisatawan dan peneliti dari dalam maupun luar negeri.
  • Pulau ini mulai dihuni sejak masa Sultan Abdurrahman oleh keluarga pelaut Makassar bernama Daeng Masalle, yang menetap dan berasimilasi dengan warga lokal.
  • Akses ke Gili Iyang dapat ditempuh lewat taksi laut dari Dungkek, sementara Pemkab Sumenep telah membangun jalan serta listrik untuk mendukung pariwisata pulau tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Sumenep, IDN Times - Belasan tahun silam, tim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menemukan kandungan oksigen di pulau Gili Iyang, Kabupaten Sumenep, Madura mencapai 20,9% dengan LEL (Level Explosif Limit) 0,5%. Kandungan oksigen itu termasuk dalam ambang batas normal dan bermanfaat bagi kesehatan makhluk hidup yang menghirupnya.

Temuan itu ternyata menarik banyak wisatawan dan peneliti untuk mendatangi pulau kecil tersebut. Tak ayal, turis dari dalam negeri dan mancanegara pun menyerbu pulau mini dengan penduduk kurang lebih 4500 jiwa itu. 

Nah, kalau kamu penasaran dengan sejarah Gili Iyang, simak artikel ini.

1. Sejarah Gili Iyang mulai dihuni manusia

Panorama keindahan batu tebing di Gili Iyang. Jadesta/Kemenparekraf
Panorama keindahan batu tebing di Gili Iyang. Jadesta/Kemenparekraf

Gili Iyang adalah sebuah pulau kecil di tengah 17 ribu pulau di kawasan Nusantara yang didatangi banyak kalangan, suku, dan bahkan bangsa hanya untuk menghirup oksigen di pulau mini itu.

Salah satu anggota penyusun buku pulau Giliyang, Arman Mustafa mengatakan, Gili Iyang sendiri merupakan bagian dari Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep. Pulau ini diyakini mulai dihuni sejak masa pemerintahan Sultan Abdurrahman (1811-1854). Dalam buku berjudul Gili Iyang Salah Satu Pulau Wisata Sehat (2014) disebutkan kalau ada seorang keluarga pelaut dari Makassar bernama Daeng Masalle.

"Kita dapat info itu dari keturunan Daeng Masalle yang pertama kali tiba melalui pantai Leguna," kata Arman seperti dikutip dari Sumenep.go.id.

Pantai Leguna tersebut saat ini menjadi Desa Banraas. Satu di antara dua desa di Gili Iyang. Mengenai asal usul nama Gili Iyang, menurut Arman berasal dari kata Gili (pulau) dan Iyang (sesepuh). Meski ia sendiri tidak menampik jika ada versi lain.

"Malah ada yang mengatakan jika  Daeng Masalle itu tiba di Gili Iyang sekitar 1920-an. Ini mungkin perlu dikaji lagi, karena yang menceritakan pada kami itu keturunan Masalle yang kedelapan. Ia juga menyebut tahun kedatangan leluhurnya itu. Yaitu tahun 1818," ungkap Arman.

Setelah Masalle, banyak keluarganya yang dari Makassar ikut hijrah melalui Desa Bancamara. Mereka terus menetap turun-temurun dan berasimilasi dengan warga lokal.

"Sisa-sisa sejarahnya masih ada salah satunya berupa pagar Batu tempo dulu " tutup Arman.

2. Rute dan transportasi menuju Gili Iyang

KMP Gili Iyang (dok. pribadi/Darmaji Taufiq)
KMP Gili Iyang (dok. pribadi/Darmaji Taufiq)

Wisatawan yang ingin berkunjung ke pulau itu bisa datang dengan menggunakan taksi laut dengan waktu tempuh 30 sampai 40 menit. Mereka bisa naik dari Pelabutan Penyeberangan Dungkek, yang berjarak 30 kilometer dari pusat kota Sumenep.

Ongkosnya pun tidak mahal. Pengunjung hanya mengeluarkan ongkos taksi laut sebesar Rp 10 ribu untuk menumpang perahu berkapasitas antara 20-50 orang bergantung ukuran angkutannya. 

Gili Iyang memiliki dua dermaga yaitu di Pantai Ropet, Desa Banraas di ujung timur pulau yang dikhususkan bagi perahu nelayan. Satu lagi, dermaga penumpang di Desa Bancamara, di ujung barat pulau.

3. Pemkab Sumenep membangun jalan dan penerangan

Hasil penelitian Lembaga Penelitian Antariksa Nasional (LAPAN) pada tahun 2006, kandungan oksigen di pulau Gili Iyang mencapai 20.9 persen dengan Level Explosif Limit (LEL) 0,5 persen dan merupakan yang terbaik di Indonesia. (Dok. Pemkab Sumenep)
Hasil penelitian Lembaga Penelitian Antariksa Nasional (LAPAN) pada tahun 2006, kandungan oksigen di pulau Gili Iyang mencapai 20.9 persen dengan Level Explosif Limit (LEL) 0,5 persen dan merupakan yang terbaik di Indonesia. (Dok. Pemkab Sumenep)

Untuk menunjang pariwisata, Pemkab Sumenep telah membangun jalan di sepanjang pulau itu. Selain itu, sejak November 2017 PT Perusahaan Listrik Negara juga telah memasang pembangkit listrik berkekuatan 3x500 kilowatt. Ini untuk membantu menerangi Pulau Oksigen yang selama puluhan tahun mengandalkan pembangkit swadaya berupa ribuan generator set yang dipasang sendiri oleh warga.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin

Latest Travel Jawa Timur

See More