Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Di Balik Chant Bonek, Ada Aksi One Man One Mask untuk Karhutla

Kota Surabaya
3 min read
Di Balik Chant Bonek, Ada Aksi One Man One Mask untuk Karhutla
Aksi penggalangan masker oleh Bonek di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya untuk peduli korban karhutla. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Bonek menggelar donasi masker One Man One Mask di Stadion Gelora Bung Tomo saat laga Persebaya melawan PSS untuk membantu warga terdampak karhutla di Kalimantan, Sumatra, dan wilayah lain.

  • BDRT membuka pengumpulan di Gate 3, Gate 18, dan Gate VVIP; sekitar 1.000 masker telah terkumpul dari target 5.000 masker.

  • Jika target tercapai, BDRT akan menyalurkan bantuan langsung ke Kalimantan serta sebagian ke Sumatra, dengan partisipasi suporter termasuk keluarga dan anak-anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Di antara riuh chant, kibaran bendera, dan gemuruh dukungan untuk Persebaya, Minggu (18/10/2026), ada pesan kemanusiaan yang ikut mengalir di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya. Bukan hanya tentang kemenangan di lapangan, melainkan juga kepedulian kepada sesama yang sedang berjuang menghadapi bencana.

Para suporter Persebaya, Bonek, menggelar aksi donasi masker bertajuk One Man One Mask. Lewat gerakan sederhana ini, mereka mengajak sesama suporter menyisihkan masker untuk membantu masyarakat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Sumatra, serta wilayah lain di Indonesia.

Di tengah semangat mendukung tim kebanggaan, para Bonek diajak mengingat bahwa di luar stadion, ada saudara sebangsa yang membutuhkan uluran tangan. Asap akibat karhutla bukan hanya menyisakan persoalan lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.

Gerakan itu pun menemukan tempatnya di tengah tradisi kebersamaan Bonek. Sebelum memasuki stadion untuk menyaksikan laga Persebaya melawan PSS, para suporter bisa mendatangi titik pengumpulan donasi yang disediakan relawan.

Salah satu relawan Bonek Disaster Response Team (BDRT), Muhammad Irfan Hakim mengatakan, penerimaan donasi dipusatkan di tiga lokasi. Yakni Gate 3, Gate 18, dan Gate VVIP Stadion GBT.

Antusiasme suporter menjadi energi tersendiri bagi para relawan yang berjaga. Masker demi masker terkumpul, dibawa oleh mereka yang ingin ikut membantu, sekecil apa pun sumbangan yang diberikan.

“Untuk sementara, sudah terkumpul sekitar 1.000-an masker,” ujarnya.

Bagi BDRT, setiap masker yang disumbangkan memiliki arti. Ada kepedulian dari seseorang, keluarga, atau kelompok suporter yang mungkin tidak mengenal langsung warga terdampak karhutla, tetapi tetap ingin meringankan beban mereka.

Target pengumpulan ditetapkan sebanyak 5.000 masker. Jika jumlah tersebut terpenuhi, BDRT berencana segera mengirimkan bantuan ke Kalimantan. Sebagian donasi lainnya akan dialokasikan untuk wilayah terdampak lain, termasuk Sumatra.

“Kalau misalnya sudah terpenuhi 5.000, kami langsung terbangkan ke Kalimantan. Sedangkan sebagian sisanya kami berikan ke lokasi terdampak lainnya, seperti Sumatra juga,” katanya.

BDRT juga berencana menyalurkan bantuan secara langsung melalui tim mereka sendiri. Dengan begitu, relawan dapat mengantarkan masker ke wilayah tujuan tanpa melalui perantara organisasi relawan lain.

“Bantuan ini sepertinya dari tim sendiri yang menyalurkan ke sana. Jadi tim kami berangkat ke Kalimantan,” tutur Irfan.

Masker yang terkumpul mayoritas berupa masker dalam kemasan boks. Jenis bantuan ini sejalan dengan semangat One Man One Mask, sebuah ajakan agar setiap orang bisa mengambil bagian dalam gerakan kemanusiaan melalui kontribusi sederhana.

Kepedulian itu tidak selalu harus datang dalam jumlah besar. Di antara para suporter yang menyumbangkan masker, Miftahul Huda memilih datang bersama keluarganya untuk memberikan delapan pak masker bagi warga terdampak karhutla.

Huda bilang, bantuan yang disalurkannya menjadi cara sederhana untuk menunjukkan bahwa jarak bukan alasan untuk tidak peduli. Meski berada jauh dari wilayah bencana, ia berharap sumbangannya dapat membantu masyarakat yang tengah menghadapi dampak asap.

“Saya membawa delapan pak masker untuk karhutla Kalimantan. Semoga lekas membaik,” harap Huda.

Harapan serupa datang dari Shafiyya Asmira Zahra, salah satu Bonek cilik yang turut menyerahkan donasi bersama orang tuanya.

Di usianya yang masih belia, Shafiyya telah mendapat kesempatan untuk mengenal arti berbagi. Ia membawa satu boks masker ke posko penerimaan donasi, lalu menitipkan harapannya bagi masyarakat yang terdampak karhutla.

“Saya membawa satu boks masker. Saya doakan semoga lekas membaik. Saya senang juga ada program seperti ini,” katanya.

Sumbangan Shafiyya mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik satu boks masker itu, ada pelajaran tentang empati yang tumbuh sejak dini. Membantu orang lain tidak harus menunggu dewasa, memiliki banyak uang, atau mengenal orang yang akan dibantu.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More