Hasil masakan Titik di Warung Arema. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)
Lebih lanjut, Titik menceritakan kalau dirinya sudah berjualan makanan dengan menggunakan arang sejak 1970. Namun, saat itu nama warungnya masih Warung Gang Buntu dan hanya menyediakan menu rujak cingur. Warungnya juga masih sangat kecil di Jalan Zainul Arifin, tapi para pelanggannya kebanyakan adalah mahasiswa Universitas Brawijaya (UB)
Namun, lama kelamaan para mahasiswa ini bosan dengan menu rujak cingur saja. Mereka meminta Titik untuk membuat menu nasi campur agar pilihan menunya lebih variatif. Tak ayal, ia menuruti permintaan para mahasiswa ini. Justru nasi campur buatannya yang jadi laris manis oleh mahasiswa.
Harga makanan yang dijual di sana juga ramah pada kantong mahasiswa, hal ini juga yang membuat warungnya jadi primadona mahasiswa berkantong cekak. Satu porsi nasi campur hanya dibanderol dengan harga Rp10 ribu sampai Rp18 ribu. Menu yang ditawarkan mulai sari nasi urat-urat dengan lauk seperti mie, tempe, mendol, bakwan jagung, sate komoh, hingga ayam goreng.
"Karena pembeli makin banyak, pada 2017 kita pindah ke sini yang bangunannya lebih luas dan nama warungnya diganti jadi Warung Arema. Tapi masih sama tetap di Jalan Zainul Arifin, soalnya kalau pindah terlalu jauh takutnya pelanggan lama jadi gak datang lagi," bebernya.