Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Stok Telur Menumpuk 300 Ton, Harga Ambruk, Peternak Merugi
Ilustrasi telur ayam (pexels.com/Eimi Vergara)
  • Harga telur di Jatim anjlok di tingkat peternak hingga Rp21.500–Rp22.500 per kilogram, sementara harga konsumen tetap sekitar Rp25.851, membuat peternak rugi sampai Rp5.000 per kilogram.
  • Penurunan harga dipicu stok telur menumpuk hingga 300 ton pasca-Lebaran dan turunnya penyerapan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
  • Pemerintah Provinsi Jatim berkoordinasi dengan pusat untuk menstabilkan pasar dengan meningkatkan penyerapan melalui Program MBG agar produksi peternak terserap dan harga kembali seimbang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Harga telur ayam ras di Jawa Timur (Jatim) sedang menunjukkan paradoks. Di tingkat konsumen, harga masih bertahan di kisaran Rp25.851 per kilogram. Namun di kandang peternak, harga justru ambruk hingga hanya Rp21.500-Rp22.500 per kilogram, membuat banyak peternak merugi sampai Rp5.000 per kilogram.

Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) per Rabu (3/6/2026), harga rata-rata telur ayam ras di Jatim tercatat Rp25.851 per kilogram. Harga tertinggi berada di Kota Surabaya sebesar Rp27.250 per kilogram, sedangkan harga terendah tercatat di Kabupaten Nganjuk dan Kota Pasuruan sebesar Rp24.500 per kilogram.

Di balik harga yang relatif stabil di pasar, peternak justru menghadapi tekanan berat akibat melimpahnya pasokan telur. Ketua Asosiasi Paguyuban Peternak Rakyat Nasional (PPRN), Rofi Yasifun menyebut, kondisi ini mulai terjadi setelah momentum Lebaran berakhir dan penyerapan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menurun.

"Terjadi penumpukan stok telur di kandang peternak sejak libur Lebaran. Apalagi saat itu juga bertepatan dengan liburnya program MBG sehingga serapan berkurang drastis," ungkapnya.

Menurut Rofi, dampak paling terasa terjadi di Kabupaten Blitar yang selama ini menjadi salah satu sentra produksi telur terbesar di Indonesia. Di daerah tersebut, peternak besar bahkan mengalami penumpukan stok hingga ratusan ton. "Di Blitar saja, peternak besar bisa menumpuk hingga 300 ton telur di kandang masing-masing," katanya.

Melimpahnya stok membuat harga telur di tingkat peternak tertekan jauh di bawah harapan. Saat ini telur hanya laku di kisaran Rp21.500 hingga Rp22.500 per kilogram, sementara biaya produksi terus meningkat.

Akibatnya, peternak kecil menjadi kelompok yang paling terdampak karena harus menjual telur dengan harga murah untuk menjaga perputaran modal usaha. "Kerugian para peternak mencapai Rp5.000 per kilogram," beber Rofi.

Tekanan tersebut semakin berat karena harga pakan terus naik. Peternak ayam petelur asal Jombang, Sri Wahyuni, mengaku harga pakan 50 kilogram yang sebelumnya berkisar Rp345 ribu-Rp350 ribu kini melonjak menjadi sekitar Rp365 ribu per sak.

"Kami berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga pakan maupun harga jual telur agar peternak kecil tetap bisa bertahan," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Jatim, Indyah Aryani, menjelaskan anjloknya harga telur tidak lepas dari keputusan peternak yang sebelumnya meningkatkan produksi untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan selama Idul Fitri dan program MBG.

Namun, peningkatan permintaan yang diharapkan ternyata tidak terjadi sesuai perkiraan. Bahkan, penyerapan dari sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sempat menurun sehingga stok menumpuk di kandang.

"Masalahnya saat ini para peternak sudah terlanjur meningkatkan skala produksi karena mengantisipasi MBG dan kebutuhan hari raya. Tapi ternyata ekspektasinya tidak sesuai realisasi. Bahkan kemarin ada penurunan penyerapan dari SPPG," jelas Indi--sapaan karibnya-.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemprov Jatim bersama pemerintah pusat mulai menyiapkan langkah penyelamatan pasar telur. Salah satunya dengan meningkatkan penyerapan melalui Program MBG. "Kami sudah berkomitmen agar SPPG menambah menu telur untuk membantu menyerap produksi peternak," pungkasnya.

Editorial Team

Related Article