Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Solar Langka, Logistik Jatim Diprediksi Lumpuh 30 Persen
Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus jaga pasokan BBM dan LPG selama hari raya (Dok.IDN Times/istimewa)
  • Kelangkaan Biosolar di Jawa Timur menyebabkan antrean panjang truk di berbagai SPBU dan membuat sekitar 30 persen aktivitas logistik provinsi tersebut terganggu.
  • Aptrindo Jatim menyebut pembatasan kuota solar bersubsidi sebesar 1,2 persen dari total alokasi nasional menjadi pemicu utama kelangkaan dan antrean panjang sopir truk.
  • Pertamina Patra Niaga menambah 12 mobil tangki khusus Biosolar serta memprioritaskan pasokan ke jalur logistik utama untuk mempercepat distribusi dan menormalkan kondisi antrean.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Antrean panjang truk mengular di sejumlah SPBU di Jawa Timur (Jatm) memasuki hari keempat. Kelangkaan Biosolar yang dikeluhkan para sopir kini mulai mengganggu distribusi logistik. Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jatim, memperkirakan sekitar 30 persen aktivitas logistik di provinsi ini terdampak akibat truk memilih berhenti beroperasi sambil menunggu pasokan solar.

Ketua DPD Aptrindo Jatim, Sundoro mengatakan, antrean terjadi di sejumlah titik, mulai kawasan Margomulyo, MERR Surabaya, hingga jalur arteri Porong, Sidoarjo. Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar sepekan dan semakin parah dalam beberapa hari terakhir.

"Semuanya antre. Mulai Margomulyo sampai Arteri Porong. Sopir harus menunggu berjam-jam, bahkan bisa sampai satu hari penuh hanya untuk mendapatkan solar," ujarnya, Minggu (28/6/2026).

Sundoro menyebut antrean dipicu pembatasan kuota Biosolar di SPBU. Berdasarkan informasi yang diterima Aptrindo, pemerintah memangkas kuota solar bersubsidi sekitar 1,2 persen dari total alokasi nasional sebesar 18 juta kiloliter.

Akibat sistem kuota tersebut, banyak SPBU kehabisan stok sebelum jadwal pengiriman berikutnya tiba. Di sisi lain, SPBU tidak dapat meminta tambahan pasokan ketika kuota hariannya habis.

"Kalau kuota di SPBU habis, mereka tidak bisa minta lagi. Sopir akhirnya berburu ke SPBU lain, padahal belum tentu ada stok," katanya.

Kondisi itu membuat banyak truk memilih mengantre daripada tetap mengirim barang dan berisiko kehabisan bahan bakar di perjalanan. Dampaknya, distribusi logistik di Jatim mulai tersendat.

"Kami perkirakan sekitar 30 persen distribusi logistik terganggu. Banyak sopir memilih tidak jalan sambil menunggu BBM tersedia," ucap Sundoro.

Aptrindo pun mendesak pemerintah mengevaluasi sistem distribusi Biosolar bersubsidi. Menurut Sundoro, subsidi harga tidak akan bermanfaat apabila ketersediaan BBM di lapangan tidak terjamin.

"Percuma saja kalau harganya disubsidi tetapi barangnya tidak ada. Masalah utamanya bukan harga, melainkan kepastian distribusi," tegasnya.

Menanggapi kondisi tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jatim, Aftabuddin Rijaluzzaman menyampaikan, Pertamina Patra Niaga telah mengambil langkah percepatan distribusi untuk mengurai antrean. Menurut informasi yang diterima Dinas ESDM, lonjakan antrean dipicu meningkatnya konsumsi Biosolar secara bersamaan di wilayah Surabaya Raya.

"Pertamina telah menambah 12 unit mobil tangki khusus Biosolar sejak 23 Juni yang difokuskan melayani jalur logistik, akses pelabuhan, dan pintu tol," kata Aftabuddin.

Selain mempercepat distribusi, Pertamina juga memprioritaskan pasokan ke wilayah-wilayah vital yang menjadi pusat aktivitas angkutan barang. Berdasarkan proyeksi Pertamina, antrean di Surabaya Raya diperkirakan segera berangsur normal.

Editorial Team

Related Article