Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Siswa SMP di Surabaya Ciptakan Robot untuk Deteksi Korban Bencana Alam
Robot pendeteksi korban gempa bumi karya siswa SMP di Surabaya. (Dok. Al Azhar)
  • Lima siswa SMP Islam Al-Azhar 13 Surabaya menciptakan A.W.A.R.E BOT untuk membantu tim SAR mendeteksi indikasi korban bencana di area reruntuhan atau sulit dijangkau.

  • Robot berbasis Arduino ini memakai sensor termal, radar, dan kamera; operator memantau data lewat dashboard. Prototipe berjangkauan 30–50 meter, dengan akurasi sensor dan jangkauan masih dikembangkan.

  • Tim Stay Aware meraih Gold Medal kategori IoT and Applications di Indonesia Inventors Day 2026. Mereka berencana menambah kemampuan membawa perlengkapan P3K, makanan, dan minuman darurat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya , IDN Times – Lima siswa SMP di Surabaya merancang robot untuk membantu mendeteksi korban bencana. Mereka adalah murid SMP Islam Al-Azhar 13 Surabaya.

Para siswa itu memadukan perangkat elektronik, sensor, sistem kendali, dan pemrograman untuk menghasilkan A.W.A.R.E BOT, inovasi yang mengantarkan tim Stay Aware meraih Gold Medal dalam Indonesia Inventors Day (IID) 2026.

Salah satu anggota tim, Keyaan Anargya Afrianto, mengatakan, A.W.A.R.E BOT atau Advanced Warning and Rescue dirancang untuk membantu tim Search and Rescue (SAR) mendeteksi indikasi keberadaan korban di lokasi bencana, termasuk area yang tertutup reruntuhan atau sulit dijangkau secara langsung.

“Kami belajar bahwa membuat robot bukan hanya memasang komponen, tetapi juga harus memastikan sensor, kamera, dan sistem kendalinya dapat bekerja bersama. Tantangannya adalah membuat semua bagian tersebut berfungsi sesuai rancangan,” ujar Keyaan, Rabu (14/10/2026).

Robot tersebut menggunakan mikrokontroler Arduino sebagai bagian dari sistem elektroniknya. Para siswa mengembangkan pemrograman, merakit perangkat, memasang sensor, serta menyusun sistem kendali agar robot dapat dioperasikan dari jarak tertentu.

Sejumlah komponen elektronik diperoleh melalui toko daring, termasuk perangkat sensor yang dibutuhkan untuk mendukung fungsi pendeteksian. Meski demikian, proses perakitan dan pengembangan sistem dilakukan sendiri oleh anggota tim.

A.W.A.R.E BOT dilengkapi sensor termal untuk membaca suhu, sensor radar untuk membantu mendeteksi indikasi keberadaan manusia, serta kamera untuk menampilkan kondisi di sekitar robot. Data yang diperoleh dapat dipantau operator melalui sistem kendali dan dashboard robot.

Dalam pengujian prototipe, robot tersebut memiliki jangkauan operasional sekitar 30–50 meter. Jangkauan itu masih menjadi salah satu aspek yang ingin ditingkatkan agar robot dapat menjangkau area pencarian lebih luas.

Selain jarak operasional, penyempurnaan akurasi sensor juga menjadi perhatian tim. Indikasi yang terbaca perangkat perlu digunakan sebagai informasi awal bagi petugas, bukan sebagai kepastian bahwa korban berada di titik tertentu.

“Menurut kami, robot ini masih perlu banyak dikembangkan. Kami ingin meningkatkan akurasi sensor dan memperluas jangkauannya supaya informasi yang diberikan bisa semakin membantu tim SAR ketika melakukan pencarian,” terangnya.

Tantangan lainnya adalah biaya komponen. Sensor radar menjadi salah satu perangkat yang relatif mahal dalam pembuatan prototipe, sehingga pemilihan dan pemanfaatan komponen perlu disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan.

Ke depan, tim Stay Aware juga merencanakan penambahan fungsi untuk membawa perlengkapan pertolongan pertama. Robot tersebut diharapkan dapat dikembangkan agar mampu membawa makanan dan minuman darurat bagi korban yang belum dapat dijangkau petugas.

Pengembangan A.W.A.R.E BOT melanjutkan eksperimen tim dalam bidang teknologi keselamatan. Pada 2025, mereka memperkenalkan A.W.A.R.E JACKET (Advanced Warning and Risk Evacuation), jaket pintar yang dirancang membantu mendeteksi indikasi kecelakaan kerja pada pekerja konstruksi.

Jaket tersebut memanfaatkan perubahan gerakan atau sudut tubuh untuk mengidentifikasi kemungkinan terjadinya insiden. Sistemnya dirancang memberikan peringatan suara dan mengirimkan notifikasi melalui aplikasi, termasuk informasi lokasi berbasis GPS.

Pengalaman mengembangkan A.W.A.R.E JACKET menjadi bagian dari perjalanan tim dalam menciptakan inovasi yang berangkat dari persoalan nyata. Melalui A.W.A.R.E BOT, mereka mencoba menerapkan pendekatan teknologi serupa untuk mendukung proses pencarian korban bencana.

Upaya tersebut membuahkan hasil dalam Indonesia Inventors Day 2026 yang berlangsung pada 3–6 Oktober 2026 di SMESCO Indonesia, Jakarta. Tim Stay Aware meraih Gold Medal pada kategori IoT and Applications untuk kelompok usia sekitar 13–15 tahun, bersaing dengan peserta dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Vietnam.

Tim Stay Aware terdiri atas Nismara Rukmi Shadina sebagai ketua, bersama Alzena Kayla Prajatara, Ameera Maylova Danesha Athaya, Keyaan Anargya Afrianto, dan Airlangga Arkananta Rasendriya.

Bagi Keyaan dan rekan-rekannya, prestasi internasional tersebut menjadi motivasi untuk terus belajar dan menyempurnakan karya. Mereka berharap A.W.A.R.E BOT tidak berhenti sebagai prototipe kompetisi, tetapi dapat dikembangkan lebih lanjut agar kelak berguna dalam mendukung misi penyelamatan korban bencana.

Curated For You

Editorial Team

Related Article