Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Setelah Telur, Peternak Ayam Broiler di Ngawi Diambang Gulung Tikar
Sajad peternak ayam pedaging di Desa Gelung, Kecamatan Paron Ngawi. IDN Times/Riyanto.
  • Harga ayam broiler di Ngawi turun dari Rp21 ribu menjadi Rp15 ribu per kilogram, membuat peternak kesulitan menutup biaya produksi dan terancam gulung tikar.
  • Biaya pakan naik dari Rp408 ribu menjadi Rp465 ribu per sak, sementara harga vaksin melonjak hingga tiga kali lipat, memperberat beban usaha peternak.
  • Peternak ayam broiler dan petelur berharap pemerintah segera menstabilkan harga serta menekan biaya pakan dan vaksin agar usaha peternakan rakyat tetap bertahan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ngawi, IDN Times – Derita peternak ayam di Kabupaten Ngawi belum juga berakhir. Setelah sebelumnya peternak ayam petelur angkat bendera putih akibat anjloknya harga telur, kini giliran peternak ayam pedaging (broiler) yang menghadapi nasib serupa. Harga ayam hidup di tingkat peternak merosot tajam dalam dua bulan terakhir, sementara biaya produksi terus merangkak naik.

Kondisi itu dialami peternak di Desa Gelung, Kecamatan Paron. Harga ayam hidup yang sebelumnya mencapai Rp21 ribu per kilogram kini hanya dihargai sekitar Rp15 ribu per kilogram. Penurunan hingga Rp6 ribu per kilogram tersebut membuat peternak kesulitan menutup biaya produksi.

1. Harga ayam turun, peternak kehilangan keuntungan

Sajad peternak ayam pedaging di Desa Gelung, Kecamatan Paron Ngawi. IDN Times/Riyanto.

Anjloknya harga ayam hidup membuat peternak tidak lagi menikmati keuntungan dari setiap masa panen. Pendapatan yang diperoleh bahkan dinilai tidak cukup untuk menutup biaya pemeliharaan.

Sajad, peternak ayam broiler di Desa Gelung, mengaku situasi tersebut membuat para peternak semakin tertekan. Jika kondisi itu terus berlangsung, banyak peternak diperkirakan tidak mampu mempertahankan usahanya.

"Susah jadi peternak. Dulu harga ayam masih Rp21 ribu per kilogram, sekarang tinggal Rp15 ribu. Belum lagi harga pakan naik. Kalau terus seperti ini, kami bisa gulung tikar," katanya, Kamis (9/7/2026).

2. Pakan dan vaksin ikut melambung

Sajad peternak ayam pedaging di Desa Gelung, Kecamatan Paron Ngawi. IDN Times/Riyanto.

Kesulitan peternak semakin bertambah karena biaya produksi tidak ikut turun. Harga pakan naik dari sekitar Rp408 ribu menjadi Rp465 ribu per sak isi 50 kilogram. Sementara harga vaksin juga disebut meningkat hingga tiga kali lipat.

Kenaikan biaya tersebut membuat beban usaha semakin berat. Meski harga jual ayam terus merosot, peternak tetap harus membeli pakan dan vaksin dengan harga yang lebih mahal agar ternaknya tetap tumbuh dan terhindar dari penyakit.

3. Menyusul peternak telur, peternak broiler berharap pemerintah bertindak

Danang peternak ayam petelur di Desa Gelung, Kecamatan Paron Ngawi. IDN Times/Riyanto.

Sebelumnya, peternak ayam petelur di desa yang sama juga mengeluhkan kerugian akibat harga telur turun dari Rp23 ribu menjadi Rp20 ribu per kilogram. Kondisi itu membuat banyak peternak mulai mempertimbangkan untuk menghentikan usahanya.

Danang, peternak ayam petelur, mengatakan kerugian terus terjadi karena harga jual tidak sebanding dengan biaya produksi.

"Menyedihkan, Mas. Harga beli pakan dengan harga jual telur tidak seimbang, jadi kami terus merugi. Kalau begini terus, kami akan tutup saja usaha ini," ujarnya.

Para peternak berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga ayam dan telur di tingkat peternak. Selain itu, mereka juga meminta perhatian terhadap tingginya harga pakan dan vaksin yang dinilai menjadi penyebab utama membengkaknya biaya produksi. Tanpa kebijakan yang berpihak kepada peternak rakyat, mereka khawatir semakin banyak kandang yang terpaksa tutup dan usaha peternakan rakyat perlahan menghilang.

Curated For You

Editorial Team

Related Article