Sempat Panas, Massa Tolak Relokasi RPH Bubar, Demo Lagi Bawa Tenda

- Massa tolak relokasi RPH di Balai Kota Surabaya memanas, lalu membubarkan diri dan akan datang lagi besok membawa alat masak hingga tenda
- Mereka meminta Wali Kota Surabaya menemui mereka, menerobos masuk ke dalam area Balai Kota, dan menggedor-gedor pintu kaca balai kota
- Koordinator aksi menyatakan bahwa seluruh jagal di RPH Surabaya mogok kerja dan akan terus melakukan aksi mogok sampai tuntutan mereka dipenuhi
Surabaya, IDN Times - Massa aksi tolak relokasi rumah pemotongan hewan (RPH) di Balai Kota Surabaya, Selasa (13/1/2026) sempat memanas. Kini mereka membubarkan diri dan akan datang lagi besok, Rabu (14/1/2026) membawa alat masak hingga tenda h
Pantauan IDN Times di lapangan, massa awalnya menggelar orasi di depan Balai Kota Surabaya. Mereka meminta agar Wali Kota Surabaya menemui mereka.
Di tengah aksi itu, massa aksi menerobos masuk ke dalam area Balai Kota Surabaya. Mereka lalu berbondong-bondong menggeruduk lobi.
Aksi sempat memanas saat massa memaksa masuk ke dalam kantor Balai Kota Surabaya. Terapi, mereka dihalangi oleh petugas keamanan. Hal ini membuat aksi saling dorong terjadi antara petugas keamanan dan massa yang mayoritas ibu-ibu.
Ketegangan pun terjadi, sejumlah pot tanaman di depan lobi porak-poranda. Massa menggedor-gedor pintu kaca balai kota.
"Kami cuma minta ditemui pak, kami sudah dari pagi di sini, kasihan anak-anak kami," ujar massa.
Beruntungnya hal ini tak berlangsung lama. Massa kemudian mundur. Mereka digiring keluar meninggalkan area Balai Kota Surabaya.
Mobil komando mengatakan, massa akan datang lagi bila tuntutan tak dipenuhi. Mereka akan datang membawa alat masak, alat solat hingga tenda
"Bawa peralatan dapur, peralatan solat, bawa tenda. Besok kita akan demo lagi. Kita kompak. Tolong ibu-ibunya tolong besok bawa kompor, alat nasi, kita makan di sini sampai tuntutan kita dipenuhi, biar tidak ada akses, dari pada anarkis besok kita kembali ke sini," pungkas dia.
Sebelumnya, sejumlah jagal Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Surabaya dan pedagang daging Jalan Arimbi, Pegirian, Kecamatan Semampir Surabaya kembali menggeruduk Balai Kota Surabaya, Selasa (13/1/2026). Tuntutan mereka masih sama yakni tak mau RPH direlokasi.
Koordinator Aksi, Abdullah Mansyur mengatakan, sama seperti aksi sebelumnya, pihaknya meminta Wali Kota Surabaya , Eri Cahyadi mencabut surat tentang kebijakan pemindahan RPH dari Pegirian ke Tambak Osowilangun. Letak RPH yang baru dinilai cukup jauh dari RPH lama.
"Yang kedua, saya memohon dan mencabut surat edaran tentang pendaftaran jagal yang memaksa untuk dipindah dari Pegirian ke tempat yang baru," ujarnya.
Abdullah menyebut, seluruh jagal di RPH Surabaya kini mogok kerja. Hal ini juga dilakukan oleh pedagang daging Jalan Arimbi, Surabaya. "Ini mogok (kerja), dari kemarin sampai hari ini masih mogok," sebutnya.
Bila hari ini aksi mereka tak ditemui oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya maka pihaknya akan terus melakukan aksi mogok. Mogok bahkan akan dilakukan sampai Pemkot memenuhi tuntutan mereka untuk tak memindah RPH.
"Kita tetap akan melakukan aksi mogok satu bulan, dua bulan, satu tahun kita akan melakukan aksi mogok," ucap Abdullah.
Abdullah menyebut, aksi akan dilakukan selama empat hari. Hal ini untuk menujukkan kepada pemerintah bahwa jagal dan pedagang daging merupakan bagian pelaku ekonomi yang berperan menjaga stabilitas ekonomi.
"Aksinya itu selama empat hari. Tapi mogoknya, mogok kerja, karena ini sebagai alarm terhadap stabilitas nasional secara ekonominya, kita akan melakukan aksi mogok sampai betul-betul tuntutan kami dipenuhi," tuturnya.
Pihaknya mengancam akan menganggu ketersedian pasokan daging di Surabaya. Ini sampai tuntutan terpenuhi.
"Dan kita pastikan ya, untuk kemudian di kota Surabaya tidak akan ada peredaran daging sapi, kita melihat, bisa cek di pasar-pasar, di Kota Surabaya itu tidak ada peredaran daging sapi sama sekali," pungkas dia


















