Sumur tua yang ditutupi oleh kain putih di dalam situs Punden Buyut Canting Kelurahan Kedurus (IDN Times/Thoriq Achmad D A)
Desa Kudadu kini diperkirakan berada di wilayah Kelurahan Kedurus, dengan ditemukannya punden berupa sumur tua yang konon batu-batanya berusia sejak masa klasik kerajaan Hindu-Budha di Jawa. Sumur tua ini berada di Punden Buyut Canting, di Jalan Kedurus II Buyut, dan masih menjadi tujuan banyak orang berziarah.
Meskipun terdapat cerita yang simpang siur dan belum adanya kepastian bahwa Kedurus adalah Kudadu pada masa lampau, namun terdapat legenda yang hampir serupa, antara perkiraan sejarah ataupun penuturan cerita lisan yang turun temurun oleh warga setempat. Hal ini seperti yang dituturkan oleh Agus Sugiharto (65), salah seorang warga Kelurahan Kedurus yang ditemui oleh IDN Times.
Menurut Agus, memang benar bahwa cerita terkait Punden Buyut Canting masih simpang siur hingga kini. Salah satu perbedaan dari kisah terkait Buyut Canting yang beredar adalah bahwa Buyut Canting tersebut merupakan ibu dari Sawunggaling, salah satu tokoh legendaris di Surabaya, yang bernama Raden Ayu Dewi Sangkrah. Sedangkan, cerita lainnya adalah bahwa Buyut Canting turut membantu menyembunyikan Raden Wijaya berserta patih-patih dan pasukannya dari kejaran Jayakatwang, sekaligus memberikan segala kebutuhan seperti air minum dari sumur di situs punden yang masih ada hingga kini.
"Jadi, yang bisa saya ceritakan hanya cerita turun-temurun dari mbah-mbah sejak dulu, bahwa Buyut Canting adalah ibu dari Sawunggaling yang bernama Dewi Sangkrah, atau yang menolong Raden Wijaya dari kejaran pasukan musuh," tutur Agus pada Sabtu (23/5/2026).
Sumur tua yang berada di Punden Buyut Canting juga memiliki keserupaan dengan Sumur Jobong. Sumur tua yang ditemukan di daerah Peneleh tersebut merupakan bukti adanya peradaban sejak masa Kerajaan Majapahit di kawasan tepi Sungai Kalimas di Surabaya.
Hal serupa juga bisa dilihat dari Punden Buyut Canting yang berada di kawasan perkampungan di tepi Kalimas. Kalimas, yang disebut “pa-tsieh” di dalam catatan sejarah masyarakat Tionghoa yang diterjemahkan oleh Groeneveldt, menjadi jalur penting untuk kegiatan perdagangan maupun militer sejak zaman kerajaan Hindu-Budha hingga kolonial Hindia-Belanda.
Terlepas dari kebenaran cerita yang beredar, Punden Buyut Canting masih menjadi situs bersejarah yang sakral bagi banyak orang. Terkait hal tersebut, Agus menuturkan cerita tentang Suprapto (almarhum), juru kunci Punden Buyut Canting yang telah meninggal sekitar lima tahun yang lalu.
Suprapto, yang berasal dari Jawa Tengah, merupakan suami dari Siswati yang tinggal di Kedurus. Sebelum menjadi juru kunci Punden Mboto—sebutan lain untuk Punden Buyut Canting, Suprapto sempat ditangkap pada saat pembersihan anggota dan simpatisan PKI sekitar tahun 1965-1966. Pasalnya, sebuah surat bercap CC (Comite Central) PKI ditemukan di dalam rumah Suprapto pada saat penggeledahan, sehingga ia dibawa ke Pulau Buru bersama tahanan yang lainnya.
Penangkapan Suprapto atas tuduhan tersebut dinilai tidak tepat oleh Siswati. Sebabnya, Suprapto bukan anggota partai atau organisasi apa pun yang berkaitan dengan PKI. Konon, Siswati kemudian rutin membersihkan Punden Buyut Canting dan berdoa untuk suaminya agar dibebaskan dari penangkapan tersebut.
"Setiap hari Budhe Wati—panggilan Agus kepada Siswati—nyambat di Mbah Buyut sejak suaminya dibawa ke Buru,” kenang Agus.
Sekitar tahun 1974, Suprapto tiba-tiba kembali ke Kedurus dengan membawa ambung, sejenis keranjang dari rotan. Siswati kemudian menceritakan tirakat yang dilakukannya selama ini. Hal itu lantas membuat Suprapto memutuskan untuk menjaga dan merawat Punden Buyut Canting seumur hidup.
Kisah Suprapto ini merupakan satu dari sekian cerita mistis yang pernah terjadi berkaitan dengan situs punden bersejarah ini. Melanjutkan ceritanya, Agus menyebutkan bahwa banyak orang yang perjalanan karirnya cukup lancar sejak berziarah ke Punden Buyut Canting.
Agus kemudian menjelaskan tata cara untuk berziarah ke Punden Buyut Canting sebagaimana yang diajarkan oleh leluhurnya sejak dahulu. Salah satu pesan yang ditegaskan adalah jangan meminta sesuatu ketika sedang berdoa atau nyekar, tetapi cukup menceritakan saja situasi yang sedang dialami saat ini.
Hingga kini, Punden Buyut Canting selalu dikunjungi oleh banyak orang. Tidak hanya warga Kedurus saja, tetapi juga peziarah dari berbagai daerah. Maksud kunjungannya ke Punden Buyut Canting juga bermacam-macam, mulai dari nyekar atau berziarah, mengadakan syukuran, hingga doa bersama warga sekitar agar setiap urusan bisa dipermudah.
"Jadi, memang Punden Buyut Canting itu tempat sakral. Mau percaya atau tidak, tapi banyak kisah-kisah mistis yang terjadi di punden,” ujarnya.