Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pusat Riset Pesantren Jatim Diluncurkan, 125 Periset Disiapkan
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat Stadium Generale Mahasiswa/Mahasantri Baru Penerima Beasiswa Pemprov Jatim 2026 di Islamic Center Surabaya, Kamis (10/9/2026). IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • Pemprov Jatim meluncurkan Pusat Riset Pesantren dan Diniyah untuk menjadikan pesantren produsen pengetahuan melalui ekosistem beasiswa, riset, dokumentasi, dan rekomendasi kebijakan.
  • Semester ini, Jatim menargetkan 125 periset pesantren menghasilkan karya riset; penerima beasiswa di Mesir juga ditargetkan menerbitkan 30 buku dari telaah 150 kitab Arab.
  • Pusat riset akan didukung 80 peneliti doktor, digitalisasi data, dan Atlas Sanad Keilmuan, memanfaatkan basis 7.347 pesantren serta hasil program beasiswa sejak 2019.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2019

Program beasiswa Pemprov Jatim yang menopang pengembangan riset pesantren mulai berjalan.

2022 hingga 2025

Sebanyak 170 karya ilmiah mahasiswa program S3 dikompilasi menjadi 17 buku.

Kamis (10/9/2026)

Gubernur Khofifah Indar Parawansa meresmikan Pusat Riset Pesantren dan Diniyah Jatim di Islamic Center Surabaya.

tahun ini, semester ini

Pemprov Jatim menargetkan 125 periset pesantren dari Jawa Timur menghasilkan karya riset.

Dalam semester ini

Mahasiswa S2 penerima beasiswa di Mesir ditargetkan menerbitkan 30 buku hasil resume 150 kitab berbahasa Arab.

kini

Beasiswa Pemprov Jatim telah dirasakan 7.796 santri, termasuk lulusan sarjana, magister, dan doktor.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pemerintah Provinsi Jawa Timur meluncurkan Pusat Riset Pesantren dan Diniyah Jatim untuk mengembangkan pesantren sebagai produsen pengetahuan, riset, dokumentasi, dan rekomendasi kebijakan.
  • Who?
    Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meresmikan pusat riset ini, dengan dukungan LPPD Provinsi Jatim, mahasiswa, mahasantri penerima beasiswa, serta peneliti pesantren.
  • Where?
    Peresmian berlangsung di Islamic Center Surabaya, Jawa Timur. Pusat riset ditujukan bagi lingkungan pesantren dan diniyah di berbagai wilayah Jawa Timur.
  • When?
    Pusat Riset Pesantren dan Diniyah Jatim diresmikan pada Kamis, 10 September 2026, saat Stadium Generale Mahasiswa/Mahasantri Baru Penerima Beasiswa Pemprov Jatim 2026.
  • Why?
    Program ini ditujukan untuk mendokumentasikan dan mengembangkan tradisi keilmuan pesantren, menghubungkannya dengan kebutuhan pembangunan Jawa Timur, serta menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis riset.
  • How?
    Pengembangan dilakukan melalui beasiswa, riset, repositori, digitalisasi data, pemetaan sanad keilmuan, Atlas Sanad Keilmuan Jatim, keterlibatan 80 doktor, dan target 125 periset pesantren pada semester ini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Jawa Timur membuka Pusat Riset Pesantren dan Diniyah di Surabaya. Gubernur Khofifah ingin pesantren membuat ilmu dan buku, bukan cuma diteliti orang lain. Ada target 125 periset pesantren membuat karya semester ini. Anak penerima beasiswa juga sudah membuat lebih dari 40 buku. Pusat ini akan menyimpan dan mengembangkan ilmu pesantren.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Peluncuran Pusat Riset Pesantren dan Diniyah Jatim membuka ruang bagi tradisi keilmuan pesantren untuk semakin terdokumentasi, dikembangkan, dan terhubung dengan kebutuhan masyarakat. Ditopang beasiswa, karya riset yang telah terbit, serta keterlibatan peneliti doktoral, inisiatif ini memperkuat peran mahasantri sebagai penghasil pengetahuan dan gagasan pembangunan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Pesantren di Jawa Timur (Jatim) tak ingin lagi hanya menjadi objek penelitian. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim kini mendorong pesantren menjadi produsen pengetahuan melalui peluncuran Pusat Riset Pesantren dan Diniyah Jatim.

Pusat riset tersebut diresmikan Gubernur Khofifah Indar Parawansa saat Stadium Generale Mahasiswa/Mahasantri Baru Penerima Beasiswa Pemprov Jatim 2026 di Islamic Center Surabaya, Kamis (10/9/2026).

Khofifah mengatakan, keberadaan pusat riset tersebut bukan sekadar tempat mengumpulkan hasil penelitian. Pusat ini disiapkan untuk membangun ekosistem yang menghubungkan beasiswa, riset, dokumentasi pengetahuan, hingga rekomendasi kebijakan yang dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Melalui ekosistem yang menghubungkan beasiswa, riset, repositori, rekomendasi kebijakan, hingga dampak nyata, Pusat Riset Pesantren diharapkan menjadi rumah pengetahuan,” ujarnya.

Langkah tersebut penting karena pesantren memiliki kekuatan tradisi keilmuan yang telah berlangsung lintas generasi. Potensi tersebut perlu didokumentasikan, dikembangkan dan dihubungkan dengan kebutuhan pembangunan Jatim.

Bukan sekadar wacana, embrio produktivitas riset tersebut sudah terlihat dari karya para penerima beasiswa Pemprov Jatim. Khofifah menyebut mahasiswa dan mahasantri penerima beasiswa telah menghasilkan lebih dari 40 buku berbasis riset.

“Ternyata sudah menghasilkan produk karya intelektual yang sangat luar biasa. Produk intelektual itu dipublikasi menjadi lebih 40 buku, itu adalah hasil riset mereka,” katanya.

Produktivitas tersebut akan terus didorong. Khofifah menyebut pada semester ini ditargetkan sebanyak 125 periset pesantren dari Jatim dapat menghasilkan karya riset. “Dan tahun ini, semester ini, target kami dari Indonesia khusus Jawa Timur itu nanti akan melepas 125 periset pesantren,” katanya.

Tak berhenti di dalam negeri, ekosistem riset juga dikembangkan melalui mahasiswa penerima beasiswa yang menempuh pendidikan di Mesir. Mereka ditargetkan menerbitkan 30 buku yang merupakan hasil review terhadap 150 kitab berbahasa Arab.

Program tersebut sekaligus menjadi upaya menjembatani khazanah keilmuan pesantren dengan kebutuhan pengetahuan di era modern.

Khofifah mengatakan penguatan pusat riset juga akan ditopang oleh keterlibatan 80 peneliti bergelar doktor, pemetaan sanad keilmuan, digitalisasi data, hingga penyusunan Atlas Sanad Keilmuan Jatim.

Salah satu penggeraknya adalah Riset Sanad Keilmuan (Risan Jatim), yang diarahkan untuk merawat sekaligus mengembangkan warisan intelektual pesantren. “Karya dan tradisi keilmuan pesantren tidak hanya terdokumentasi, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi fondasi inovasi dan pembangunan Jawa Timur di masa depan,” tegas Khofifah.

Manfaat lain yang ingin dicapai adalah menjadikan hasil riset pesantren sebagai bahan pengambilan kebijakan. Dengan demikian, pengetahuan yang lahir dari lingkungan pesantren tidak berhenti di rak buku atau ruang akademik, tetapi dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi pembangunan.

Langkah ini menjadi penting di tengah perubahan dunia yang bergerak cepat. Khofifah menilai mahasantri harus memiliki kemampuan membaca perkembangan zaman, termasuk menghadapi disrupsi teknologi dan artificial intelligence (AI), konflik geopolitik, perang dagang, derasnya arus informasi, polarisasi hingga perubahan dunia kerja.

“Mahasantri tidak cukup hanya mampu membaca kitab, tetapi juga harus mampu membaca zaman dan membaca kebutuhan umat,” katanya.

Jatim sendiri memiliki basis pesantren yang sangat besar. Tercatat terdapat 7.347 pondok pesantren dengan sekitar 660.437 santri dan didukung 41.317 ustaz dan ustazah yang tersebar di berbagai wilayah. Skala tersebut membuat pengembangan pusat riset memiliki potensi besar sebagai sumber pengetahuan berbasis pesantren.

“Data bukan sekadar angka, tetapi mencerminkan kuatnya tradisi keilmuan pesantren yang diwariskan dari generasi ke generasi,” kata Khofifah.

Sementara itu, Ketua LPPD Provinsi Jatim Prof Abdul Halim Soebahar mengatakan pengembangan riset tersebut tidak terlepas dari program beasiswa yang telah berjalan sejak 2019.

Hingga kini, beasiswa Pemprov Jatim telah dirasakan 7.796 santri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.395 telah menyelesaikan jenjang sarjana, 1.345 magister dan 75 doktor. “Semua yang ada di sini karya mahasiswa yang mendapat beasiswa dari Provinsi Jatim,” kata Halim.

Ia menambahkan, sebanyak 170 karya ilmiah mahasiswa program S3 angkatan 2022 hingga 2025 telah dikompilasi menjadi 17 buku. “Dalam semester ini insyaallah S2 Mesir akan mempublish 30 buku hasil resume dari 150 kitab berbahasa Arab,” tandasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article