Potret Pasar Baru Magetan, Sepi Ditinggalkan Pedagang

- Aktivitas hanya di lantai satu: Jual-beli masih terjadi di lantai bawah, namun sepi di lantai dua. Pedagang merasa kecewa dan tidak tahu penyebabnya.
- Banyak pedagang memilih pergi: Sebagian besar pedagang memilih untuk pindah ke lokasi lain yang lebih ramai atau meninggalkan kiosnya kosong.
- PR besar pemerintah: Pasar Baru Magetan membutuhkan bantuan pemerintah daerah untuk menghidupkan kembali perdagangan, namun belum ada langkah nyata yang dilakukan.
Magetan, IDN Times – Seperti inilah kondisi Pasar Baru Magetan, yang dulu digadang-gadang jadi pusat perdagangan modern dengan anggaran rehab miliaran rupiah, kini menyisakan pemandangan miris sekaligus ironis. Deretan los yang baru saja diperbaiki tampak terkunci rapat dengan gembok, sebagian lain dibiarkan kosong bagai rumah tanpa penghuni.
1. Aktivitas hanya di lantai satu

Aktivitas jual beli memang masih terlihat di lantai bawah, tapi itu pun sekadar hidup segan, mati tak mau. Sementara di lantai dua, pedagang mengaku pembeli datangnya bisa dihitung dengan jari jari tangan. “Di lantai bawah masih lumayan, tapi di sini sepi sekali. Tidak tahu apa penyebabnya,” ujar salah satu pedagang yang enggan disebutkan namanya, Kamis (28/8/2025).
2. Banyak pedagang memilih pergi

Alih-alih menunggu nasib, banyak pedagang yang tak kita dan memilih hengkang. Ada yang pindah ke lokasi lain yang lebih ramai, ada pula yang meninggalkan kiosnya begitu saja kosong, berdebu, dan menjadi saksi bisu gagalnya janji manis revitalisasi.
“Rata-rata di lantai dua ini pedagang pakaian dan kerajinan kulit. Banyak yang sudah angkat kaki mas," tambah pedagang lain.
Bukan hanya menyedihkan secara ekonomi, tapi juga menyakitkan secara visual. Los kosong berjajar seperti pameran gedung tak terpakai, sementara beberapa sudut pasar tampak kotor, fasilitas umum pun tak terurus.
3. PR besar pemerintah

Pasar Baru Magetan kini seperti pasien kritis yang kehilangan denyut nadi, menunggu “oksigen” dari pemerintah daerah. Sayangnya, hingga kini belum ada langkah nyata untuk menghidupkan kembali denyut perdagangan.
Alih-alih jadi pusat ekonomi, pasar ini malah jadi potret suram bagaimana miliaran rupiah bisa berubah jadi barisan kios kosong yang lebih cocok jadi lokasi syuting film horor ketimbang pusat belanja.