Pemain Putra Jaya Dilarang Aktif di Sepak Bola Indonesia Seumur Hidup

- Hilmi divonis larangan beraktivitas di sepak bola Indonesia seumur hidup
- Hilmi juga didenda sebesar Rp2,5 juta akibat perbuatannya
- PSSI berharap kejadian ini jadi pembelajaran agar tidak ada kekerasan dalam sepak bola
Pasuruan, IDN Times - Akibat dari tendangan Kung Fu yang dilakukan pemain PS Putra Jaya Pasuruan, Muhammad Hilmi Gimnastiar, kepada pemain Perseta 1970, Firman Nugraha, membuat ia dipecat dari tim yang ia bela. Tak hanya itu, ia juga menjalani sidang Komite Disiplin (Komdis) PSSI Asprov Jawa Timur pada hari ini (6/1/2026).
1. Hilmi divonis larangan beraktivitas di sepak bola Indonesia seumur hidup

Tidak hanya dipecat oleh tim PS Putra Jaya Pasuruan, Hilmi ternyata juga mendapat hukuman yang tak kalah berat dari Komdis PSSI Asprov Jawa Timur. Ia dijatuhi hukuman larangan beraktivitas di sepak bola Indonesia seumur hidup. Keputusan ini terlampir dalam Surat Keputusan Nomor 001/KOMDIS/PSSI-JTM/I/2026 tanggal 6 Januari 2026.
"Komdis menjatuhkan hukuman tambahan kepada Hilmi yaitu larangan beraktivitas di sepak bola Indonesia seumur hidup. Ini karena dia melakukan pelanggaran keras dengan menendang pemain lawan sehingga mengakibatkan luka parah, ini adalah tindakan kekerasan dan merupakan pelanggaran berat," terang Ketua Komdis Asprov PSSI Jawa Timur, Samiadji Makin Rahmat.
Samiadji menyampaikan kalau Hilmi melanggar Pasal 48 juncto Pasal 49 Kode Disiplin PSSI. Yang isinya mengatur tentang tingkah laku buruk terhadap pemain lawan atau orang-orang selain dari perangkat pertandingan.
2. Hilmi juga didenda sebesar Rp2,5 juta akibat perbuatannya

Tidak hanya hukuman larangan bermain sepak bola seumur hidup, Samiadji mengatakan jika Hilmi juga didenda sebesar Rp2,5 juta. Sanksi ini dijatuhkan agar menjadi efek jera pada Hilmi dan jadi pelajaran bagi pemain lain.
"Kita juga beri sanksi denda sesuai Pasal 78 Kode Disiplin PSSI. Dalam pasal itu kita berikan sanksi tambahan agar jadi efek jera," jelasnya.
3. PSSI berharap kejadian ini jadi pembelajaran agar tidak ada kekerasan dalam sepak bola

Lebih lanjut, Samiadji berharap keputusan ini jadi pelajaran berharga bagi pemain-pemain lain di Indonesia khususnya Jawa Timur. Siapapun bisa mendapatkan sanksi berat jika terbukti melakukan pelanggaran keras menjurus kekerasan.
"Harapan kita juga agar pemain lain tidak meremehkan (pertandingan) dengan melakukan tindakan yang sama, karena ini sepak bola bukan bela diri. Semoga menjadi pelajaran untuk seluruh pemain dan pelstih di Jawa Timur agar menjunjung tinggi sportivitas," pungkasnya.



















