Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pakar Unair Sebut Ketegangan Rusia-Ukraina Hanya Konflik Kecil
Prajurit Ukraina di Wilayah Donetsk, Ukraina Timur. twitter.com/inside_over

Surabaya, IDN Times - Pakar Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga (Unair), I Gede Wahyu Wicaksono angkat bicara perihal ketegangan antara Rusia dan Ukraina. Dia menilai ketegangan tersebut tak perlu dikhawatirkan.

1. Nilai hanya konflik kecil, Indonesia tak perlu ikut campur

Pasukan Ukraina dan Amerika Serikat dalam pertemuan Ukraina-NATO, pada 20 April 2015. twitter.com/southfronteng

Wahyu menilai, ketegangan antara Rusia dan Ukrainya hanyalah konflik kecil. Dia meyakini, kedua negara bisa menyelesaikan permasalahan mereka dengan diplomasi. "Kedua negara itu memiliki tradisi diplomatiknya sendiri, mengingat keduanya masih berada dalam bangsa yang sama yakni Bangsa Slavik," ujarnya, Kamis (17/2/2022).

Mengingat konflik keduanya yang hanya konflik kecil, sambung Wahyu, Indonesia tidak perlu ikut campur akan permasalahan tersebut. Menurutnya, tidak akan ada dampak khusus bagi Indonesia. “Masyarakat internasional, terkhusus Indonesia tidak perlu khawatir dengan konflik tersebut," katanya.

"Karena seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa kedua negara itu akan menyelesaikan dengan diplomasi mereka. Bahkan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pun juga tidak perlu ikut andil dalam penyelesaian konflik keduanya,” dia menambahkan.

2. Ada 3 masalah yang melatarbelakangi konflik Rusia-Ukraina

Prajurit Ukraina di Wilayah Donetsk, Ukraina Timur. twitter.com/inside_over

Wahyu menambahkan, untuk latar belakang permasalahan kedua negara tersebut ada tiga persoalan. Pertama berkaitan dengan konflik wilayah atau teritorial. Ketika Uni Soviet masih eksis dulu, Rusia mengambil sebagian wilayah dari Ukraina. Ketika Uni Soviet runtuh, Ukraina mengambil lagi wilayahnya dari Rusia dan saat ini Presiden Rusia, Vladimir Putin, ingin mengambil Ukraina kembali.

Ahli Kebijakan Luar Negeri ini melanjutkan, Rusia dan Ukraina juga terlibat dalam persoalan persaingan. Rusia ingin berkuasa penuh di kawasan Eropa Timur. Untuk itu, Rusia harus menyingkirkan Ukraina,
“Karena Ukraina adalah negara terbesar kedua setelah Rusia, di kawasan bekas Uni Soviet," Wahyu mengucapkan.

"Untuk itu beberapa harta peninggalan Uni Soviet ada di Ukraina dan Rusia ingin menguasainya. Dengan begitu maka kemudian Rusia dapat berkuasa penuh tanpa terhalang Ukraina,” imbuh Wahyu.

Terakhir, konflik kedua negara itu juga berhubungan dengan kondisi dalam negeri di Rusia. “Ekonomi Rusia sedang merosot. Maka dari itu Putin mencoba mengalihkan isu dengan membuat konflik tersebut,” terang Wahyu.

3. Kedua negara terlibat konflik sejak lama

Tentara Angkatan Bersenjata Ukraina mengendarai kendaraan peluncur roket otomatis saat berlatih di wilayah Kherson, Ukraina, dalam foto handout yang dirilis pada Selasa (1/2/2022). ANTARA FOTO/Ukrainian Armed Forces Press Service/Handout via REUTERS/FOC.

Terlepas dari persoalan terkini yang terjadi pada Rusia dan Ukraina, Wahyu menjelaskan bahwa keduanya telah terlibat konflik etnis sejak lama. “Pada abad ke-15 keduanya sudah berkonflik secara etnis. Namun dalam sejarah modern, mereka baru berkonflik secara terang-terangan pada tahun 1989 atau ketika runtuhnya Uni Soviet,” pungkas dia.

Editorial Team

Related Article