Regenerasi Peternak, ICD UNESA Bentuk Kelompok Peternak Milenial

- ICD UNESA 2026 membentuk Kelompok Peternak Milenial di Desa Kalianyar untuk melanjutkan pembelajaran pengelolaan kandang, pengomposan limbah, dan pemantauan kesehatan ternak.
- Kelompok ini menjadi ruang berbagi pengalaman, koordinasi pengelolaan limbah, serta penghubung peternak dengan pemerintah desa, dinas peternakan, tenaga kesehatan hewan, dan perguruan tinggi.
- Pasca-pendampingan lapangan, anggota diharapkan menjalankan pertemuan rutin, praktik pengomposan, dan komunikasi kesehatan ternak agar keberlanjutan program tumbuh dari inisiatif masyarakat.
Bondowoso, IDN Times - Keberlanjutan pengelolaan peternakan di Desa Kalianyar mendapat penguatan melalui pembentukan Kelompok Peternak Milenial dalam rangkaian tindak lanjut ICD UNESA 2026. Kelompok ini disiapkan sebagai wadah bagi masyarakat untuk melanjutkan pembelajaran tentang pengelolaan kandang, pengolahan limbah menjadi kompos, serta pemantauan kesehatan ternak setelah rangkaian pelatihan dan pendampingan lapangan berakhir.
Pembentukan kelompok tersebut merupakan respons atas kebutuhan yang muncul sejak pelatihan pada Februari 2026. Dalam evaluasinya, Tim ICD UNESA menilai perlu adanya kelompok kecil atau tim tindak lanjut di setiap bidang. Peternak juga didorong untuk menerapkan praktik pengomposan dan melakukan pemantauan kesehatan hewan secara berkala.
Kelompok Peternak Milenial kemudian menjadi salah satu sarana untuk menerjemahkan rekomendasi tersebut ke dalam kegiatan masyarakat. Kelompok ini diharapkan menjadi ruang berbagi pengalaman antarpemilik ternak, mendiskusikan persoalan kandang, mengoordinasikan pengelolaan limbah, serta berbagi informasi dasar mengenai perawatan ternak.
Selain itu, kelompok dapat menjadi penghubung antara peternak dengan pemerintah desa, dinas yang membidangi peternakan, tenaga kesehatan hewan, maupun perguruan tinggi ketika membutuhkan pendampingan atau informasi lebih lanjut.
Ketua Kelompok Peternak Milenial mengatakan, keberadaan wadah tersebut memberikan kesempatan bagi para peternak untuk belajar dan berkembang secara bersama-sama.
“Harapannya kelompok ini tidak hanya aktif saat ada kegiatan dari luar. Anggota bisa saling bertukar pengalaman, mencoba pengolahan limbah, dan saling mengingatkan soal kebersihan kandang maupun kondisi ternak. Kalau ada persoalan yang tidak bisa kami tangani, kelompok juga lebih mudah berkomunikasi dengan pihak terkait,” ujarnya, Jumat (14/8/2026).
Menurut Tatak Setiadi, M.A., keberadaan kelompok dapat memperkuat proses pembiasaan dalam pengelolaan peternakan.
“Pengelolaan peternakan yang baik banyak bergantung pada praktik rutin. Kalau ada kelompok, pengalaman tidak berhenti pada satu peternak. Anggota dapat melihat praktik yang dilakukan peternak lain, membandingkan hasil, kemudian memilih cara yang paling sesuai dengan kondisi mereka,” jelasnya.
Ketua Pelaksana ICD UNESA, Dr. Mufarrihul Hazin, M.Pd., menegaskan bahwa pembentukan kelompok merupakan bagian penting dari strategi keberlanjutan program.
“Keberhasilan kegiatan pengabdian bukan hanya ketika peserta menerima materi dan mengikuti praktik. Keberhasilan yang lebih penting adalah ketika masyarakat memiliki ruang untuk meneruskan pembelajaran dan mengembangkan kegiatan tanpa harus menunggu tim universitas datang kembali,” ujarnya.
Menurutnya, Kelompok Peternak Milenial diharapkan tidak berhenti sebagai bagian dari rangkaian ICD UNESA, tetapi berkembang menjadi ruang kolaborasi yang mampu mendorong kebiasaan pengelolaan peternakan yang lebih baik sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Salah satunya melalui pemanfaatan sumber daya yang sebelumnya belum optimal digunakan, termasuk limbah organik yang berpotensi diolah menjadi kompos.
Keberadaan kelompok tersebut juga sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan, terutama dalam peningkatan produktivitas pangan, pengembangan kegiatan ekonomi pedesaan, pemanfaatan limbah secara bertanggung jawab, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Setelah rangkaian kegiatan lapangan ICD UNESA berakhir, kelompok diharapkan dapat menyusun agenda sederhana dan realistis, mulai dari pertemuan rutin, praktik pengomposan, hingga komunikasi mengenai kebutuhan kesehatan ternak.
Dengan demikian, keberlanjutan program diharapkan tidak bergantung pada kehadiran tim pendamping, tetapi tumbuh dari aktivitas dan inisiatif masyarakat Desa Kalianyar sendiri.




















