ICD UNESA Dampingi Pemuda Kalianyar Bangun Pemasaran Digital Produk Lokal

- ICD UNESA mendampingi pemuda dan pelaku usaha Desa Kalianyar, Bondowoso, pada 20–21 Juli 2026 untuk memperkuat pemasaran digital produk lokal.
- Program lanjutan pelatihan Februari 2026 ini menekankan praktik foto produk, video singkat, narasi, perencanaan unggahan, serta konsistensi promosi di media sosial.
- UNESA menyerahkan modul pelatihan kepada Kelompok Inovasi Teknologi Inisiasi Lanjutan untuk mendukung promosi digital, kapasitas teknologi, inovasi, dan peluang ekonomi desa.
Bondowoso, IDN Times — Pemuda dan pelaku usaha lokal di Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso, kembali mendapat pendampingan dari Tim International Community Development (ICD) UNESA melalui kegiatan “Pemberdayaan Pemuda melalui Strategi Pemasaran Digital dan Konten Kreatif untuk Produk Lokal” pada 20–21 Juli 2026 lalu. Pendampingan tersebut diarahkan untuk membantu peserta menghubungkan penggunaan media sosial dengan identitas produk, penyusunan pesan promosi, pembuatan konten, serta upaya memperluas jangkauan produk lokal secara bertahap.
Ketua Pelaksana ICD UNESA, Dr. Mufarrihul Hazin, M.Pd., mengatakan program tersebut merupakan kelanjutan dari pelatihan ICD UNESA pada Februari 2026 yang melibatkan pemuda, pelaku usaha lokal, dan masyarakat yang berminat pada promosi produk desa. Dalam pelatihan awal tersebut, peserta memperoleh materi mengenai strategi pemasaran digital, konten kreatif, branding sederhana, dan pemanfaatan media sosial. Laporan kegiatan menunjukkan bahwa peserta telah memperoleh pemahaman mengenai pentingnya identitas produk, konsistensi pesan promosi, serta pembuatan konten yang sesuai dengan karakter produk dan target konsumen.
Berangkat dari pemahaman tersebut, pendampingan pada Juli 2026 tidak lagi hanya berfokus pada pembahasan teori. Tim ICD UNESA mengajak peserta melihat secara langsung bagaimana produk ditampilkan melalui media digital, memperhatikan informasi yang perlu disampaikan kepada calon konsumen, menyusun ide konten sederhana, serta mendiskusikan konsistensi aktivitas promosi. Foto produk, video singkat, narasi produk, dan perencanaan unggahan menjadi bagian dari pembahasan agar peserta dapat membangun kebiasaan produksi konten yang realistis dan berkelanjutan.
“Pendampingan dibutuhkan karena tantangan pemasaran digital biasanya muncul ketika peserta mulai menjalankan sendiri akun dan kontennya. Orang dapat memahami konsep media sosial dalam satu sesi, tetapi mempertahankan konsistensi, menemukan ide konten, dan menghubungkannya dengan produk membutuhkan proses,” katanya, Jumat (14/8/2026).
Hal senada disampaikan perwakilan Dinas Pemberdayaan Pemuda, Faishal Abrari, S.Kom., yang menilai kemampuan digital semakin relevan bagi pengembangan UMKM dan produk lokal.
“Produk yang baik perlu didukung cara komunikasi yang tepat kepada pasar. Bagi pelaku usaha desa, media digital dapat membuka ruang promosi yang lebih luas, tetapi tetap membutuhkan identitas produk, informasi yang jelas, dan pengelolaan yang konsisten,” ujarnya.
Dari sisi pengembangan konten, Fira Nurafini, S.EI., M.SEI., dosen UNESA, menekankan bahwa konten promosi tidak selalu harus dibuat secara rumit. “Yang penting adalah peserta memahami siapa yang ingin dijangkau, apa keunggulan produknya, lalu menyampaikan pesan itu secara jelas dan konsisten. Konten sederhana tetapi sesuai dengan karakter produk sering kali lebih realistis untuk dijalankan oleh pelaku usaha desa,” jelasnya.
Untuk memperkuat pembelajaran setelah kegiatan berakhir, Tim UNESA juga menyerahkan modul pelatihan kepada Kelompok Inovasi Teknologi Inisiasi Lanjutan. Modul tersebut dapat digunakan sebagai bahan rujukan ketika anggota merencanakan konten, mengevaluasi media sosial, maupun mendampingi pelaku produk lokal lain yang ingin mulai melakukan promosi secara digital.
Kegiatan ini menjadi bagian dari ICD UNESA 2026 dengan dukungan pendanaan LPDP serta berkaitan dengan Program Equity. Pendampingan pemasaran digital tersebut memiliki keterkaitan dengan penciptaan peluang ekonomi, peningkatan kapasitas teknologi dan inovasi masyarakat desa, serta penguatan kemitraan dalam promosi produk lokal. Melalui pendampingan yang berkelanjutan, pemuda Kalianyar diharapkan tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga berkembang menjadi penggerak yang mampu membantu memperkenalkan potensi ekonomi desa melalui komunikasi digital yang lebih terarah.


















