Mumet Mikir Cicilan, Petani Tembakau Jember Tak Bisa Tanam

1. Modal belum balik, cicilan bank terus menghantui

Pujo Hadi (50), petani Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Wuluhan, mengeluhkan periode tanam kali ini. Kepada IDN Times, Pujo mengaku sudah tidak memiliki modal untuk memulai tanam kembali. Menurutnya, hampir seratus persen lahan lebih dari 1 hektar yang dikelolanya rusak akibat banjir beberapa waktu lalu.
"Karena banjir waktu itu, ribuan hektare lahan di dua kecamatan di sini terendam air. Gagal total sudah teman-teman petani tembakau. Sekarang waktu tanam banyak yang bingung dapat duit darimana lagi," ungkap Pujo, Minggu (20/8/2023).
Pujo mengaku, ia dan sejumlah petani lainnya sudah terlanjur mengambil kredit di bank untuk modal tanam musim lalu. Akibat gagal panen ini, banyak dari petani yang tidak sanggup membayar cicilan. Beberapa upaya pun sudah ditempuh oleh mereka, termasuk wadul ke DPRD setempat. Mereka berharap ada relaksasi dari pihak bank dan meminta solusi atas persoalan ini kepada pemerintah setempat.
"Ada rapat dengar yang digelar beberapa waktu lalu, membahas soal ini. Salah satunya adanya penundaan (relaksasi) angsuran bank ini. Lawan kita alam loh, kita manusia bisa apa karena ini musibah ya. Ada OJK juga waktu itu," katanya.
Setelah rapat tersebut, para petani tembakau di Jember bisa sedikit bernafas lega. Lantaran, dari bunga sepenuhnya yang ditanggung ada kesanggupan dari pihak lain untuk mengkompensasi separuhnya.
"Permintaan teman-teman kan bunga ditiadakan, pokoknya tetap.Tapi kami difasilitasi kurang lebih 50 persen dari bunga awal. Misalnya pinjam Rp10 juta kena bunga Rp600 ribu, nanti pelunasan selanjutnya hanya kena bunga Rp300 ribu. Ini cukup membantu sebenarnya, cuman untuk modal tanam ulang ini yang sekarang dipusingkan," keluhnya.
2. Petani berharap ketersediaan pupuk bersubsidi

Pujo menyebut, kurang lebih ada sekitar 2090 hektare lahan tembakau yang gagal panen dari dua kecamatan. Yakni di Kecamatan Wuluhan dan Kecamatan Ambulu. Luasan tersebut belum mencakup lahan holtikultura lainnya yang juga gagal panen. Beberapa lahan yang dipaksa untuk bertahan, pada saat panen kali ini juga memiliki hasil yang jelek. Banyak tanaman tembakau yang mengalami busuk akar. Beberapa diantaranya terpaksa dipanen muda.
"Itu yang terekam di data dinas pertanian dari kelompok tani kami. Kalau data dari kecamatan lainnya mungkin bisa lebih luas lagi. Pasti yang jelas kualitasnya buruk, kerugian kalau ditaksir total mencapai miliaran. Berdasarkan hitung-hitungan kuantitas, waktu dan modal tanam," katanya.
Untuk harga tembakau saat ini, Pujo merinci berada di kisaran Rp14 ribu hingga Rp19 ribu. Selain itu, para petani juga berharap ketersediaan pupuk bersubsidi yang mudah terjangkau. Pujo berharap, ada harga pupuk bersubsidi yang lebih murah sehingga membantu petani setelah mengalami gagal panen saat ini.
"Kami berharap untuk pupuk bersubsidi itu bisa terjangkau dengan harga murah. Karena para petani disini banyak yang panen 0 rupiah. Sudah habis-habisan ini," jelasnya.
3. Terpaksa kredit lain dengan bunga tinggi

Pujo mengaku, sejumlah petani termasuk dirinya terpaksa mengambil kredit di luar bank milik negara. Ini harus mereka lakukan demi melunasi cicilan sebelumnya dan untuk upaya pemenuhan kebutuhan lain-lain. Meskipun harus tercekik bunga yang terlampau tinggi, namun para petani tembakau ini mengaku tak berdaya lagi. Beberapa bahkan memberanikan diri untuk mencoba pinjaman online.
"Kami memang sudah kehabisan modal. Ada yang mulai tanam dengan modal pinjaman lain dengan bunga lebih tinggi. Istilahnya ikut rentenir sudah, dengan bunga sekian. Ya terpaksa tabrak saja daripada tidak bisa tanam," keluh Pujo.
Selain itu, para petani juga mengeluhkan respons pemerintah yang terbilang lemot dalam mengatasi persoalan utama penyebab banjir. Petani menilai, sumber utama yang membuat banjir semakin parah adalah jebolnya tanggul di Gunung Watangan. Ketika hujan tiba, banjir dengan volume besar dengan mudahnya merendam ribuan hektare lahan di bawahnya.
"Sudah di-hearing itu sebenarnya. Poin utamanya perbaikan tanggul itu. Ya semoga bisa segera dieksekusi dan soal tanggul ya semoga bisa lekas diperbaiki. Sebentar lagi kan juga ganti musim hujan lagi," kata Pujo.


















