Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Menjaga Urat Nadi Gas Bumi Jatim di ORF Porong

Kab. Sidoarjo
Menjaga Urat Nadi Gas Bumi Jatim di ORF Porong
Pekerja saat melakukan pekerjaan di Onshore Receiving Facility (ORF) Porong. (IDN Times/Khusnul Hasana)
  • ORF Porong di Sidoarjo, dioperasikan Pertamina Gas sejak 1992, menjadi simpul penerimaan gas dari lapangan lepas pantai Madura melalui jaringan pipa sepanjang 369,7 kilometer.
  • Fasilitas ini menyalurkan sekitar 200–300 MMSCFD gas ke Pasuruan dan Gresik, termasuk 120 MMSCFD untuk industri pupuk serta 80–90 MMSCFD bagi PJB.
  • Keamanan pipa dijaga lewat patroli, perawatan buoy dan proteksi katodik, serta sosialisasi terhadap bangunan ilegal; jaringan juga terhubung menuju Jawa Tengah hingga Jawa Barat melalui Gresem dan Cisem.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sidoarjo, IDN Times - Jaringan pipa-pipa besar berwana kuning cerah, bercorak kuning dan biru membentang kokoh menantang panasnya matahari Sidoarjo. Setiap instrumen, katup pengatur sampai lekukan pipa bekerja tiada henti untuk memastikan Jawa Timur tetap teraliri energi.

Di balik lorong pipa-pipa itu ada jutaan kubik gas bumi silih berganti mengalir sepanjang siang dan malam. Gas-gas itu menempuh perjalanan panjang untuk kemudian sampai di sini, di Onshore Receiving Facility (ORF) Porong yang letaknya berada di Desa Permisan, Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Molekul-molekul metana menempuh jarak 369,7 kilometer lewat jalur darat hingga laut, mengalir dari sejumlah sumber lapangan lepas pantai perairan Madura melalui jaringan-jaringan pipa yang berada di bawah laut dengan kedalaman berkisar 3 sampai 60 meter.

ORF Porong dikelola oleh PT Pertamina Gas melalui Operation East Java Area (OEJA) telah beroperasi sejak 1992. ORF Porong menjadi simpul penting dalam jaringan transmisi gas di Jawa Timur. Fasilitas ini terhubung dengan pipa offshore sepanjang sekitar 357 km dari Pulau Pagerungan, Kabupaten Sumenep hingga pantai Porong, yang dilanjutkan dengan sekitar 13 km pipa onshore menuju ORF Porong.

Seiring berkembangnya sumber pasokan, jaringan tersebut terus diperkuat, salah satunya melalui tie-in Lapangan MAC milik HCML pada akhir 2023 menggunakan metode hot tap di dasar laut. Di antara gagahnya instalansi saluran pipa itu, ada Spv Maintenance Distrik Gresik Pertagas OEJA, Muhammad Maura Gomez yang sibuk menjaga harmoni alur antara gas yang datang dari pipa di lautan dan yang disalurkan ke berbagai wilayah di Jawa Timur.

Gas yang datang dari berbagai lapangan lepas pantai itu diterima lalu disalurkan melalui jaringan pipa menuju Pasuruan dan Gresik. Volume penyaluran sekitar 200–300 MMSCFD, 120 MMSCFD perhari disalurkan untuk industri pupuk, 80-90 MMSCFD perhari disalurkan ke Pembangkit listrik Jawa Bali (PJB) untuk menerangi Pulau Jawa dan Bali, serta beberapa industri lainnya.

Menjaga gas yang mengalir di bawah laut tak cuma soal ketahanan pipa, tetapi juga orang-orang di atasnya. Pipa sering kali bersinggungan dengan aktivitas nelayan hingga pelayaran. Patroli pun dilakukan setiap dua bulan sekali untuk memastikan pipa tetap aman. “Kita patroli biasanya kita maintenance buoy-nya, kita ganti lampu buat penunjuk arah untuk nelayan, karena areanya kita itu, areanya dekat, Pasuruan itu kan banyak nelayan ya. Jadi kita kerja sama sama polisi dan TNI di area Pasuruan untuk menjaga keamanan objek vital nasional, buoy-nya kita dan pipanya kita agar tidak terkena jangkar kapal,” ujarnya, Kamis (27/8/2026).

Di samping itu, perawatan pipa juga dilakukan dengan cara proteksi katodik. Ini untuk mencegah terjadinya korosi pada pipa gas.

“Kalau maintenance-nya kita tetap katodik. Kita melihatnya dari katodiknya. Kita kan ada cathodic protection namanya untuk proteksi pipa kita,” ungkap dia.

Selain di bawah laut, pipa gas itu juga menempel pada jalan tol Surabaya-Gresik sepanjang 30 kilometer. Patroli rutin pun dilakukan agar pipa tetap aman.

“Nah, pipa kita juga masuk ke areanya Sidoarjo lewat, Waru juga lewat, jadi itu pinggir tol semua,” jelas dia.

Sama dengan pipa di laut, tantangan utama pipa darat adalah gesekan dengan aktivitas manusia. Jalur yang dilewati pipa milik Pertagas kerap kali dibangun bangunan non-permanen.

“Warung-warung ilegal, gitu-gitu. Itu biasanya kita sosialisasi, kita minta bongkar, gitu. Karena enggak boleh sama sekali di atas pipa itu ada bangunan,” ucapnya

Sosialisasi pun digencarkan agar masyarakat tak melalukan aktivitas apapun di sekitar pipa. Hal ini karena pipa memiliki tekanan tinggi dan bahaya bagi masyarakat.

Tak cuma Jawa Timur, konektivitas jaringan transmisi gas bumi juga terus berkembang menuju wilayah Jawa lainnya. Jaringan Gresik–Semarang (Gresem) menjadi salah satu penghubung penting menuju Jawa Tengah, yang kemudian terintegrasi dengan pipa Cirebon–Semarang (Cisem). Pengembangan Cisem memperkuat konektivitas jaringan transmisi hingga wilayah Jawa Barat, sehingga terbentuk jaringan gas bumi yang semakin terintegrasi dari timur menuju barat Pulau Jawa.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More