Mengenal Kopi Asli Magetan, Warisan Kolonial Belanda yang Masih Bertahan

- Kopi asli Magetan di lereng Gunung Lawu telah dibudidayakan sejak masa kolonial Belanda dan tetap bertahan lebih dari satu abad sebagai warisan turun-temurun para petani Poncol.
- Petani seperti Santoso menjaga keaslian bibit kopi dengan teknik stek batang, menghasilkan robusta berbiji kecil bercita rasa kuat serta varietas Excelsa beraroma khas yang banyak diminati penikmat kopi.
- Poncol memiliki sekitar 720 petani dengan lahan 25–30 hektare dan potensi pengembangan hingga 2.200 hektare, didukung pemerintah melalui bantuan bibit, pelatihan, dan kerja sama perguruan tinggi.
Magetan, IDN Times – Lereng selatan Gunung Lawu di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, menyimpan jejak sejarah yang masih bisa dinikmati hingga kini. Bukan hanya panorama pegunungan yang memikat, tetapi juga kopi asli Magetan yang telah dibudidayakan sejak masa kolonial Belanda dan tetap bertahan lebih dari 100 tahun.
Ratusan petani masih merawat pohon-pohon kopi tua yang diwariskan secara turun-temurun. Keaslian bibitnya membuat kopi dari Poncol memiliki karakter rasa yang berbeda sekaligus menjadi identitas khas kopi Magetan.
1. Bibit kopi diwariskan turun-temurun sejak zaman Belanda

Salah satu petani kopi di Gunung Tambal, Desa Alastuwo, Santoso (57), masih merawat pohon induk kopi berusia lebih dari satu abad yang berada di belakang rumahnya. Dari pohon tua itulah ribuan bibit kopi terus dikembangkan.
Ia memperbanyak tanaman menggunakan teknik stek batang agar sifat asli tanaman tetap terjaga. Kini, Santoso memiliki sekitar 3.000 pohon kopi yang tersebar di tiga lokasi kebun dengan produksi mencapai satu ton setiap musim panen. "Bibitnya sudah ada sejak kakek saya masih hidup. Saya perbanyak terus sampai sekarang menjadi sekitar 3.000 pohon di tiga lokasi," ujarnya, Senin (13/7/2026).
2. Bijinya kecil, tetapi cita rasanya justru lebih kuat

Keunikan kopi asli Magetan terletak pada ukuran bijinya. Menurut Santoso, robusta dari Poncol memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan daerah lain. Namun, ukuran itu justru menghasilkan seduhan dengan rasa lebih pekat dan aroma yang khas.
Selain robusta, ia juga membudidayakan kopi Excelsa yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai kopi nangka karena aromanya menyerupai buah nangka. Meski populasinya terbatas, kopi ini banyak diburu penikmat kopi dari Solo hingga Ngargoyoso, Karanganyar. Saat ini, harga green bean robusta berkisar Rp100 ribu per kilogram, sedangkan Excelsa mencapai sekitar Rp110 ribu per kilogram.
3. Ribuan hektare lahan masih berpotensi dikembangkan.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kementerian Pertanian Kecamatan Poncol, Sayogo Pamungkas, mengatakan kopi menjadi salah satu komoditas perkebunan yang prospeknya terus meningkat.
Saat ini terdapat sekitar 720 petani kopi yang tersebar di delapan desa dengan luas kebun sekitar 25–30 hektare. Padahal, Poncol masih memiliki sekitar 2.200 hektare lahan kering yang berpotensi dikembangkan menjadi sentra kopi.
Pemerintah pun terus memberikan pendampingan melalui bantuan bibit, pupuk, peralatan pengolahan, hingga kerja sama dengan perguruan tinggi seperti UNS dan Unesa guna meningkatkan kualitas kopi lokal.
Seiring meningkatnya tren konsumsi kopi nusantara, kopi khas Poncol kini tak hanya dinikmati warga Magetan, tetapi juga mulai dipasarkan ke berbagai daerah di Jawa Timur hingga luar provinsi. Warisan kolonial yang bertahan lebih dari satu abad itu perlahan menjelma menjadi salah satu kebanggaan baru dari lereng Gunung Lawu.



















