Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Memeluk Tiket Pulang Bernama Rindu

Memeluk Tiket Pulang Bernama Rindu
Pemudik, Ushar saat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
Intinya Sih
  • Ushar Hamid, 66 tahun, perantau asal Bulukumba yang kini tinggal di Madura, bersiap mudik ke kampung halamannya melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
  • Sejak 1988 ia merantau ke Madura untuk bekerja dan membangun keluarga, namun tetap menjaga tradisi pulang setiap Lebaran sebagai bentuk silaturahmi dengan keluarga di Sulawesi Selatan.
  • Tahun ini Ushar menempuh perjalanan laut lebih dari 800 mil menuju Makassar seorang diri karena istrinya sakit, menunjukkan keteguhan dan makna mendalam dari arti pulang baginya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Surabaya, IDN Times - Di sudut ruang tunggu Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, seorang lelaki lanjut usia duduk tenang di bangku besi berwarna biru. Di tengah riuh suara pengumuman dan langkah kaki para calon penumpang, sosok itu tampak sederhana. Namun menyimpan cerita panjang tentang perjalanan hidup dan makna pulang.

Namanya Ushar Hamid, 66 tahun. Ia mengenakan kemeja cokelat susu yang digulung setengah, dipadukan dengan peci bermotif khas. Di sampingnya, dua tas besar dan satu tas selempang hitam tersusun rapi, siap dibawa kapan saja ketika panggilan keberangkatan kapal dikumandangkan.

Sesekali, pandangannya menyapu sekeliling. Mengamati wajah-wajah yang hilir mudik, mungkin sama seperti dirinya, membawa rindu yang ingin dituntaskan di kampung halaman.

“Lagi nunggu kapal, mau mudik ke Makassar, silaturahmi,” ucapnya pelan. Suaranya lirih, membuat orang yang mendengar harus mendekat.

Perjalanan Ushar bukan sekadar pulang kampung. Ia adalah bagian dari kisah panjang seorang perantau yang telah menghabiskan lebih dari separuh hidupnya jauh dari tanah kelahiran.

Tahun 1988 menjadi titik awal segalanya. Saat itu, Ushar muda memutuskan merantau ke Pulau Madura. Tujuannya sederhana. Mencari pekerjaan dan memperbaiki nasib. Di tanah rantau itulah hidupnya berubah.

Ia bekerja di sebuah perusahaan swasta. Namun bukan hanya pekerjaan yang ia temukan. Di sana pula, ia bertemu perempuan yang kemudian menjadi pendamping hidupnya. Dari perkenalan sederhana, keduanya menikah dan membangun keluarga di Kecamatan Socah, Bangkalan.

Kini, tiga anak telah mereka besarkan. Anak sulungnya berusia 32 tahun, sementara dua anak lainnya, kembar, telah dewasa dan memiliki kehidupan masing-masing. Rumah mereka mungkin sederhana, tetapi cukup untuk menampung cerita panjang perjalanan hidup.

Meski telah puluhan tahun menetap di Madura, Ushar tak pernah benar-benar meninggalkan kampung halamannya di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Setiap Lebaran, ia selalu kembali.

Tradisi mudik, bagi Ushar, bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah jembatan yang menjaga hubungan keluarga tetap utuh, meski dipisahkan jarak ratusan kilometer.

“Setiap tahun saya pulang, kadang sama keluarga, kadang sendiri,” ujarnya.

Tahun ini, ia kembali berangkat seorang diri. Istrinya sedang sakit, tak memungkinkan untuk ikut dalam perjalanan panjang. Namun kondisi itu tak menyurutkan tekadnya.

Dengan tubuh yang masih tampak bugar, Ushar bersiap menempuh perjalanan laut lebih dari 800 mil, sekitar 32 jam di atas kapal. Moda transportasi yang ia pilih pun bukan tanpa alasan.

Sejak dulu, kapal laut selalu menjadi pilihannya. Selain lebih terjangkau, ia merasa perjalanan dengan kapal memberikan kenyamanan tersendiri.

“Dari dulu selalu naik kapal, karena kalau pesawat ndak ada uangnya. Naik kapal juga nyaman, tinggal duduk, bisa tiduran juga,” katanya sambil tersenyum ringan.

Tahun ini, ia akan menaiki KM Kencana Dharma VII dari Surabaya menuju Makassar. Namun, perjalanan itu belum menjadi akhir. Setibanya di Makassar, ia masih harus melanjutkan perjalanan darat sejauh sekitar 170 kilometer menuju Bulukumba.

Jarak yang panjang, waktu yang tidak sebentar, dan tenaga yang tak sedikit, semuanya dijalani demi satu hal yang bagi Ushar tak tergantikan: silaturahmi.

Di tengah dunia yang semakin cepat dan praktis, Ushar memilih cara yang mungkin dianggap melelahkan oleh sebagian orang. Namun bagi dirinya, perjalanan itu justru menjadi bagian dari makna pulang itu sendiri.

“Yang namanya silaturahmi keluarga itu penting,” ucapnya.

Kalimat itu sederhana, namun terasa dalam. Di baliknya, ada keteguhan seorang lelaki yang tak ingin hubungan keluarga terputus oleh jarak dan waktu.

Sebelum keberangkatan, Ushar mengaku telah merencanakan semuanya jauh-jauh hari, termasuk mengajukan cuti dari pekerjaannya. Ia berharap perjalanan tahun ini berjalan lancar. “InsyaAllah kalau nggak ada halangan dan diberi kesehatan,” pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More