Sidoarjo IDN Times - Kementrian Agama (Kemenag) tengah berkordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mempercepat realisasi penerimaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk para santri. Hal itu disampaikan Wakil Menteri Agama (Wamenag) Republik Indonesia, Romo Muhammad Syafi'i saat menjenguk korban keracunan MBG di RSUD Notopuro, Sidoarjo, Jumat (4/9/2025).
Ia mengatakan, saat ini baru 42 persen dari total seluruh pesantren di Indonesia yang menerima MBG. Untuk itu, pihaknya terus berkoordinasi dengan BGN agar seluruh santri di pesantren dan sekolah madrasah bisa mendapat MBG.
"Kemudian tentang pesantren, kami justru sekarang sedang ngebut, ya. Pak Dirjen Pesantren ini itu kita sudah ngebut agar tidak ada lagi pesantren yang tidak mendapat jatah MBG. Termasuk juga madrasah. Ini terus sedang kita komunikasi dengan Kepala BGN yang baru," ujarnya.
Ia menarget, tahun ini seluruh pesantren dan sekolah madrasah bisa menerima manfaat dari program tersebut. "Kita berharap tahun ini tidak ada lagi madrasah dan pesantren yang tidak mendapat manfaat untuk makan gratis dari MBG," ungkap dia.
Realisasi MBG juga diharapkan dapat diprioritaskan untuk pesantren yang berada di daerah terpencil. Terlebih, saat ini syarat pendirian dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah lembaga pendidikan Kemenenag telah dilonggarkan.
"Jadi, dulu itu kan mesti 3.000 baru bisa bikin dapur. Kalau sekarang pesantren yang santrinya 1.000 atau kurang dikit itu sudah boleh bikin dapur sendiri," ucapnya.
Ia pun menyebut, pengelolaan dapur SPPG telah diperbolehkan dari fasilitas yang sudah ada, asal dapur tersebut telah memenuhi kriteria Sertifikat Laik Higiene Sanitasi.
"Dan tidak perlu prototipe-nya macam SPPG. Cuman meng-update dapur yang ada. Dapur yang ada di-update cuman yang perlu sama itu adalah higienisnya. Tentang pencucian, penyimpanan, dan pembuangan limbahnya. Kalau itu bisa dipenuhi maka pesantren yang santrinya dapat SPPG," pungkas dia.
