Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kondisi Jasad Rusak, Korban Mutilasi Pasar Besar Belum Teridentifikasi

Kota Malang
Kondisi Jasad Rusak, Korban Mutilasi Pasar Besar Belum Teridentifikasi
IDN Times/ Alfi Ramadana
Share Article

Malang, IDN Times - Identitas korban mutilasi Pasar Besar Kota Malang hingga kini masih belum terungkap. Pihak kepolisian masih belum bisa memastikan siapa yang menjadi korban mutilasi dari Sugeng Santoso tersebut. Saat ini pihak kepolisian masih terus berusaha menguak identitas dari korban mutilasi tersebut. 

  1. 1. Korban diduga tunawisma

    IDN Times/ Alfi Ramadana
    IDN Times/ Alfi Ramadana

    Dugaan sementara, korban merupakan tunawisma. Saat ini polisi masih kesulitan untuk mengambil sampel sidik jari korban. Pasalnya, kondisi tubuh korban sudah sudah bengkak dan menghitam. Sementara, potongan tangan korban sudah mengering.

    "Kami masih terus mendalami hal ini. Dugaan sementara korban juga merupakan tunawisma," ucap Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri, Senin (20/5). 

  2. 2. Motif pelaku karena kecewa

    IDN Times/ Alfi Ramadana
    IDN Times/ Alfi Ramadana

    Lebih jauh polisi menjelaskan bahwa motif pelaku melakukan pembunuhan lalu memutilasi adalah karena kecewa. Pasalnya korban menolak saat akan diajak untuk berhubungan badan. Korban beralasan bahwa kondisinya sedang sakit. 

    "Pelaku kecewa karena mengajak berhubungan badan tetapi korban sakit. Sehingga dia tidak bisa melampiaskan hasratnya," tambahnya. 

  3. 3. Pelaku berupaya sembunyikan kejadian sebenarnya

    IDN Times/ Alfi Ramadana
    IDN Times/ Alfi Ramadana

    Kepada polisi, pelaku menceritakan bahwa korban meninggal terlebih dahulu sebelum dimutilasi. Namun demikian, polisi tak begitu saja percaya. Apalagi ditemui beberapa kejanggalan di lokasi kejadian. Salah satunya adalah adanya ceceran darah yang diduga merupakan milik korban mutilasi. 

    Untuk lebih meyakinkan polisi akhirnya menggunakan jasa psikiater. Hasilnya memang sesuai prediksi bahwa pelaku memang menyembunyikan kejadian sebenarnya. 

    "Pelaku menceritakan kejadian secara detail namun diatur sedemikian rupa untuk meyakinkan orang-orang yang bertanya soal kejadian tersebut," tambahnya. 

  4. 4. Pelaku paham dengan resiko perbuatanya

    IDN Times/ Alfi Ramadana
    IDN Times/ Alfi Ramadana

    Tak hanya itu saja, Asfuri menambahkan bahwa berdasarkan keterangan Psikiater bahwa pelaku mengerti bahwa perbuatanya tersebut memiliki risiko. Ia pun berupaya untuk menutupi kejadian sebenarnya untuk meyakinkan orang-orang termasuk pihak kepolisian. 

    "Perilaku memahami risiko dari perbuatanya," tandasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More