Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ketidakharmonisan Keluarga Dituding Penyebab Perundungan di Batu
Kepala Sekolah SMPN 2 Kota Batu, Ida Misaroh. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Batu, IDN Times - Kejadian perundungan yang berujung pada kematian RKA (12), warga Jalan Bromo Gang 4 RT 4/ RW 7  Nomor 4A, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu Jawa Timur, telah menarik perhatian masyarakat. Sorotan tajam tertuju pada SMPN 2 Kota Batu, karena korban dan keempat pelaku merupakan murid di sekolah tersebut.

Kepala Sekolah SMPN 2 Kota Batu Ida Misaroh akhirnya memberikan tanggapannya terkait kejadian ini. Dia mengungkapkan bahwa keempat pelaku memang dikenal sebagai siswa nakal di sekolah.

1. Kepala Sekolah SMPN 2 Kota Batu ungkap jika para pelaku jadi nakal karena keluarga tak harmonis

Kepala Sekolah SMPN 2 Kota Batu, Ida Misaroh. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Ida mengungkapkan bahwa para pelaku perundungan memang dikenal sebagai siswa nakal di sekolah. Mereka sering bolos dan mengganggu siswa lain yang sedang belajar dengan serius. Selain itu, mereka juga terlibat dalam kekerasan terhadap siswa lainnya, sehingga sering kali berurusan dengan Guru BK (Bimbingan Konseling).

"Para pelaku ini sering melakukan perilaku nakal, bahkan ada yang pernah diusir dari rumah. Mereka sering melakukan tindakan kekerasan, seperti memukul teman-temannya, mengganggu, dan sebagainya. Namun, saat berada di sekolah, mereka terlihat seperti anak yang baik. Namun, setelah pulang dari sekolah, perilaku mereka kembali kepada keluarga," terangnya saat dikonfirmasi pada Sabtu (1/6/2024).

Ida juga mendapatkan informasi bahwa perilaku nakal para pelaku perundungan ini disebabkan oleh hubungan yang tidak harmonis antara orang tua mereka. Mereka sering menyaksikan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di rumah, yang menyebabkan perilaku agresif pada mereka.

"Kami mendapat informasi dari tetangga bahwa perilaku keras para pelaku ini disebabkan oleh seringnya mereka menyaksikan kekerasan ayah terhadap ibu di rumah. Oleh karena itu, kami sangat menekankan pentingnya pendidikan dari rumah, karena anak-anak tersebut sudah merasakan stres melihat ibu mereka dipukul oleh ayah mereka," jelasnya.

"Kami sudah berusaha melakukan banyak kegiatan di sekolah yang bertujuan mendidik karakter anak-anak. Namun, setelah mereka pulang dari sekolah, kami tidak tahu apa yang mereka lakukan," tambahnya.

2. Pihak sekolah baru tahu korban dihajar pada hari Jumat

Kepala Sekolah SMPN 2 Kota Batu, Ida Misaroh. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Dia menyebutkan bahwa pada hari Rabu (29/5/2024), kegiatan di SMPN 2 Kota Batu berakhir pada pukul 11.30 WIB karena saat itu merupakan minggu-minggu ujian. Oleh karena itu, mereka tidak dapat memantau siswa setelah pulang sekolah.

Ida mengatakan bahwa pihak sekolah baru mengetahui bahwa korban telah dihajar oleh para pelaku pada Jumat (29/5/2024) pagi, saat ibu korban menghubungi sekolah untuk memberitahu bahwa korban sakit dan tidak dapat mengikuti ujian. Pihak sekolah kemudian memanggil adik kembar korban untuk menanyakan penyebab sakitnya korban. Namun, adik korban awalnya enggan bercerita karena merasa takut, namun akhirnya bersedia setelah dijamin keamanannya oleh pihak sekolah.

"Kami perlu menyosialisasikan bahwa anak-anak yang merasa takut seperti ini perlu dilindungi. Anak-anak yang takut untuk mengungkapkan atau menyampaikan harus kita bela. Kami sangat terkejut ketika mengetahui siapa pelaku di balik kejadian ini. Kami mencari informasi dari anak yang melakukan pemukulan, dan ternyata pelaku bukanlah anak yang besar, melainkan yang lebih kecil," jelasnya.

3. Ibu pelaku sempat pingsan saat tahu perilaku anaknya

Konferensi pers kasus perundungan menyebabkan kematian di Kota Batu. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Setelah mengetahui siapa para pelaku, Ida kemudian memanggil orang tua dari masing-masing pelaku secara individual. Dia kemudian menjelaskan kepada mereka tentang kejadian yang menyebabkan RKA meninggal dunia. Salah satu orang tua bahkan mengalami syok dan pingsan setelah mendengar kisah tersebut.

"Kami memanggil orang tua, salah seorang ibu melihat kami menginterogasi anaknya, dan ketika anaknya menceritakan kejadian tersebut, ibunya sampai pingsan. Kami kemudian memberikan perawatan kepada ibu tersebut, lalu kami memanggil keluarga lain. Sementara itu, ibu yang pingsan kami suruh untuk pulang dulu," tandasnya.

Terakhir, Ida berharap agar orang tua dapat lebih ketat dalam mengawasi anak-anak mereka. Dengan demikian, kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi pada para siswa di Kota Batu.

Curated For You

Editorial Team

Related Article