Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Keracunan MBG di Sidoarjo, Belum ada Pihak yang Ditetapkan Tersangka
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi. (IDN Times/Khusnul Hasana)
  • Sebanyak 748 orang keracunan setelah menyantap MBG di Sidoarjo; mayoritas siswa dan santri mengalami muntah sejak Selasa siang, dengan penanganan medis masih berlangsung hingga Jumat.
  • BGN menghentikan sementara operasional dapur SPPG Kalitengah, Tanggulangin, serta mencopot kepala SPPG sambil menginvestigasi penyebab kejadian.
  • Belum ada tersangka dalam kasus ini. BGN menyatakan pelanggaran hukum akan ditindaklanjuti dan dapur yang melanggar SOP dapat dihentikan permanen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sidoarjo, IDN Times - Sebanyak 748 orang menjadi korban keracunan usai makan makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo. Meski demikian, sampai saat ini, beluk ada pihak yang ditetapkan tersangka atas peristiwa tersebut.

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Meyjen TNI (Purn) Trenggono mengatakan, BGN telah menindak dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin. Dapur tersebut telah dihentikan operasionalnya untuk sementara waktu dan Kepala SPPG juga telah dicopot.

"Suspend ini dalam artian kami melakukan evaluasi dan investigasi. Kemudian, kepala dapur juga kami copot dan diberhentikan. Nanti kami akan mengecek apakah ada unsur lain yang kira-kira menyebabkan kejadian fatal ini," ucapnya.

Trenggono memastikan sampai saat ini belum ada pihak yang ditetapkan tersangka. Pihaknya kini sedang konsentrasi terhadap kesembuhan korban.

"Sementara masih dalam tahap investigasi. Untuk tersangka, sementara belum ada. Kami lebih fokus pada penanganan korban atau masyarakat yang terdampak terlebih dahulu," jelasnya.

Meski begitu, proses investigasi terhadap penyebab keracunan terus berlangsung. Bila ditemukan unsur kesengajaan, pihaknya akan menindaklanjuti sesuai dengan ketentuan yang ada.

"Masih kami investigasi. Kalau nanti ditemukan unsur pelanggaran hukum, tentunya akan kami tindak lanjuti sesuai dengan ketentuan yang berlaku," ucapnya.

Trenggono menyebut, selama ini proses pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG dilakukan dengan ketat. Bahkan, setiap hari pihaknya selalu menggelar rapat secara daring untuk memastikan program berjalan baik dan tak ada unsur kelalaian.

"Kami membagi pejabat eselon II di BGN sebagai penanggungjawab di setiap provinsi untuk melakukan pengecekan secara langsung melalui zoom. Mulai dari penerimaan bahan mentah, pengecekan baik atau tidaknya bahan-bahan tersebut, hingga kegiatan di dapur. Bahkan sampai sekitar pukul 02.00 dini hari, ada kegiatan mulai dari pembersihan bahan, memasak, hingga pendistribusian," ungkap dia.

Trenggono juga memastikan bahwa seluruh SPPG telah dibekali standar operasional prosedur (SOP). Bila SOP diterapkan dengan baik, ia yakin kejadian keracunan bisa dihindari.

"Jadi, SOP sebenarnya sudah ada. Tinggal bagaimana SOP tersebut dilaksanakan di masing-masing dapur. Saya yakin dan percaya, kalau SOP dilaksanakan dengan baik, kejadian seperti ini tidak akan terjadi," terang dia.

Saat ini total dapur SPPG di Indonesia mencapai 27.485. Setiap hari dilakukan pemantauan dan pengawasan.

"Jumlah dapur kita ada 27.485. Semuanya kami lakukan pengecekan melalui Zoom dari pusat. Setiap kejadian keracunan mayoritas kami cek dan evaluasi karena kemungkinan disebabkan oleh kelalaian atau ketidakpatuhan terhadap SOP," jelasnya.

BGN akan secara tegas akan menghentikan secara permanen SPPG yang tidak mematuhi SOP. Hal ini agar kejadian keracunan tak terjadi lagi.

"Makanya kita lihat. Apabila nanti dapur tidak melaksanakan SOP dengan baik, ada unsur kesengajaan, dan tidak sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan BGN, maka bisa kami suspend secara permanen," pungkas dia.

Sekadar diketahui, petaka keracunan makanan massal para siswa dan santri Ponpes Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo ini terjadi usai menyantap menu MBG pada Selasa 1 September 2026, saat jam makan siang pukul 13.00 WIB. Kemudian para siswa mayoritas SMP dan SMA ini mengeluhkan muntah dan bertumbangan setelah Asar sekitar pukul 15.00 WIB.

Tim dari Dinkes kemudian merujuk ratusan siswa itu ke sejumlah rumah sakit mulai Selasa sore hingga Rabu 2 September 2026 dan berlanjut Kamis 3 September 2026. Penanganan masih dilakukan hingga hari ini, Jumat 4 September 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article