Surabaya, IDN Times - Kekeringan di Jawa Timur (Jatim) terus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Hingga kini, sebanyak 24 kabupaten/kota telah menetapkan status siaga darurat maupun tanggap darurat kekeringan. Dari jumlah tersebut, Bangkalan, Sumenep, dan Pamekasan menjadi wilayah dengan dampak paling besar dan mendapat perhatian khusus.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim, Gatot Soebroto mengatakan, kondisi kekeringan masih terjadi di sejumlah daerah dan penanganan terus dilakukan, terutama di wilayah yang membutuhkan pasokan air bersih dalam jumlah besar.
“Untuk kekeringan, hingga hari ini masih sama jumlah yang mengusulkan dan mengeluarkan status, baik itu siaga darurat maupun tanggap darurat, sebanyak 24 kabupaten/kota,” ujarnya.
Dari 24 daerah tersebut, sebanyak 20 kabupaten telah menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak. Namun, BPBD Jatim mencatat ada tiga wilayah yang menjadi perhatian utama karena jumlah masyarakat dan wilayah terdampaknya cukup besar, yakni Bangkalan, Sumenep, dan Pamekasan. “Dari 24 tersebut, yang sudah mengeluarkan dan sudah menyalurkan air bersih itu 20 kabupaten. Dari jumlah tersebut yang menjadi perhatian dan yang terdampak terbanyak wilayah Bangkalan dan Sumenep serta Pamekasan,” bebernya.
Besarnya dampak kekeringan membuat penanganan tidak hanya mengandalkan distribusi air dari masing-masing daerah. Pemprov Jatim melalui BPBD juga telah mengerahkan bantuan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat di wilayah terdampak tetap terpenuhi.
Hingga saat ini, bantuan yang telah digelontorkan mencapai 5.410 rit air bersih. Selain itu, sekitar 1.400 tandon telah disiapkan untuk menampung dan memudahkan distribusi air kepada masyarakat.
BPBD Jatim juga menyiapkan sejumlah perlengkapan pendukung lainnya, termasuk tandon lipat dan terpal, untuk memperkuat penanganan di daerah yang mengalami krisis air akibat kekeringan.
