Probolinggo, IDN Times - Karya seni rupa seniman Pasuruan, Jawa Timur turut memeriahkan pameran BROMOPEDIA: A Landscape of Signs. Pameran ini merupakan rangkaian acara BRI Jazz Gunung Bromo 2026 yang bekerjasama dengan Direktur Pascasarjana Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Fajar Aprianto.
Pameran yang digelar Yayasan Sanetra ini berlangsung di Jiwa Jawa Resort Bromo mulai 18 Juli hingga 31 Agustus 2026 dan terbuka untuk umum tanpa tiket masuk. Selain bekerjasama dengan ISI Yogyakarta, Bromopedia juga bekerjasama dengan Kelompok Derik, Pasuruan.
Setidanya ada sebanyak 36 karya dari 28 seniman yang turut memeriahkan pameran tersebut. Karya seni rupa ini menampilkan kekayaan indahnya Gunung Bromo berbalut dengan budaya dan ekologi.
Selain menghadirkan karya-karya di ruang galeri Jiwa Jawa Resort Bromo, BROMOPEDIA juga akan menampilkan tiga karya instalasi luar ruang yang ditempatkan di kawasan penyelenggaraan BRI Jazz Gunung Bromo 2026. Instalasi tersebut menjadi bagian dari pengalaman festival, mempertemukan seni visual dengan lanskap pegunungan Bromo dan atmosfer pertunjukan musik dalam satu kesatuan ruang apresiasi.
Founder Jazz Gunung, Sigit Pramono mengatakan, Bromopedia hadir untuk memberi ruang bagi para seniman bahwa Gunung Bromo bukan hanya sebagai tempat wisata tapi juga tempat untuk menuangkan ekspresi dan karya.
"Bromo adalah tempat, ruang untuk orang berekspresi dan menampilkan karya-karyanya ya. Orang enggak sadar bahwa itu termasuk pameran seni rupa tertinggi di Indonesia. Akan diselenggarakan di 2.000 meter di atas permukaan laut ya," ujarnya. Ia berharap agar Bromopedia menjadi ruang ruang regenerasi seniman, terutama seniman di yang lahir dari Tengger.
Sementara itu, Fajar Aprianto mengatakan, dalam karya seni ini, seniman berbica tentang debu, kabut hingga kawah api Bromo melalui seni. Karya-karya tersebut hadir dalam berbagai makna tentang keindahan Bromo, baik landskap alam maupun budayanya.
"Kami menghadirkan beberapa karya visual, baik itu berupa fotografi, kemudian ada seni rupa, ada patung di situ, kemudian ada eh seni lukis dan sebagainya," terang dia. Fajar pun berharap agar pameran ini tidak berhenti di sini. ISI ingin terus berkolaborasi dengan Jazz Gunung.
