Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Misteri Kematian Prajurit TNI AU Asal Magetan, Awalnya Disebut Kecelakaan

Kab. Magetan
Misteri Kematian Prajurit TNI AU Asal Magetan, Awalnya Disebut Kecelakaan
Foto almarhum, Serda Ahmad Muzammil Farisa, anggota TNI Angkatan Udara (AU) asal Kabupaten Magetan. IDN Times/Riyanto.
  • Serda Ahmad Muzammil Farisa, prajurit TNI AU berusia 22 tahun asal Magetan, meninggal setelah diduga dianiaya di Mess Psikologi Galaksi, Kompleks Lanud Halim Perdanakusuma.
  • Keluarga awalnya menerima informasi korban mengalami kecelakaan saat pembinaan senior, sebelum Dinas Psikologi TNI AU menyampaikan kematian tersebut berkaitan dengan dugaan penganiayaan.
  • Keluarga meminta autopsi dan penyelidikan transparan setelah menerima foto luka di dagu serta lebam dada, serta berharap pihak terlibat diperiksa dan diproses hukum.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Magetan, IDN Times - Kematian Serda Ahmad Muzammil Farisa, anggota TNI Angkatan Udara (AU) asal Kabupaten Magetan, Jawa Timur, menyisakan tanda tanya bagi keluarganya.

Prajurit berusia 22 tahun yang bertugas di Dinas Psikologi TNI AU itu meninggal dunia setelah diduga menjadi korban penganiayaan di Mess Psikologi Galaksi, Kompleks Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Jenazah Ahmad dipulangkan ke rumah duka di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan. Jenazah tiba pada Jumat (11/9/2026) sekitar pukul 01.00 WIB dan kemudian langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) yang berada tak jauh dari rumah duka.

Ayah korban, Toni Eko Prasetyo, mengatakan informasi pertama yang diterima keluarga menyebut Ahmad mengalami kecelakaan saat menjalani pembinaan senior.

Namun, informasi tersebut kemudian berubah. Pada Kamis (10/9/2026) pagi, keluarga mendapat informasi dari pihak Dinas Psikologi TNI AU, tempat Ahmad bertugas, bahwa kematian putranya berkaitan dengan dugaan penganiayaan.

"Awalnya kami ditelepon bahwa ada informasi kecelakaan. Namun akhirnya dari Dinas Psikologi, tempat anak kami bekerja, diputuskan informasinya adalah penganiayaan," ujar Toni, Jumat siang.

Perubahan informasi tersebut membuat keluarga meminta agar jenazah Ahmad menjalani autopsi. Menurut Toni, langkah itu dilakukan untuk mengetahui secara pasti penyebab kematian putranya.

Toni mengatakan Ahmad sempat mendapatkan perawatan medis sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia. Setelah proses autopsi selesai, jenazah kemudian dipulangkan ke Magetan. Namun, keluarga mengaku tidak diperbolehkan melihat kondisi jenazah secara utuh.

Keluarga hanya diperbolehkan membuka bagian wajah untuk memastikan identitas korban sebelum jenazah diberangkatkan menuju TPU.

"Kami merasa kehilangan sekali. Anak kami baru dua tahun dinas di bagian psikologi TNI AU," kata Toni.

Selain informasi mengenai dugaan penganiayaan, keluarga juga menerima foto kondisi Ahmad. Dari foto tersebut, Toni menyebut terdapat luka di bagian dagu serta lebam pada bagian dada korban.

Meski demikian, keluarga menyerahkan proses penyelidikan kepada pihak berwenang. Mereka berharap penyebab kematian Ahmad dapat diungkap secara menyeluruh, termasuk mengetahui rangkaian peristiwa yang terjadi sebelum korban meninggal dunia.

"Kami berharap kasus ini benar-benar diusut tuntas, diproses secara adil, dan pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai dengan perbuatannya," ujarnya.

Toni menegaskan keluarga tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri mengenai siapa yang bertanggung jawab. Mereka meminta seluruh pihak yang diduga mengetahui atau terlibat dalam peristiwa tersebut diperiksa sesuai ketentuan hukum.

Toni berharap kasus kematian anaknya mendapat perhatian serius dari pimpinan TNI AU hingga Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, Ahmad masih berusia 22 tahun dan baru sekitar dua tahun menjalani tugas sebagai anggota TNI AU.

"Kami memohon kepada Panglima TNI, Kepala Staf TNI AU, dan Bapak Presiden Prabowo agar kasus ini menjadi atensi khusus. Ini menyangkut nyawa manusia, terlebih anak kami masih berusia 22 tahun," ujarnya.

Keluarga berharap proses hukum berjalan transparan dan seluruh fakta mengenai kematian Ahmad dapat terungkap.

"Kami berharap pelakunya bisa diusut tuntas dan dihukum seberat-beratnya, setimpal dengan perbuatannya," pungkas Toni.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More