Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kali Surabaya Belum Tamat, 34 Spesies Ikan Masih Bertahan Lawan Polusi
Aktivis lingkungan kampanyekan peduli Kali Brantas - Kali Surabaya. Dok. Ecoton.

Surabaya, IDN Times - Di tengah tekanan pencemaran limbah industri, sampah plastik, hingga maraknya mikroplastik, Kali Surabaya ternyata masih menyimpan tanda-tanda kehidupan. Penelitian terbaru menemukan sedikitnya 34 spesies ikan masih bertahan hidup di sungai yang menjadi sumber air baku jutaan warga Jawa Timur (Jatim) tersebut.

Temuan itu menjadi modal penting bagi upaya pemulihan kualitas Kali Surabaya dan Kali Brantas yang selama ini dikenal sebagai salah satu sungai paling vital di Jatim. Direktur Posko Ijo, Rulli Mustika Adya mengatakan, keberadaan puluhan spesies ikan menunjukkan ekosistem sungai belum sepenuhnya rusak dan masih memiliki peluang untuk dipulihkan.

"Kali Brantas dan Kali Surabaya masih memiliki potensi untuk pulih dan kembali menjadi habitat ikan. Temuan 34 spesies ikan di Kali Surabaya dan 42 spesies ikan di Kali Brantas menjadi modal kuat bagi masyarakat Jawa Timur untuk memperbaiki kualitas air sungai," ujarnya, Minggu (31/5/2026).

Temuan tersebut mendorong sejumlah organisasi lingkungan menggelar kegiatan Ngintir Kali Surabaya 2026, yakni menyusuri aliran sungai untuk memantau kondisi ekosistem sekaligus mengidentifikasi sumber pencemaran.

Kegiatan yang melibatkan Aliansi Komunitas Penyelamat Bantaran Sungai (Akamsi), Ecoton, Posko Ijo, River Warrior dan TitikTerang itu akan fokus mengidentifikasi limbah industri, timbulan sampah plastik, bangunan liar di bantaran sungai, hingga melakukan pengujian kualitas air dan kandungan mikroplastik.

Langkah itu dilakukan karena ancaman terhadap ekosistem Kali Surabaya dinilai semakin serius. Mikroplastik yang berasal dari industri daur ulang plastik, limbah rumah tangga, serta alih fungsi bantaran sungai menjadi kawasan permukiman dan industri disebut menjadi ancaman utama bagi keberlangsungan populasi ikan air tawar.

Koordinator Ronda Sungai Ecoton, Alaika Rahmatullah mengungkapkan, kondisi pencemaran sungai bahkan sempat berdampak langsung kepada tim pemantau saat melakukan ronda sungai pada 2025 lalu.

"Ketika menyusuri Kali Surabaya tahun lalu, di kawasan Karangpilang air sungai berbau menyengat sehingga perjalanan harus dilanjutkan menggunakan perahu. Bahkan ada anggota tim yang mengalami infeksi hingga telinganya membengkak setelah terpapar air sungai," katanya.

Meski demikian, penelitian yang dilakukan pada Maret 2026 juga menemukan kabar menggembirakan. Dari 34 spesies ikan yang ditemukan di Kali Surabaya, tiga di antaranya merupakan ikan endemik Pulau Jawa, yakni ikan rengkik atau baung (Hemibagrus nemurus), lele Jawa (Clarias batrachus), dan wader bintik-bintik (Barbodes binotatus).

Menurut Rulli, keberadaan spesies endemik tersebut menjadi indikator bahwa proses pemulihan sungai masih memungkinkan dilakukan jika pencemaran dapat ditekan secara serius.

Sementara itu, aktivis Akamsi Jofan Ahmad Arianto menyoroti masih adanya industri yang memanfaatkan air Kali Brantas sebagai bahan baku produksi, namun belum sepenuhnya berkontribusi terhadap pemulihan kualitas sungai.

"Selain menjadi sumber air baku PDAM dan irigasi pertanian, ada ratusan industri besar yang menggunakan air Kali Brantas. Sayangnya masih ditemukan pembuangan limbah yang menyebabkan kematian ikan secara massal," ungkapnya. Ia meminta dunia usaha ikut mengambil peran lebih besar dalam menjaga kualitas sungai yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Jatim.

Sebagai bentuk kampanye penyelamatan sungai, rangkaian kegiatan Ngintir Kali Surabaya mengusung tema "Brantas Pulih, Rengkik Kembali". Aksi tersebut akan ditutup dengan pertunjukan teatrikal di Gedung Negara Grahadi pada 5 Juni 2026 bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Editorial Team

Related Article