Kafe Pustaka, Tempat Nongkrong Berkonsep Literasi di Malang

- Kafe Pustaka menjadi tempat nongkrong berkonsep literasi di Malang, menarik para profesional dan guru besar untuk berdiskusi tentang dunia literasi, sosial, dan politik.
- Kafe Pustaka telah pindah ke lokasi baru di Jalan Pekalongan Nomor 1, Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang sejak 5 November 2024.
- Jam buka Kafe Pustaka lebih fleksibel setelah pindah lokasi baru, jumlah pengunjung meningkat, konsep literasi tetap dipertahankan dengan mendukung komunitas-komunitas literasi untuk membuat acara di kafe tersebut.
Malang, IDN Times - Kafe Pustaka sejak lama menjadi salah satu ikon di Universitas Negeri Malang (UM) sebagai kafe dengan konsep literasi dan dijadikan tempat berdiskusi. Kafe Pustaka tidak hanya jadi tempat nongkrong mahasiswa di Kota Malang, kafe ini kerap kali jadi tempat berkumpulnya para profesional hingga guru besar di Kota Malang. Semangat literasi yang dibangun menjadi daya tarik untuk berdiskusi tentang dunia literasi, sosial, maupun politik.
"Mungkin dari sini jadi banyak juga anak muda yang mendengarkan, jadi secara tidak langsung mendapat kuliah dari guru besar atau teman-teman profesional lain," ujar pemilik Kafe Pustaka, David Argianto, Senin (26/1/2026).
David menyebut bahwa tiap bulan pasti ada acara literasi di Kafe Pustaka. Meskipun jadwalnya tidak pasti, tapi menurutnya pasti selalu ada komunitas yang membuat acara di tempatnya.
"Bisanya di sini sering ada kelas soal penulisan puisi, cerpen, novel, dan feature. Tapi sekarang masih libur, kemungkinan bulan depan akan mulai lagi. Kegiatan seperti ini biasanya menyesuaikan pembicaranya, jadi jadwalnya gak rutin, tapi setiap bulan pasti ada," pungkasnya.

Tapi perlu diketahui kini Kafe Pustaka telah pindah ke Jalan Pekalongan Nomor 1, Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang sejak 5 November 2024. Meskipun tidak lagi berada di lingkungan kampus UM lagi, lokasi yang sekarang berasa di antara UM dan Universitas Brawijaya (UB), sehingga lebih mudah dijangkau oleh kedua kampus ini.
"Yang terpenting itu masih terjangkau sama teman-teman di UM atau UB. Tapi kalau simpelnya, karena lokasinya masih berdekatan dengan sekolah anak saya," terangnya diikuti gelak tawa.
Selain itu, ia mengungkapkan jika kini jam buka Kafe Pustaka jadi lebih fleksibel sejak pindah ke lokasi baru. Ini membuat jumlah pengunjung kafe menjadi lebih banyak dibandingkan sebelumnya.
"Kalau sebelumnya kan tidak boleh sampai malam, jadi kalau tidak ada acara diskusi harus tutup kalau malam, sekarang bukan jam 8 pagi sampai jam 10 malam. Jadi kalau sebelumnya di UM ramainya siang, sekarang ramainya dari sore sampai malam," jelasnya.

David juga menegaskan, jika konsep literasi yang diusung Kafe Pustaka tetap dipertahankan meskipun tidak lagi menempati sudit Perpustakaan UM. Ia juga tetap mendukung komunitas-komunitas literasi untuk membuat acara di Kafe Pustaka.
"Sejak awal kan memang visi misi kita untuk memberikan ruang dan rumah bagi teman-teman komunitas. Jadi dari awal kita membangun lingkungan sistemik bagi teman-teman komunitas dari berbagai bidang mulai sastra, sejarah, olahraga, teknologi, biologi, matematika, seni, dan sebagainya. Kita gandeng agar semua bisa saling bekerjasama," ujarnya.
Ia juga menjelaskan jika Kafe Pustaka membebaskan setiap komunitas untuk membuat acara mulai bedah buku sampai diskusi publik. Ia juga menyampaikan jika komunitas-komunitas ini tidak akan dipungut biaya atau dibebankan minimal order.
"Persyaratannya hampir gak ada, mereka cukup datang izin lalu buat poster dan sebar. Mungkin juga karena tempatnya terbatas, kita batasi sekitar 50-60 orang saja. Soalnya tempat parkirnya gak seluas sebelumnya," ucapnya.


















