Jokowi Beri Waktu Dua Minggu, Gugas Jatim: Masih Memprihatinkan

Surabaya, IDN Times - Presiden RI Joko "Jokowi" Widodo memberikan waktu dua pekan bagi Jawa Timur untuk mengendalikan penularan COVID-19. Namun rasanya, permintaan tersebut gagal dikabulkan lantaran kondisi kasus COVID-19 yang tetap parah.
"Pak Presiden pernah berkunjung ke Jatim. Kita diminta dalam dua minggu bisa mengendalikan penambahan kasus. Tapi rasanya ini masih terus naik kasusnya," ujar Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Jatim dr Joni Wahyuhadi saat webinar yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Universitas Airlangga, Senin (6/7/2020).
1. Kasus terus meningkat di Jatim

Joni mengatakan bahwa kondisi di Jatim masih belum membaik melihat penambahan kasus COVID-19 yang tetap tinggi setiap harinya. Belakangan ini, rata-rata tambahan kasus mencapai 300-400 kasus. Selain itu, tingkat kesembuhan dan kematian di Surabaya Raya juga masih memperihatinkan.
"82,1 persen dari masalah di Jatim ada di Surabaya Raya. Jumlah kesembuhan memang makin lama makin naik. Case-nya terus naik. Tapi angka kesembuhannya naik juga walau kematiannya juga naik. Tapi recovery rate-nya naik lebih banyak meski masih di bawah nasional," tutur Joni.
2. Tingkat kesembuhan di Surabaya meningkat signifikan

Di Kota Surabaya, Joni mencatat ada perkembangan positif pada angka kesembuhan yang terus naik secara signifikan. Berdasarkan data Joni, hingga 4 Juli, angka kesembuhan di Surabaya naik dari 34,1 menjadi 45,6 persen dalam waktu kurang dari dua pekan. Namun naiknya kasus dan tingkat kesembuhan ini juga diikuti naiknya tingkat kematian dari 7,61 menjadi 7,87 persen.
"Kesembuhannya cukup tinggi bahkan dari hari ke hari cukup naik. Kematiannya juga naik. Tapi naiknya lebih tinggi kesembuhannya," sebutnya.
3. Kesembuhan di Sidoarjo menurun

Sedangkan di Kabupaten Sidoarjo, kondisinya lebih parah. Angka kesembuhan menurun sementara kasus terus meningkat. Di Sidoarjo, tingkat kesembuhan turun dari 15,89 jadi 13,95 persen. Sementara tingkat kematian juga turun dari 8,1 menjadi 6,31 persen.
"Sidoarjo perlu mendapat perhatian yang lebih karena kesembuhannya cenderung menurun. Cuma 13,59 persen. Kematiannya juga turun tapi penurunan case recovery ratenya lebih besar," ucapnya.
4. Gresik adalah daerah terparah

Kondisi paling parah terjadi di Kabupaten Gresik. Tingkat kesembuhan di Gresik terjun bebas dari 13,7 menjadi 10,95 persen. Ditambah lagi, tingkat kematian Gresik adalah yang tertinggi dibanding Surabaya dan Sidoarjo yaitu 10,25 persen.
"Gresik harus betul-betul dapat perhatian. Case recovery rate-nya cenderung turun. Kematiannya juga turun tapi tidak signifikan. Ini sesuatu yang menjadi permasalahan," ungkap Joni.
Joni menilai bahwa banyaknya pabrik dan komunitas masyarakat membuat kasus COVID-19 di Gresik terus bertambah. Selain itu di sana hanya terdapat satu rumah sakit rujukan yaitu RSUD Ibnu Sina sehingga penanganan pasien tidak bisa optimal.
"Kini tengah dikembangkan RS Ibnu Sina. Nanti juga RS Petro dan RS Semen mungkin bisa membantu jadi rujukan. Dari 3 daerah ini fokusnya di gresik untuk dibenahi sisi pelayanannya," pungkas Joni.















