Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ITS Kembangkan Baterai Isi Ulang Aluminium-Udara Berbasis air
Uji coba hydro-aluminium, inovasi ITS. (Dok. Humas ITS)
  • Tim ITS mengembangkan AluBayu, baterai isi ulang aluminium-udara berbasis air dengan sistem dual-hydrogel, sebagai solusi penyimpanan energi yang aman dan ramah lingkungan.
  • Komponen AluBayu memanfaatkan aluminium, sabut kelapa, NaCl air laut, nikel, dan besi; dua elektrolit berbeda mengoptimalkan reaksi aluminium dengan oksigen udara.
  • Prototipe 20 sel menghasilkan tegangan nominal 11,6 Volt; Pertamina mendukung hilirisasi untuk perangkat darurat, meski daya tahan baterai masih perlu ditingkatkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Tim peneliti dari Laboratorium Elektrokimia dan Korosi, Departemen Teknik Kimia ITS Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan baterai hydro-aluminium, yakni baterai isi ulang aluminium-udara berbasis air atau hydro-aluminium bernama AluBayu.

Baterai dengan sistem dual-hydrogel tersebut diproyeksikan sebagai solusi penyimpanan energi masa depan yang aman dan ramah lingkungan. Inovasi teknologi yang mendapatkan dukungan pendanaan oleh PT Pertamina Persero itu merupakan pengembangan strategis dalam mendukung kemandirian teknologi nasional.

Sementara itu, Prof Dr Ir Heru Setyawan MEng selaku ketua tim peneliti menuturkan bahwa komponen dalam teknologi yang dikembangkannya menyerap sumber daya biomassa lokal. Beberapa di antaranya adalah anoda dari aluminium, elektronik padat dari gel polymer electrolyte yang terbuat dari sabut kelapa, serta elektronik cair yang memanfaatkan NaCl dari air laut. Selain itu, terdapat juga komponen katoda yang bersumber dari nikel dan besi.

Melalui pemanfaatan komponen-komponen tersebut, AluBayu menawarkan keunggulan dalam penggunaan sistem elektrolit ganda berperekat padat. Sistem tersebut memisahkan jenis elektrolit antara kutub anoda yang merupakan kutub negatif dan katoda sebagai kutub positif.

“Pemanfaatan dua jenis elektrolit yang berbeda itu berfungsi dalam mengoptimalkan reaksi kimia antara logam aluminium dan oksigen udara,” terang Guru Besar Teknik Kimia ITS tersebut.

Saat ini, satu modul prototipe AluBayu terdiri dari 20 sel berukuran kompak yakni 4x6 cm dengan bobot sekitar 20,2 gram. Modul tersebut dijelaskan mampu menghasilkan tegangan nominal sekitar 11,6 Volt dengan nilai arus dan daya eksisting sekitar 0,15 mA. Dengan spesifikasi tersebut, baterai ini dinilai memiliki prospek utilitas yang sangat tinggi untuk aplikasi spesifik.

Senior Specialist Technology Innovation Downstream dan New Energy PT Pertamina Persero Haryo Satriya pun menilai bahwa Pertamina melihat inovasi ini sebagai baterai masa depan. “Dengan keunggulannya yang ringan dan berbasis bahan baku ramah lingkungan, AluBayu sangat potensial untuk diaplikasikan pada perangkat penunjang darurat,” ungkap Haryo.

Untuk keberlanjutan, PT Pertamina sebagai mitra berkomitmen dalam mendukung pengembangan AluBayu hingga masuk ke tahap hilirisasi. Namun, Haryo memberikan beberapa catatan yang masih harus terus dikembangkan, salah satunya yakni daya tahan baterai yang masih lemah. “Prototipe yang ada akan kita bawa ke Jakarta untuk ditelaah dan dikaji lebih lanjut bersama arah kebijakan manajemen perusahaan,” tuturnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article